Menerima jamuan dan hidangan dari tuan rumah merupakan salah satu momen penting untuk mempererat tali persaudaraan sesama muslim. Syariat Islam telah membimbing umatnya dengan adab-adab mulia agar seorang tamu senantiasa bersikap santun, menghargai rezeki yang disajikan, dan secara khusus menjaga perasaan orang yang telah bersusah payah menyiapkannya.
Larangan Mencela Makanan
Kaidah utama saat menerima hidangan adalah menahan lisan dari kritikan. Apabila makanan yang disajikan dirasa kurang pas di lidahโmisalnya terlalu asin, kurang matang, atau merupakan jenis masakan yang tidak disukaiโseorang tamu dilarang keras untuk mencelanya. Sikap terbaik adalah diam dan meninggalkannya tanpa memberikan komentar negatif yang dapat menyakiti hati tuan rumah.
ู ูุง ุนูุงุจู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุทูุนูุงู ูุง ููุทูู ุฅููู ุงุดูุชูููุงูู ุฃููููููู ููุฅููู ููุฑููููู ุชูุฑููููู
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Bila beliau berselera, maka beliau memakannya dan bila tak suka, maka beliau meninggalkannya.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 4989 (dan Muslim)
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Berdasarkan penjelasan dalam Syarah Riyadhussalihin, mencela makanan tidaklah pantas karena makanan tersebut adalah nikmat yang telah Allah anugerahkan dan mudahkan untuk kita. Apabila seseorang mengkritik makanan yang disuguhkan, ia tidak hanya tidak bersyukur kepada Allah, tetapi juga mengabaikan jerih payah tuan rumah atau orang yang telah memasaknya.
Menghargai dan Memuji Hidangan Tuan Rumah
Kebalikan dari mencela adalah memuji. Syariat sangat menganjurkan seorang tamu untuk memuji makanan yang disajikan kepadanya, sekecil apa pun hidangan tersebut. Hal ini terbukti dari sikap Rasulullah ketika beliau mendatangi keluarganya dan menanyakan lauk, namun tidak ada apa-apa selain cuka. Beliau tidak marah, melainkan meminta cuka tersebut lalu menyantapnya sembari memberikan pujian yang indah.
ููุนูู ู ุงููุฅูุฏูุงู ู ุงููุฎูููู
“Sebaik-baik lauk adalah cuka.”
Sumber: HR. Shahih Muslim no. 3824
Derajat: Shahih
Memuji masakan, seperti mengatakan “masakan ini sangat lezat” atau “alhamdulillah, sebaik-baiknya hidangan”, akan mendatangkan kegembiraan ke dalam hati tuan rumah. Setiap perkataan yang memasukkan rasa bahagia ke hati sesama muslim dihitung sebagai pahala dan kebaikan.
Menghindari Sikap Memberatkan Tuan Rumah
Seorang tamu yang beradab akan menerima apa adanya hidangan yang disuguhkan tanpa memaksakan permintaan khusus yang menyulitkan. Di dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin disebutkan bahwa tamu yang baik hendaknya tidak meminta makanan tertentu, kecuali ia dihadapkan pada pilihan dan ia memilih yang paling mudah. Namun, jika ia tahu bahwa tuan rumah justru sangat berbahagia jika ia meminta sesuatu dan tidak merasa direpotkan, maka hal tersebut diperbolehkan.
Kesimpulan & Hikmah
Adab menerima hidangan mencerminkan kehalusan budi pekerti seorang muslim. Dengan menahan lisan dari celaan, menyantap apa yang disajikan dengan rasa syukur, serta memberikan pujian untuk membahagiakan tuan rumah, acara makan bersama tidak lagi sekadar urusan memuaskan perut. Interaksi tersebut berubah menjadi ladang pahala, bentuk syukur atas nikmat Allah, dan sarana untuk merekatkan ikatan persaudaraan yang tulus.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menerima Hidangan
Apa yang harus dilakukan jika kita disuguhi makanan yang sama sekali tidak kita sukai?
Sikap yang diajarkan oleh Rasulullah adalah meninggalkannya secara diam-diam tanpa perlu berkomentar buruk atau merendahkan makanan tersebut. Kita cukup memakan hidangan lain yang tersedia di meja, atau menolaknya dengan bahasa isyarat yang sopan agar tuan rumah tidak tersinggung.
Bagaimana jika kita diundang untuk menyantap hidangan padahal sedang berpuasa sunnah?
Syariat menuntunkan agar kita tetap menghadiri undangan tersebut sebagai bentuk penghormatan. Jika kita melihat bahwa dengan berbuka dan memakan hidangan tersebut akan sangat membahagiakan hati tuan rumah, maka berbukalah (untuk puasa sunnah). Namun, jika kita memilih untuk melanjutkan puasa, maka sampaikanlah dengan lembut dan doakanlah kebaikan untuk sang tuan rumah, sesuai dengan hadits shahih riwayat Muslim: “Jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendoakannya (shalat/doa).”
Bolehkah kita secara khusus memuji masakan tertentu dari tuan rumah?
Sangat dianjurkan. Sebagaimana dijelaskan dalam Syarah Riyadhussalihin, memuji makanan adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengucapkan pujian kepada roti atau lauk pauk tertentu, seperti “sebaik-baiknya masakan adalah masakan ini”, merupakan bentuk apresiasi yang sejalan dengan sunnah dan akan sangat menyenangkan hati yang menyajikannya.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Riyadhussalihin, Mukhtashar Minhajul Qashidin.