Menuntut ilmu agama adalah ibadah agung yang membukakan jalan menuju surga bagi pelakunya. Agar ilmu yang dipelajari mendatangkan keberkahan, meresap ke dalam hati, dan tidak menjadi bumerang di akhirat, syariat Islam telah menetapkan adab-adab luhur yang wajib dijaga oleh setiap penuntut ilmu.
Berikut adalah 7 kunci utama adab menuntut ilmu berdasarkan tuntunan Al-Qur’an, sunnah Rasulullah ﷺ, dan bimbingan para ulama salaf.
Panduan Adab Menuntut Ilmu
1. Mengikhlaskan Niat Hanya karena Allah
Fondasi utama dalam menuntut ilmu adalah keikhlasan. Seseorang wajib berniat mengangkat kebodohan dari dirinya dan orang lain demi mengharap wajah Allah semata. Menuntut ilmu agama untuk meraih pujian, popularitas, atau sekadar keuntungan materi duniawi sangat dilarang dan diancam dengan hukuman yang berat.
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan karena Allah, sedangkan dia mempelajarinya karena (ingin meraih) kesenangan duniawi, maka pada Hari Kiamat dia tidak akan pernah mencium bau surga.”
Sumber: HR. Abu Daud
Derajat: Shahih
2. Membersihkan Hati dari Akhlak Tercela
Sebagaimana dijelaskan dalam rujukan seperti kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, menuntut ilmu pada hakikatnya adalah ibadah hati. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus memulai langkahnya dengan membersihkan jiwa dari akhlak-akhlak buruk, seperti kesombongan, hasad (dengki), dan riya’. Hati yang dipenuhi kotoran maksiat tidak akan mampu menangkap cahaya ilmu yang suci.
3. Tawadhu’ dan Menghormati Guru
Seorang pencari ilmu patut menyerahkan kendali dirinya kepada gurunya ibarat orang sakit yang memasrahkan diri kepada seorang dokter. Ulama salaf mencontohkan adab duduk yang sopan, tidak mendahului pembicaraan guru, tidak menunjuk-nunjuk di depannya, serta bersabar menahan diri jika guru sedang enggan atau kelelahan. Sikap tawadhu’ (rendah hati) adalah pintu masuknya pemahaman.
4. Sabar dan Tidak Tergesa-gesa dalam Menerima Penjelasan
Adab yang sangat penting saat berada di majelis ilmu adalah mendengarkan dengan saksama dan tidak memotong penjelasan guru sebelum selesai. Etika ini secara langsung diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad ﷺ saat menerima wahyu dari Malaikat Jibril.
… وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖوَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا ﴿١١٤﴾
“…dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS. Thaha: 114)
5. Bertanya untuk Diamalkan, Bukan untuk Mendebat
Tujuan utama mempelajari agama adalah untuk diamalkan. Bertanya dalam majelis ilmu sangat dianjurkan jika tujuannya untuk menghilangkan ketidaktahuan. Namun, sangat diharamkan mempelajari ilmu hanya untuk mencari-cari kesalahan, berdebat dengan orang bodoh, atau demi menunjukkan kehebatan diri agar dihormati di majelis.
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
“Siapa saja yang menuntut ilmu agar ia diperlakukan sebagai seorang yang pandai (ulama), atau untuk berbantah (berdebat) dengan orang-orang bodoh, atau untuk menarik perhatian orang-orang, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
Sumber: HR. Tirmidzi
Derajat: Hasan
6. Senantiasa Memohon Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang sejati adalah ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Allah dan memperbaiki amal perbuatan. Penuntut ilmu dianjurkan untuk terus berdoa memohon agar ilmunya diberkahi dan berlindung dari ilmu yang hanya menjadi wawasan tanpa diamalkan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, doa yang tidak didengar, hati yang tidak khusyu dan nafsu yang tidak pernah kenyang.”
Sumber: HR. Ibnu Majah
Derajat: Shahih
7. Menyampaikan dan Menyebarkan Ilmu yang Diketahui
Setelah memperoleh ilmu dan mengamalkannya, adab selanjutnya adalah membagikannya kepada orang lain. Menyampaikan ilmu kepada umat adalah wujud syukur atas nikmat pengetahuan, sekaligus amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia.
“Allah akan memperindah wajah seseorang yang mendengar ucapanku kemudian ia menyadari, menjaga dan menyampaikannya. Banyak pembawa ilmu menyampaikan ilmu itu kepada orang yang lebih berilmu darinya.”
Sumber: HR. Tirmidzi
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Menuntut ilmu adalah perjalanan batin sebelum menjadi perjalanan intelektual. Tanpa adab yang benar—seperti keikhlasan, ketawadhuan, dan niat untuk mengamalkan—ilmu hanya akan menjadi beban dan hujah yang memberatkan pelakunya di hari kiamat. Dengan menjaga adab-adab ini, seorang penuntut ilmu akan mendapatkan keberkahan; ilmunya meresap menjadi ketakwaan, dan perbuatannya menjadi pelita yang menerangi jalan umat manusia.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menuntut Ilmu
Apakah menuntut ilmu agama itu hukumnya wajib?
Ya, menuntut ilmu agama hukum asalnya adalah fardhu ain (wajib bagi setiap individu) pada kadar ilmu yang dibutuhkan untuk meluruskan akidah, memperbaiki ibadah sehari-hari (seperti wudhu dan shalat), dan hal-hal yang berkaitan dengan kesehariannya. Adapun memperdalam ilmu agama hingga ke tingkat rincian fiqih dan hukum syariat lainnya adalah fardhu kifayah, yang jika sudah ada sebagian orang yang menunaikannya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain.
Bolehkah menuntut ilmu agama secara formal untuk mendapatkan ijazah?
Sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa jika seseorang menuntut ilmu syar’i di universitas untuk mendapatkan ijazah dengan niat agar ijazah tersebut membantunya bisa mengajar, berdakwah, dan memberi manfaat yang lebih luas kepada kaum muslimin, maka niat ini adalah baik dan tidak berdosa. Namun, jika ia murni hanya mencari gelar duniawi demi harta dan kedudukan tanpa niat beramal, maka hal tersebut termasuk dalam ancaman hadits mengenai niat yang salah.
Bagaimana sikap murid jika melihat gurunya melakukan kesalahan?
Para ulama salaf menasihatkan agar seorang murid tetap menjaga adab dan penghormatan. Jika mengetahui guru berbuat salah atau keliru dalam suatu pendapat, seorang murid harus menasihati atau mengingatkannya dengan cara yang paling santun dan lembut, serta menutupi kesalahannya dari khalayak ramai. Membeberkan aib guru dan menyebarkan kesalahannya sangat bertentangan dengan adab dan dapat menghilangkan keberkahan ilmu yang dipelajari.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As Sa’di, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Ibnu Majah, Shahih Sunan Tirmidzi, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, Syarah Riyadhush Shalihin.