Langsung ke isi

Quranindo.com

  • Beranda
  • Al Quran dan Terjemah
  • Pedoman Hidup
  • Kisah Islami

Adab Menimbang Kabar Sebelum Menyebarkan: Saring Sebelum Sharing Sesuai Prinsip Islami

oleh Admin

Menerima dan membagikan informasi telah menjadi bagian dari rutinitas harian umat manusia. Namun, Islam menetapkan pedoman yang sangat ketat dalam menerima sebuah kabar agar seorang muslim tidak mudah jatuh pada kedustaan dan tidak menjadi agen penyebar fitnah yang merugikan kehormatan maupun keamanan masyarakat.

Perintah Tabayyun (Meneliti) Sumber Berita

Agama Islam sangat menjaga keharmonisan dan keadilan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk selalu meneliti (tabayyun) setiap kabar yang datang, terutama jika berita tersebut dibawa oleh pihak yang kefasikannya telah diketahui atau kredibilitasnya diragukan.

📖 Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ﴿٦﴾

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan adab dan sopan santun yang wajib diteladani oleh orang-orang berakal. Apabila berita dari orang fasik disamakan begitu saja dengan berita dari orang yang jujur tanpa adanya penyaringan, hal itu dapat membahayakan jiwa maupun harta orang lain tanpa hak, yang pada akhirnya hanya akan mendatangkan penyesalan.

Bahaya Menceritakan Segala Sesuatu yang Didengar

Sikap tergesa-gesa dalam menekan tombol bagikan (sharing) untuk semua informasi yang masuk adalah perbuatan yang sangat dicela. Nabi Muhammad menegaskan bahwa kebiasaan memindahkan perkataan tanpa kepastian akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kedustaan.

📜 Hadits

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika dia menceritakan semua yang didengarnya.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

Di antara penjelasan ulama, apabila banyak pembicaraan dan isu beredar di antara manusia, maka kewajiban untuk meneliti menjadi jauh lebih kuat. Terkadang dari satu isu yang kecil, manusia membangun cerita yang besar hanya dari butiran debu karena mereka memindahkan perkataan sesuai hawa nafsunya tanpa bukti yang nyata.

Menahan Diri dari Menyebarkan Isu Keamanan Publik

Berita yang berkaitan dengan keamanan, ketakutan, atau kepanikan massal memiliki aturan tersendiri. Masyarakat awam dilarang untuk ikut-ikutan menyebarkan desas-desus yang dapat memicu kegaduhan.

📖 Al-Qur’an

وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖ ۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ…

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)…” (QS. An-Nisa: 83)

Ayat ini mengisyaratkan larangan keras dari sikap ketergesa-gesaan dalam menyebarkan informasi publik setelah mendengarnya. Seharusnya perkara seperti itu diserahkan kepada pihak yang berwenang dan para ahli ilmu yang mampu memikirkan apakah penyebaran informasi tersebut mendatangkan kemaslahatan atau justru memperbesar kemudaratan.

Menjauhi Sikap Menggampangkan Berita Bohong

Banyak manusia yang dengan ringan memindahkan berita dari mulut ke mulut atau dari satu layar ke layar lainnya tanpa landasan ilmu, seraya menganggapnya sebagai perkara sepele. Padahal, jika berita tersebut adalah kebohongan yang merusak kehormatan, dosanya sangat besar di sisi Allah.

📖 Al-Qur’an

إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿١٥﴾

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nur: 15)

Berdasarkan ayat ini, berbicara tanpa dasar ilmu dan memperbincangkan kebatilan adalah dua perkara yang sangat terlarang. Seseorang wajib berhati-hati agar tidak membebek pada apa yang tidak diketahuinya secara pasti, karena pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Kesimpulan & Hikmah

Prinsip “saring sebelum sharing” adalah pengejawantahan dari adab Islami dalam mengelola informasi. Dengan membiasakan diri untuk selalu memeriksa kebenaran (tabayyun), menahan lisan dari menceritakan segala yang didengar, dan menyerahkan urusan keamanan kepada ahlinya, seorang muslim tidak hanya menyelamatkan dirinya dari cap sebagai pendusta, tetapi juga menjaga stabilitas dan kehormatan masyarakat secara luas.

FAQ: Pertanyaan Seputar Menimbang Berita

Mengapa menceritakan semua yang didengar disebut sebagai kedustaan?

Karena informasi yang beredar di masyarakat sering kali bercampur antara kebenaran dan kebohongan. Jika seseorang menelan mentah-mentah dan menyebarkan semua yang ia dengar tanpa menyaringnya, niscaya ia akan ikut menyebarkan kebohongan tersebut, sehingga ia secara tidak langsung bertindak sebagai pendusta.

Bagaimana sikap yang benar jika mendapat berita dari orang fasik?

Sikap yang diwajibkan oleh syariat adalah menahan diri (tawaqquf) dan melakukan tabayyun (verifikasi). Kita tidak boleh langsung mempercayainya atau menindaknya agar tidak menjatuhkan kezaliman kepada pihak yang tidak bersalah akibat ketidaktahuan kita.

Siapa yang berhak menyiarkan berita terkait keamanan atau ketakutan publik?

Berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, berita terkait keamanan masyarakat luas hendaknya dikembalikan kepada Rasul dan Ulil Amri (pemimpin atau pihak berwenang). Mereka lebih berilmu dalam menyimpulkan kebenaran dan menimbang dampak baik-buruknya sebelum suatu informasi disajikan kepada publik.

Sumber: Al Quran, Tafsir As Sa’di, Shahih Muslim, Syarah Riyadhussalihin.

Kategori Akhlak & Adab Tag adab menerima berita, adab menimbang kabar, bahaya berita bohong, menjaga lisan, saring sebelum sharing, tabayyun
Adab Mengulang Pelajaran: Metode Muraja’ah Sederhana Agar Ilmu Melekat di Ingatan
Adab Meninggalkan Majelis: Doa Kaffaratul Majelis Penghapus Dosa dan Salah Kata

Informasi Bermanfaat

  • 9 Ayat Tentang Bersyukur Kepada Allah dan Manfaatnya, Muslim Harus Tahu!

Tulisan Terbaru

  • Adab Meninggalkan Majelis: Doa Kaffaratul Majelis Penghapus Dosa dan Salah Kata
  • Adab Menimbang Kabar Sebelum Menyebarkan: Saring Sebelum Sharing Sesuai Prinsip Islami
  • Adab Mengulang Pelajaran: Metode Muraja’ah Sederhana Agar Ilmu Melekat di Ingatan
  • Adab Mengingat Kematian: Pengingat Terbaik untuk Meningkatkan Kualitas Amal Shaleh
  • Adab Menghormati yang Lebih Tua: Bentuk Pemuliaan Generasi Muda Sesuai Sunnah
© 2026 Quranindo.com