Adab Menjenguk Orang Sakit: Doa dan Etika yang Memberikan Semangat Sembuh

Menjenguk orang sakit merupakan salah satu hak sesama muslim yang sangat ditekankan dalam Islam. Ibadah sosial ini tidak hanya memberikan dukungan mental dan menumbuhkan semangat sembuh bagi pasien, tetapi juga mendatangkan curahan rahmat dan pahala yang besar bagi penjenguknya.

Agama Islam yang paripurna telah menetapkan panduan etika dan doa-doa khusus ketika menjenguk agar kunjungan tersebut bernilai ibadah dan tidak membebani pihak yang sedang diuji dengan penyakit. Berikut adalah panduan adab menjenguk orang sakit sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah ﷺ.

Panduan Adab Menjenguk Orang Sakit Sesuai Sunnah

1. Meniatkan Kunjungan Sebagai Pemenuhan Hak Persaudaraan

Langkah paling mendasar sebelum melangkah menjenguk adalah meniatkannya sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah dan menunaikan hak persaudaraan sesama muslim. Membesuk orang sakit adalah wujud ihsan (kebaikan) yang mengundang kedekatan rahmat Sang Pencipta.

📖 Al-Qur’an

… إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٥٦﴾

“…Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

📜 Hadits

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ … وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ

“Hak seorang muslim terhadap seorang muslim lainnya ada enam perkara… (salah satunya) bila dia sakit, kunjungilah dia.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

2. Merenungi Keutamaan Berada di Taman Surga

Sebagai bentuk pemuliaan terhadap amalan ini, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa seseorang yang sedang melangkahkan kakinya untuk membesuk saudaranya yang sakit sejatinya sedang memetik buah di taman-taman surga hingga ia kembali pulang.

📜 Hadits

مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit, maka dia senantiasa berada dalam khurfah (taman memetik buah) surga sampai dia pulang kembali.”

Periwayat: Tsauban
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

3. Mengucapkan Perkataan yang Baik dan Memberi Harapan

Sangat dianjurkan untuk menghibur hati orang yang sakit dengan kata-kata yang menumbuhkan optimisme. Ucapkanlah hal-hal yang dapat melapangkan dadanya dan hindari membicarakan sesuatu yang dapat membuatnya cemas atau takut. Rasulullah ﷺ memberikan teladan doa ringan yang senantiasa beliau ucapkan saat menjenguk.

📜 Hadits

لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Tidak apa-apa, semoga menjadi pembersih (dosa), insya Allah.”

Periwayat: Ibnu Abbas
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

4. Membacakan Doa Kesembuhan (Ruqyah)

Penjenguk disunnahkan untuk mendoakan kesembuhan secara langsung bagi pasien. Di antara adabnya adalah mengusap bagian tubuh orang yang sakit dengan tangan kanan seraya memanjatkan doa perlindungan yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.

📜 Hadits

أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Hilangkanlah rasa sakit Ya Allah Rabb manusia, sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan dari kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit.”

Periwayat: ‘Aisyah
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

5. Membaca Doa Kesembuhan Sebanyak Tujuh Kali

Terdapat doa khusus lainnya yang sangat dianjurkan untuk dibaca sebanyak tujuh kali saat berada di sisi orang yang sakit. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa doa ini memiliki khasiat kesembuhan yang besar selama ajal pasien belum tiba.

📜 Hadits

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَعُودُ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَيَقُولُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ إِلَّا عُوفِيَ

“Tidaklah seorang hamba muslim menjenguk orang yang sakit, yang belum tiba ajalnya, kemudian ia membaca doa tujuh kali: ‘Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, Dzat Pemilik Arasy yang Agung agar menyembuhkanmu’, kecuali orang yang sakit itu akan disembuhkan.”

Periwayat: Ibnu Abbas
Sumber: HR. Abu Daud dan Tirmidzi
Derajat: Shahih

6. Tidak Memaksa Orang Sakit untuk Makan dan Minum

Banyak penjenguk atau keluarga yang khawatir melihat pasien tidak mau makan, lalu memaksa mereka untuk menelan makanan. Syariat memberikan bimbingan yang sangat menghargai kondisi fisik orang sakit; mereka tidak boleh dipaksa jika memang belum memiliki selera.

📜 Hadits

لَا تُكْرِهُوا مَرْضَاكُمْ عَلَى الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ فَإِنَّ اللَّهَ يُطْعِمُهُمْ وَيَسْقِيهِمْ

“Janganlah kalian paksa orang yang sakit di antara kalian untuk makan dan minum. Karena sesungguhnya Allah yang memberi mereka makan dan minum.”

Periwayat: Uqbah bin ‘Amir Al Juhani
Sumber: HR. Ibnu Majah
Derajat: Hasan

Kesimpulan & Hikmah

Menjenguk orang sakit bukanlah sekadar rutinitas basa-basi sosial, melainkan ibadah yang padat akan nilai-nilai empati dan doa. Dengan memperhatikan adab-adab seperti menjaga tutur kata yang positif, mendoakan kesembuhan, dan tidak memaksa pasien dalam hal makanan, seorang penjenguk turut berperan sebagai perantara rahmat Allah. Hal ini menjadikan kehadiran kita sebagai pelipur lara yang menumbuhkan harapan dan semangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit.

FAQ: Pertanyaan Seputar Menjenguk Orang Sakit

Berapa lama sebaiknya waktu untuk menjenguk orang sakit?

Sebagian ulama, sebagaimana dijelaskan dalam Syarah Riyadhush Shalihin, menasihatkan agar penjenguk memperhatikan kemaslahatan dan kenyamanan orang yang sakit. Secara umum, jangan berlama-lama duduk di sisinya karena pasien sering kali membutuhkan waktu istirahat atau mengurus keperluan pribadinya. Namun, apabila penjenguk mengetahui bahwa pasien merasa sangat gembira, terhibur, dan menginginkan agar ia tinggal lebih lama, maka menemaninya untuk memberikan semangat adalah hal yang sangat baik.

Bolehkah menjenguk tetangga atau kenalan non-Muslim yang sakit?

Diperbolehkan dan bahkan dianjurkan, terutama jika terdapat harapan bahwa kunjungan tersebut dapat melembutkan hatinya untuk mengenal kebaikan Islam. Hal ini merujuk pada teladan Nabi Muhammad ﷺ yang pernah menjenguk seorang anak Yahudi yang biasa melayani beliau saat anak tersebut jatuh sakit, lalu beliau menawarkan Islam dengan penuh kelembutan hingga anak itu menerimanya.

Apakah boleh orang yang sakit mengeluhkan rasa sakitnya?

Diperbolehkan bagi orang yang sakit untuk mengutarakan rasa sakitnya (misalnya mengatakan “Aduh kepalaku” atau “Aku sedang demam berat”) selama hal tersebut diucapkan sebagai pemberitahuan atau informasi kepada dokter dan penjenguk, bukan bermaksud mengeluh dan memprotes takdir Allah. Nabi ﷺ sendiri pernah merespons ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mengeluhkan sakit kepalanya dengan kalimat, “Bahkan aku yang sakit kepala,” yang menunjukkan kebolehan mengutarakan rasa sakit secara wajar.

Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Sunan Ibnu Majah, Syarah Riyadhush Shalihin.