Adab Menerima Kebaikan Orang Lain: Sikap Tahu Diri dan Memuliakan Pemberi Kebaikan

Agama Islam mengajarkan keseimbangan yang indah dalam bermuamalah antarsesama. Tidak hanya menganjurkan umatnya untuk gemar memberi dan bersedekah, syariat juga menuntun dengan sangat rinci bagaimana adab dan tata krama saat kita berada di posisi sebagai penerima kebaikan.

Menerima pemberian atau bantuan orang lain bukanlah sesuatu yang merendahkan martabat jika disikapi dengan adab yang benar. Sebaliknya, sikap tahu diri, memuliakan sang pemberi, dan pandai berterima kasih justru akan menyempurnakan rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Berikut adalah panduan komprehensif mengenai adab menerima kebaikan orang lain berdasarkan sunnah Rasulullah ﷺ.

Panduan Adab Menerima Kebaikan Orang Lain

1. Menerima Pemberian Jika Datang Tanpa Diminta

Islam mendidik umatnya untuk menjaga kehormatan diri (iffah) dengan tidak gemar meminta-minta. Namun, apabila sebuah rezeki, hadiah, atau bantuan datang murni dari kebaikan hati saudara kita tanpa kita harapkan dan tanpa kita minta, maka adab yang benar adalah menerimanya.

📜 Hadits

“Ambillah; jika datang kepadamu sesuatu dari harta ini sedangkan engkau tidak mengharapkannya dan tidak memintanya, maka ambillah dan jadikanlah sebagai hartamu. Jika engkau mau, makanlah, dan jika engkau mau, sedekahkanlah. Dan jika tidak demikian, maka jangan biarkan jiwamu mengikutinya.”

Periwayat: Umar bin Khaththab
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa memegang prinsip ini, di mana ia tidak pernah meminta sesuatu kepada siapa pun, namun tidak pernah pula menolak sesuatu yang diberikan kepadanya.

2. Berterima Kasih sebagai Wujud Syukur Kepada Allah

Kesadaran paling mendasar saat menerima kebaikan adalah meyakini bahwa manusia hanyalah perantara dari rezeki yang Allah tetapkan. Meski demikian, syariat tidak membenarkan seseorang yang hanya bersyukur kepada Allah namun mengabaikan jasa manusia. Keduanya harus berjalan beriringan.

📜 Hadits

مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ

“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Tirmidzi no. 1954
Derajat: Shahih

3. Berusaha Membalas Kebaikan dengan yang Setara

Ketika menerima hadiah atau pertolongan, adab tertinggi yang dicontohkan oleh syariat adalah berusaha membalas budi tersebut dengan pemberian atau kebaikan yang sepadan. Hal ini bertujuan agar hati kita tidak terus-menerus merasa berutang budi, sekaligus melatih diri menjadi pribadi yang dermawan.

📜 Hadits

مَنْ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Barangsiapa yang memohon perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah orang tersebut, dan barangsiapa yang meminta dengan nama Allah, maka berilah. Barangsiapa yang mengundangmu, maka penuhilah undangannya. Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan itu, dan jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakan orang tersebut sampai kamu merasa bahwa kamu telah membalasnya.”

Periwayat: Abdullah bin Umar
Sumber: HR. Sunan Abu Daud no. 1672
Derajat: Shahih

4. Mendoakan “Jazakallahu Khairan” Jika Tidak Mampu Membalas

Syariat sangat menyadari bahwa tidak setiap orang memiliki kelapangan harta untuk membalas hadiah atau kebaikan. Jika kita tidak memiliki apa pun untuk diberikan, maka doa yang tulus adalah balasan yang sangat dicintai oleh Allah dan diakui sebagai pujian yang sempurna.

📜 Hadits

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa diberi suatu pemberian, kemudian ia berkata kepada pelakunya, ‘Jazakallahu khairan (Semoga Allah memberi balasan yang terbaik kepadamu)’, maka ia telah menyanjung sampai puncaknya.”

Periwayat: Usamah bin Zaid
Sumber: HR. Tirmidzi no. 2035
Derajat: Shahih

5. Memuji Pemberi dan Tidak Menyembunyikan Kebaikannya

Sikap tahu diri juga diwujudkan dengan mengakui jasa orang yang menolong kita. Menyembunyikan kebaikan orang lain karena gengsi atau kesombongan sangat dicela dalam agama dan dikategorikan sebagai sikap kufur nikmat.

📜 Hadits

مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ بِهِ فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ

“Barangsiapa yang diberikan pemberian kemudian ia menerimanya, maka hendaknya ia memberi balasan. Bagi yang tidak dapat (memberi balasan), maka hendaklah memuji si pemberi. Barangsiapa yang dapat memuji, berarti ia telah bersyukur, dan barangsiapa yang menutup-nutupinya maka ia telah kufur (tidak pandai bersyukur).”

Periwayat: Jabir bin Abdullah
Sumber: HR. Tirmidzi no. 2034
Derajat: Hasan

Kesimpulan & Hikmah

Menerima kebaikan orang lain sejatinya adalah ladang amal tersendiri bagi seorang muslim. Dengan menerima pemberian yang datang tanpa diminta, membalasnya semampu kita, mendoakan kebaikan, serta tidak mengingkari jasa orang tersebut, kita telah menghidupkan akhlak mulia yang akan mempererat ukhuwah persaudaraan. Sikap tahu diri ini membersihkan jiwa dari kesombongan, sekaligus menjadi bukti nyata kesempurnaan syukur kita kepada Allah Ta’ala.

FAQ: Pertanyaan Seputar Menerima Kebaikan Orang Lain

Bolehkah kita menolak hadiah atau pemberian dari orang lain?

Pada asalnya, jika sebuah pemberian datang tanpa kita minta dan harapkan, syariat menganjurkan kita untuk menerimanya agar tidak menyinggung perasaan si pemberi. Namun, para ulama menjelaskan pengecualian: apabila kita khawatir bahwa si pemberi kelak akan mengungkit-ungkit pemberiannya (menyebut-nyebut jasanya untuk menyakiti hati) dan merasa memiliki kuasa atas diri kita, maka dalam kondisi demikian kita diperbolehkan dan justru dianjurkan untuk menolak hadiah tersebut demi menjaga kehormatan diri.

Bagaimana jika kita benar-benar tidak memiliki harta untuk membalas pemberian?

Islam tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Jika kita tidak memiliki harta untuk membalas, Rasulullah ﷺ memberikan solusi yang sangat agung, yaitu dengan mendoakan orang tersebut. Mendoakan dengan ucapan “Jazakallahu khairan” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) dinilai oleh syariat sebagai bentuk balasan dan pujian yang telah mencapai puncaknya.

Apakah mengakui kebaikan manusia akan merusak tauhid kita kepada Allah?

Tidak sama sekali. Berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara turunnya kebaikan justru merupakan syarat sempurnanya rasa syukur kepada Allah. Hal ini asalkan di dalam batin kita tetap tertanam keyakinan (tauhid) yang kuat bahwa Sang Pemberi Rezeki yang hakiki adalah Allah, sementara manusia hanyalah sebab yang digerakkan oleh-Nya untuk menyalurkan kebaikan tersebut.

Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Syarah Riyadhush Shalihin, Mukhtashar Minhajul Qashidin.