Adab Menyampaikan Ilmu: Tanggung Jawab Dakwah dengan Hikmah dan Hikayat yang Benar

Menyampaikan ilmu dan berdakwah di jalan Allah merupakan tugas mulia yang diwariskan oleh para nabi. Namun, tugas suci ini memikul tanggung jawab yang besar, karena seorang penyampai ilmu pada hakikatnya sedang berbicara atas nama syariat, sehingga ia dituntut untuk berhati-hati, jujur, dan penuh kebijaksanaan.

Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk berdakwah, tetapi juga menggariskan adab dan metode (manhaj) yang ketat dalam penyampaiannya. Mulai dari pendekatan yang lembut, kejujuran lisan, hingga keharusan menyeleksi kisah-kisah yang disampaikan kepada masyarakat. Berikut adalah panduan syariat mengenai adab menyampaikan ilmu dan hikayat (kisah) yang benar.

Tanggung Jawab dan Adab Menyampaikan Ilmu

1. Berdakwah dengan Hikmah dan Nasihat yang Baik

Syarat utama dalam menyampaikan ilmu adalah menggunakan pendekatan yang penuh hikmah. Seorang da’i tidak diperkenankan berbicara dengan bahasa yang kasar atau memojokkan, melainkan harus menempatkan sesuatu pada posisinya yang tepat.

📖 Al-Qur’an

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ…

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Dalam penjelasan Tafsir As-Sa’di, makna “hikmah” adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Termasuk di dalamnya adalah berbicara kepada setiap orang sesuai dengan keadaan, pemahaman, dan tingkat penerimaan mereka. Nasihat yang baik adalah nasihat yang disampaikan dengan penuh kelembutan, yang memadukan antara anjuran (targhib) dan peringatan (tarhib) tanpa membuat orang merasa diserang.

2. Berbicara Sesuai Kadar Pemahaman Manusia

Seorang penyampai ilmu harus cerdas dalam mengukur tingkat pemahaman pendengarnya (audiens). Menyampaikan materi yang terlalu rumit atau filosofis kepada orang awam justru dapat memicu kebingungan, fitnah, dan salah paham terhadap agama.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat emas yang terekam dalam kitab Shahih Bukhari. Beliau berkata: “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?” Hal ini menegaskan bahwa kebenaran pun harus disampaikan dengan takaran yang tepat agar tidak menimbulkan penolakan akibat ketidakmampuan akal pendengar dalam mencernanya.

3. Tidak Membebani Diri dan Berani Berkata “Allah Lebih Mengetahui”

Adab luhur lainnya bagi seorang penyampai ilmu adalah tidak menjadi orang yang dibuat-buat (mutakallifin) atau memaksakan diri menjawab sesuatu yang tidak ia ilmui. Allah Ta’ala berfirman memerintahkan Nabi-Nya:

📖 Al-Qur’an

قُلۡ مَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُتَكَلِّفِينَ ﴿٨٦﴾

“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu atas dakwahku ini dan aku bukanlah orang yang dibuat-buat’.” (QS. Shad: 86)

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, menjelaskan makna ayat tersebut dengan mengatakan: “Wahai manusia, barangsiapa yang mengetahui sesuatu hendaklah dia mengatakannya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui hendaklah dia berkata: ‘Allah yang lebih mengetahui.’ Sesungguhnya termasuk ilmu adalah seseorang berkata tentang apa yang tidak dia ketahui: ‘Allah yang lebih mengetahui’.”

4. Menyampaikan Hadits dan Kisah (Hikayat) dengan Valid

Syariat membolehkan kita untuk menyampaikan ilmu, bahkan menganjurkan untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu. Namun, penyampaian kisah ini diikat dengan syarat kejujuran dan validitas agar tidak berujung pada pendustaan atas nama agama.

📜 Hadits

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat. Ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak mengapa. Barang siapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.”

Periwayat: Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

Dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, dijelaskan bahayanya para penceramah atau pendongeng (qashash) yang memasukkan kisah-kisah bualan dan tidak shahih ke dalam nasihat mereka demi menarik emosi pendengar. Mengarang kisah-kisah yang aneh, atau menceritakan riwayat-riwayat palsu yang dapat memicu hawa nafsu dan syubhat di kalangan awam, adalah bentuk kerusakan (fasad) dan dilarang keras dalam agama.

Kesimpulan & Hikmah

Menyampaikan ilmu adalah amanah yang harus dijaga kesuciannya. Seorang penyeru kebaikan diwajibkan menghiasi dakwahnya dengan hikmah, kelembutan, dan pemahaman yang akurat. Tidak memaksakan diri menjawab hal yang tidak diketahui, serta menjauhi penggunaan dongeng dan kisah palsu untuk menarik simpati umat, adalah ciri utama ulama dan penceramah yang berpegang teguh pada sunnah. Dengan adab inilah, cahaya Islam akan masuk ke dalam hati manusia dengan jernih dan murni.

FAQ: Pertanyaan Seputar Menyampaikan Ilmu

Apakah kita harus menjadi ulama besar terlebih dahulu untuk menyampaikan agama?

Tidak disyaratkan harus menjadi ulama besar yang menguasai seluruh cabang ilmu. Berdasarkan hadits shahih riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” Artinya, apabila Anda mengetahui sebuah hukum atau kebaikan secara pasti dan benar berdasarkan dalil (seperti perintah shalat atau larangan berdusta), maka Anda berhak menyampaikannya sesuai batas ilmu Anda tanpa melampauinya.

Bagaimana hukumnya menceritakan kisah-kisah Bani Israil dalam ceramah?

Nabi ﷺ telah memberikan kelonggaran dengan sabda beliau, “Ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak mengapa.” Para ulama menjelaskan bahwa kisah-kisah Israiliyat boleh disampaikan sekadar sebagai pelajaran (ibrah) selama kisah tersebut tidak bertentangan dengan aqidah syariat Islam, tidak diyakini kebenarannya secara mutlak, dan tidak pula didustakan secara mutlak jika tidak ada dalil yang menolaknya.

Apa yang harus dilakukan jika kita ditanya tentang suatu ilmu tetapi kita tidak tahu jawabannya?

Sikap yang paling benar dan mencerminkan kedalaman ilmu seseorang adalah dengan lapang dada mengatakan “Allahu a’lam” (Allah lebih mengetahui) atau “Saya tidak tahu”. Sahabat Abdullah bin Mas’ud menegaskan bahwa berani berkata tidak tahu terhadap perkara yang memang tidak dikuasai adalah bagian dari ilmu itu sendiri, guna menghindari sikap dibuat-buat (takalluf) dan berdusta atas nama syariat.

Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Shahih Bukhari, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syarah Riyadhush Shalihin.