Dalam ajaran Islam, lisan dan tulisan memiliki kedudukan yang sama dalam hal pertanggungjawaban. Di era modern, media sosial dan aplikasi pesan singkat telah menjadi sarana komunikasi utama. Oleh karena itu, adab menulis pesan dan berinteraksi di dunia maya wajib dijaga agar interaksi tersebut bernilai pahala dan tidak menimbulkan dosa serta permusuhan di antara sesama muslim.
Etika Berkomunikasi dan Menulis Pesan Menurut Syariat
Agama Islam telah meletakkan kaidah-kaidah luhur dalam berinteraksi. Setiap ketikan jari di media sosial hakikatnya adalah ucapan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Berikut adalah beberapa panduan adab dalam berkomunikasi yang disebutkan dalam rujukan Al-Qur’an dan Sunnah.
Berkata yang Baik atau Menahan Diri (Diam)
Fondasi utama dalam berkomunikasi adalah memastikan bahwa pesan yang hendak dikirim mengandung kebaikan. Jika tulisan tersebut tidak membawa manfaat, tidak jelas kebenarannya, atau berpotensi menyakiti orang lain, maka menahan jari untuk tidak memposting atau mengirim pesan adalah wujud kesempurnaan iman.
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.”
Sumber: HR. Bukhari no. 5994
Derajat: Shahih
Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk memilih diksi dan kalimat yang paling santun agar setan tidak memiliki celah untuk mengadu domba dan memicu perselisihan di antara manusia.
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ…
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka…” (QS. Al-Isra: 53)
Menghindari Olok-Olokan dan Panggilan Buruk
Dalam ruang publik maya, sering kali perdebatan berujung pada saling ejek atau memanggil dengan sebutan-sebutan yang merendahkan (name-calling). Syariat Islam melarang keras perbuatan merendahkan kelompok lain, sebab keutamaan di sisi Allah tidak diukur dari pandangan manusia semata.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ…
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman…” (QS. Al-Hujurat: 11)
Menjauhi Prasangka dan Mencari-cari Kesalahan
Sering kali pesan yang bernada kebencian lahir dari prasangka buruk dan kebiasaan memata-matai akun atau kehidupan orang lain (tajassus). Rasulullah sangat menekankan agar umat Islam menjauhi prasangka karena hal tersebut merupakan pangkal dari kebohongan dan permusuhan.
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Jauhilah prasangka sebab prasangka adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian mencari-cari kesalahan, janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling marah, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Sumber: HR. Bukhari no. 6229
Derajat: Shahih
Menjawab Sapaan (Pesan) dengan yang Lebih Baik
Jika menerima pesan yang berisi sapaan atau ucapan salam, adab yang diajarkan dalam Islam adalah membalasnya dengan ucapan yang sepadan atau yang lebih baik. Mengabaikan sapaan baik tanpa udzur syar’i bertentangan dengan semangat menyebarkan kedamaian.
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا ﴿٨٦﴾
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)
Kesimpulan & Hikmah
Adab menulis pesan di media sosial pada hakikatnya tidak berbeda dengan adab berbicara di dunia nyata. Dengan menerapkan prinsip berkata yang baik atau diam, menjauhi prasangka, tidak mengolok-olok, dan membalas sapaan dengan cara terbaik, seorang muslim turut membangun lingkungan komunikasi yang damai. Menjaga lisan dan tulisan adalah wujud nyata dari keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir.
FAQ: Pertanyaan Seputar Etika Berkomunikasi
Bolehkah mengkritik keburukan orang lain secara terbuka di media sosial?
Berdasarkan rujukan Tafsir As-Sa’di pada Surah An-Nisa ayat 148, Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi untuk menuntut haknya. Jika tujuannya untuk menasihati, adab yang paling baik adalah menegur secara rahasia dan empat mata agar tidak mencemarkan kehormatan saudara semuslim.
Bagaimana sikap kita jika menerima pesan yang memancing amarah?
Sikap terbaik adalah menolak keburukan tersebut dengan cara yang lebih baik. Di antara pendapat yang disebutkan dalam rujukan berdasarkan firman Allah dalam Surah Fushshilat ayat 34, membalas keburukan dengan ihsan (kebaikan) dapat meredam permusuhan, bahkan dapat mengubah orang yang memusuhi menjadi seolah-olah teman yang setia.
Apakah wajib membalas pesan salam singkat (seperti “Assalamu’alaikum”)?
Ya. Sebagaimana dijelaskan dalam rujukan terkait Surah An-Nisa ayat 86, jika seseorang dihormati dengan ucapan salam, ia diperintahkan untuk membalasnya dengan yang lebih baik (misalnya menambah “warahmatullah”) atau minimal membalas dengan yang serupa (“wa’alaikumussalam”). Membiarkannya tanpa membalas padahal mampu adalah bentuk menyelisihi adab yang diperintahkan.
Sumber: Al Quran, Tafsir As Sa’di, Shahih Bukhari, Syarah Riyadhussalihin.