Setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Oleh karena itu, saling menasihati merupakan bagian tak terpisahkan dari syariat Islam yang luhur. Nasihat ibarat cermin yang menunjukkan kekurangan diri agar dapat diperbaiki sebelum menjadi noda yang merusak amal dan keimanan.
Namun, memberikan nasihat saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan kebesaran hati untuk menerimanya. Agama Islam sangat memuliakan sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam menerima teguran, serta memperingatkan bahaya menolak kebenaran. Berikut adalah panduan adab menerima nasihat berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Panduan Adab Menerima Nasihat Sesuai Syariat
1. Menerima Kebenaran Tanpa Kesombongan
Langkah paling utama saat menerima teguran atau nasihat adalah menekan ego dan menyingkirkan kesombongan. Rasulullah ﷺ secara tegas mendefinisikan kesombongan bukan pada penampilan luar yang indah, melainkan pada sikap batin yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia yang membawanya.
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ … الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan… Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
2. Menyadari Bahwa Peringatan Bermanfaat bagi Iman
Seorang mukmin yang jujur imannya akan selalu merasa bahwa dirinya membutuhkan peringatan. Nasihat, betapa pun pahitnya, sesungguhnya adalah pupuk yang menyuburkan kebaikan di dalam hati dan menjauhkan diri dari kelalaian.
وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿٥٥﴾
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)
3. Menerima Kebenaran Meskipun Datang dari Orang Lain
Kebenaran adalah milik Allah yang bisa disampaikan melalui lisan siapa saja. Kita dituntut untuk mengenali dan menerima kebenaran tersebut karena kandungannya, bukan sekadar melihat siapa yang mengucapkannya. Sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu memberikan pesan yang sangat mendalam mengenai hal ini.
Beliau berkata, “Terimalah kebenaran ketika engkau mendengarnya, karena kebenaran itu disertai cahaya.” (Disebutkan dalam Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam). Ucapan ini mengisyaratkan bahwa kebenaran memiliki kekuatan dan cahayanya sendiri yang akan langsung dikenali oleh hati yang bersih.
4. Berterima Kasih kepada Orang yang Menunjukkan Aib
Alih-alih marah ketika ditegur, adab yang luhur adalah mendoakan dan berterima kasih kepada orang yang telah meluangkan waktunya untuk menasihati kita. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat yang paling dijamin surganya, pernah memberikan teladan agung dengan perkataannya:
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kami kepada aib-aib kami.” (Disebutkan dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin).
Apabila kita disadarkan akan suatu aib yang sebelumnya tidak kita sadari, hal itu ibarat seseorang yang menunjukkan adanya penyakit berbahaya di tubuh kita agar segera diobati sebelum membinasakan.
5. Tidak Ragu untuk Rujuk (Kembali) kepada Kebenaran
Sebagian orang sering kali merasa gengsi untuk menarik pendapatnya atau mengakui kesalahannya di hadapan umum setelah dinasihati, karena khawatir diremehkan. Padahal, rujukan dari para ulama menegaskan bahwa kembali kepada kebenaran sama sekali tidak menurunkan martabat.
Justru, kembali kepada kebenaran di mana pun ia ditemukan akan mengangkat kedudukan seseorang di mata Allah dan manusia. Hal itu membuktikan bahwa ia adalah hamba yang menundukkan ego pribadinya demi mengikuti dalil yang lurus dan tegak di atas kejujuran.
Kesimpulan & Hikmah
Menerima nasihat merupakan ujian nyata bagi kualitas keikhlasan dan ketawadhuan (kerendahan hati) seseorang. Setan kerap kali membisikkan rasa gengsi dan amarah ketika kita ditegur, semata-mata agar kita terhalang dari perbaikan diri. Dengan menyadari bahwa menolak kebenaran adalah bentuk kesombongan, serta meyakini bahwa teguran adalah wujud kasih sayang Allah melalui perantara sesama, seorang mukmin akan senantiasa membuka pintu hatinya lebar-lebar bagi setiap untaian nasihat yang berlandaskan syariat.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menerima Nasihat
Mengapa menolak nasihat sering dikategorikan sebagai bentuk kesombongan?
Karena Rasulullah ﷺ secara spesifik mengaitkan inti dari kesombongan (kibr) dengan tindakan batrul haqq (menolak/mengingkari kebenaran) dan meremehkan manusia. Ketika seseorang menolak nasihat yang didasari oleh dalil yang benar hanya karena tidak suka digurui, pada hakikatnya ia sedang menyombongkan diri di hadapan kebenaran itu sendiri.
Bagaimana sikap kita jika nasihat disampaikan dengan cara yang kasar atau menyakitkan?
Meskipun pihak yang memberi nasihat diwajibkan untuk bersikap lemah lembut, orang yang menerima nasihat dianjurkan untuk tetap fokus pada inti kebenarannya, bukan pada cara penyampaiannya. Dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin dinasihatkan bahwa jika seseorang menyingkap aib kita meski dengan cara yang tidak ramah, kita tetap mendapatkan manfaat karena menyadari aib tersebut untuk segera diperbaiki.
Apakah mengakui kesalahan setelah dinasihati akan menjatuhkan wibawa kita di hadapan orang lain?
Tidak sama sekali. Para ulama salaf senantiasa merujuk kembali kepada kebenaran manakala dalil yang lebih kuat telah jelas bagi mereka. Meninggalkan kesalahan untuk beralih kepada kebenaran adalah indikasi akal yang cerdas dan hati yang bersih. Hal ini justru akan menambah wibawa dan rasa hormat masyarakat kepadanya karena ia terbukti sebagai orang yang adil dan tidak membebek pada hawa nafsu.
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Muslim, Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syarah Riyadhush Shalihin.