Islam mengajarkan adab yang mulia dalam setiap interaksi sosial, termasuk ketika hendak beranjak dan meninggalkan sebuah majelis atau perkumpulan. Menutup pertemuan dengan doa kaffaratul majelis berfungsi sebagai penebus dosa, penghapus kata-kata yang sia-sia, sekaligus menjadi stempel kebaikan atas majelis tersebut.
Ancaman Meninggalkan Majelis Tanpa Dzikir
Sebuah perkumpulan di mana orang-orang duduk berbincang sering kali tidak lepas dari kelalaian, senda gurau, atau pembicaraan duniawi. Syariat sangat membenci suatu majelis yang di dalamnya sama sekali tidak ada ingatan kepada Allah.
Apabila sekelompok orang berdiri meninggalkan tempat duduknya tanpa berdzikir kepada Allah, maka hal tersebut akan mendatangkan kerugian dan penyesalan di kemudian hari. Rasulullah memberikan perumpamaan yang sangat keras bagi majelis semacam ini.
مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً
“Tidaklah suatu kaum bangkit dari majlis yang tidak mereka berdzikir kepada Allah Ta’ala di dalamnya, melainkan mereka bangkit dari sesuatu yang seperti bangkai keledai, dan hal itu menjadi penyesalan bagi mereka.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Abu Daud no. 4855
Derajat: Shahih
Doa Kaffaratul Majelis Penghapus Dosa
Jarang sekali seseorang duduk dalam suatu majelis kecuali terjadi sesuatu berupa perbuatan sia-sia, hal yang tidak berguna, atau menyia-nyiakan waktu. Sebagai bentuk kasih sayang Allah, disyariatkan sebuah doa khusus yang dibaca tepat sebelum seseorang berdiri dari tempat duduknya untuk menebus kesalahan-kesalahan tersebut.
Dalam rujukan Minhajul Muslim disebutkan bahwa beristighfar dengan doa ini ketika berdiri dari tempat duduk merupakan bentuk penghapus kesalahan apabila seseorang tanpa sadar menyakiti orang lain atau banyak berkata-kata yang tidak bermanfaat di tempat tersebut.
مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ
“Barangsiapa duduk dalam suatu majlis lalu banyak berbuat sia-sia di dalamnya, kemudian dia mengucapkan sebelum berdiri dari majlisnya: ‘Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika’ (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu), maka akan diampuni apa yang terjadi dalam majlisnya itu.”
Sumber: HR. Sunan Tirmidzi no. 3433
Derajat: Hasan Shahih
Sebagai Stempel untuk Majelis Kebaikan
Sebagian orang mungkin mengira bahwa doa kaffaratul majelis hanya dibaca apabila kita menghadiri perkumpulan yang penuh dengan senda gurau atau obrolan duniawi. Padahal, doa ini juga sangat dianjurkan untuk dibaca di akhir majelis dzikir, majelis ilmu, maupun perkumpulan yang baik.
Di antara penjelasan rujukan dari hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash, jika doa ini diucapkan di majelis kebaikan, ia akan berfungsi sebagai stempel yang mengunci dan menjaga kebaikan tersebut hingga hari kiamat.
كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ
“Ada beberapa kalimat yang mana tidak akan datang kepada salah seorang dari kalian bila membacanya tiga kali saat berdiri, kecuali dihapuskan dosa-dosanya. Dan tidak ada orang yang mengucapkannya saat (menutup) suatu majlis yang baik dan majelis dzikir kecuali menutup dengannya, sebagaimana ditutupnya suatu lembaran dengan stempel (segel).”
Sumber: HR. Shahih Sunan Abu Daud no. 4857
Derajat: Shahih
Dalam riwayat Abu Barzah Al Aslami, para sahabat pada awalnya merasa asing ketika Nabi tiba-tiba membaca doa tersebut di akhir majelis. Saat mereka bertanya mengapa beliau membaca ucapan yang sebelumnya tidak biasa dibacakan, Rasulullah menjawab dengan tegas: “Itu sebagai penebus dosa yang terjadi dalam sebuah majelis.”
Kesimpulan & Hikmah
Membiasakan lisan untuk membaca doa kaffaratul majelis sebelum beranjak dari tempat duduk adalah bentuk penjagaan diri yang sangat ringan namun berdampak besar. Doa ini akan menghapus dosa dari kata-kata sia-sia, perdebatan, atau kelalaian yang mungkin terucap selama berkumpul. Di saat yang sama, bagi majelis yang penuh ketaatan, bacaan ini akan menjadi stempel pelindung yang menjaga pahala amal kebaikan tersebut agar tetap utuh dan diterima di sisi Allah.
FAQ: Pertanyaan Seputar Doa Kaffaratul Majelis
Apa akibatnya jika kita meninggalkan majelis tanpa berdzikir atau berdoa?
Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud, meninggalkan majelis tanpa mengingat Allah diibaratkan seperti bangkit dari bangkai keledai. Perbuatan tersebut akan menjadi sumber penyesalan dan kerugian bagi pelakunya pada hari kiamat kelak.
Bagaimana bunyi doa kaffaratul majelis?
Doa penutup majelis berbunyi: “Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika” (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu).
Apakah doa ini hanya untuk majelis yang buruk atau banyak senda guraunya?
Tidak. Doa ini sangat dianjurkan dibaca pada semua jenis majelis. Jika diucapkan pada majelis yang banyak perbuatan sia-sia, ia berfungsi sebagai kaffarah (penebus dosa). Namun, jika diucapkan pada majelis ilmu atau majelis kebaikan, ia berfungsi sebagai stempel penyempurna yang mengunci pahala kebaikan tersebut.
Sumber: Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhussalihin, Minhajul Muslim.