Adab Mengulang Pelajaran: Metode Muraja’ah Sederhana Agar Ilmu Melekat di Ingatan

Kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu bukan hanya pada seberapa banyak materi yang didengarkan, melainkan pada seberapa kuat ilmu tersebut menetap di dalam ingatan. Sifat alami manusia yang mudah lupa membuat ilmu rentan hilang jika tidak dijaga. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya adab mengulang pelajaran (muraja’ah) dan berdiskusi (mudzakarah).

Para ulama salaf telah membuktikan bahwa kecerdasan saja tidak cukup tanpa adanya ketekunan dalam mengulang. Berikut adalah panduan adab dan metode sederhana dalam me-muraja’ah pelajaran agar ilmu senantiasa melekat di dalam dada sesuai dengan tuntunan sunnah.

Metode Muraja’ah dan Mengulang Pelajaran Sesuai Sunnah

1. Selalu Mengulang-ulang (Ta’ahhud) Hafalan

Langkah pertama yang paling mendasar adalah komitmen untuk terus mengulang (ta’ahhud) ilmu yang telah didapat, terutama hafalan kalam Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat akurat bahwa hafalan yang dibiarkan tanpa pengulangan akan lebih cepat hilang daripada unta yang lepas dari tali ikatannya.

📜 Hadits

“…Selalu ulangi-ulangilah bacaan Al Quran, sebab ia begitu cepat perginya dari dada seseorang dari pada hilangnya Unta.”

Periwayat: Abdullah bin Mas’ud
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

Dalam Syarah Riyadhush Shalihin dijelaskan bahwa jika seseorang terus memelihara dan mengulang ilmunya, maka ilmu itu akan tetap ada. Namun, jika ia melepaskannya dan mengabaikannya karena kemalasan, maka ilmu itu akan pergi dan hilang.

2. Saling Mengingatkan dan Berdiskusi (Mudzakarah)

Mengulang pelajaran tidak selamanya harus dilakukan sendirian. Salah satu metode yang paling efektif adalah dengan saling mengingatkan dan berdiskusi (mudzakarah) bersama rekan sesama penuntut ilmu. Imam Az-Zuhri rahimahullah, seorang tokoh besar dari kalangan tabi’in, menegaskan hal ini dengan perkataannya:

“Sesungguhnya yang melenyapkan ilmu adalah lupa dan meninggalkan saling mengingatkan.”

Meskipun proses mengingat kembali dan berdiskusi ini terkadang melelahkan, para ulama menyadari urgensinya. Dalam riwayat lain di Siyar A’lam An Nubala, Imam Az-Zuhri juga menyebutkan bahwa mengulang-ulang hadits terkadang terasa lebih berat daripada memindahkan batu besar. Namun, perjuangan itulah yang membuat ilmu tersebut kokoh dan bercahaya.

3. Mengulang Pelajaran Berkali-kali Hingga Paham

Seorang penuntut ilmu yang gigih tidak akan mudah bosan membaca atau mengulang satu materi yang sama. Mengulang perkataan agar lebih dipahami oleh pendengar maupun diri sendiri merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

📜 Hadits

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengulangi kalimat sebanyak tiga kali agar dapat dipahami.”

Periwayat: Anas bin Malik
Sumber: HR. Tirmidzi dan Bukhari
Derajat: Shahih

Ketekunan dalam mengulang ini sangat menonjol pada diri para ulama terdahulu. Sebagai contoh, Imam Sufyan Ats-Tsauri memiliki jadwal rutin khusus hanya untuk me-muraja’ah hadits-haditsnya agar tidak hilang. Demikian pula Syekh Abu Ishaq Asy-Syairazi yang menuturkan kesungguhannya: “Aku selalu mengulang setiap analogi (qiyas) seribu kali; setelah selesai, aku pindah ke analogi lain dengan cara yang sama. Aku juga mengulang setiap pelajaran seribu kali.”

4. Mengikat Ilmu dengan Mengamalkannya

Metode muraja’ah yang paling puncak dan berbuah manis adalah mengaplikasikan ilmu tersebut ke dalam kehidupan nyata. Sebagian ulama salaf memberikan kaidah emas: “Ikatlah ilmu dengan mengamalkannya.”

Penjelasan dalam Syarah Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa mengamalkan ilmu menuntut kelanggengannya. Apabila sebuah ilmu—baik itu sunnah shalat, doa, maupun adab keseharian—terus diamalkan, maka ia akan senantiasa hidup di dalam hati dan anggota tubuh. Jika sudah menjadi kebiasaan amaliah, maka secara otomatis ilmu tersebut tidak akan dilupakan.

Kesimpulan & Hikmah

Mengulang pelajaran (muraja’ah) adalah urat nadi dari proses menuntut ilmu. Sehebat apa pun kecerdasan seseorang, ia tidak akan terlepas dari tabiat lupa. Dengan membiasakan diri untuk mengulang-ulang catatan, melakukan mudzakarah bersama sahabat, tidak cepat bosan dalam membaca materi, serta langsung mengamalkannya dalam ibadah, seorang penuntut ilmu sejatinya sedang mengunci ilmunya rapat-rapat. Ketelatenan dalam me-muraja’ah inilah yang melahirkan ulama-ulama besar yang ilmunya terus bermanfaat melintasi zaman.

FAQ: Pertanyaan Seputar Muraja’ah dan Mengulang Pelajaran

Mengapa kita cepat lupa dengan pelajaran atau hafalan kita?

Lupa adalah sifat dasar (tabiat) manusia. Para ulama menjelaskan bahwa ilmu manusia selalu dikelilingi oleh dua kelemahan: kebodohan sebelum belajar dan sifat lupa setelah belajar. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengibaratkan hafalan seperti unta yang terikat; ia menuntut perhatian dan pengulangan (ta’ahhud) secara terus-menerus. Jika diabaikan, ia akan dengan cepat terlepas dari ingatan.

Apakah Rasulullah ﷺ juga mengulang-ulang perkataan saat mengajar?

Ya. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Tirmidzi, Rasulullah ﷺ terbiasa mengulangi perkataan atau kalimat yang penting hingga tiga kali. Tujuannya adalah untuk memberikan penekanan agar materi tersebut benar-benar dapat dipahami, diresapi, dan dihafal dengan baik oleh para sahabat yang sedang menyimak.

Bagaimana cara ulama salaf menjaga hafalannya agar tidak hilang?

Para ulama salaf menjaga hafalan mereka dengan dedikasi muraja’ah yang sangat tinggi. Mereka memiliki jadwal rutin khusus untuk mengulang-ulang riwayat, memperbanyak diskusi (mudzakarah), dan tidak segan mengulang satu pelajaran hingga ratusan atau ribuan kali. Puncaknya, mereka menjadikan ilmu tersebut sebagai amalan sehari-hari, karena amal adalah pengikat ilmu yang paling kuat.

Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Sunan Tirmidzi, Siyar A’lam An Nubala, Syarah Riyadhush Shalihin.