Anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan dan pembelajaran, sehingga melakukan kesalahan adalah hal yang sangat wajar. Dalam ajaran Islam, menegur anak bukanlah ajang untuk melampiaskan emosi, melainkan proses pendidikan (tarbiyah) yang harus dilakukan dengan kelembutan agar tidak merusak fitrah mereka.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan agung tentang bagaimana cara meluruskan kekeliruan generasi muda tanpa menjatuhkan harga diri mereka. Berikut adalah panduan adab menegur anak berdasarkan petunjuk sunnah dan nasehat para ulama.
Panduan Adab Menegur Anak Sesuai Sunnah
1. Memberi Arahan Langsung dengan Panggilan Kesayangan
Ketika anak berbuat salah karena ketidaktahuannya, cara terbaik adalah langsung mengarahkannya kepada tindakan yang benar dengan panggilan yang lembut. Rasulullah ﷺ tidak membentak anak yang melakukan kesalahan, melainkan memberikan solusi praktis dengan penuh kasih sayang. Hal ini tampak jelas saat beliau menegur Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu yang tangannya berkeliaran di atas piring saat sedang makan.
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ تَعَالَى وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak, sebutlah nama Allah ta’ala, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang dekat denganmu.”
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
2. Menasihati Secara Rahasia dan Tidak Mempermalukan
Dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin dijelaskan sebuah panduan berharga dalam mendidik mental anak. Apabila anak menunjukkan suatu akhlak atau perbuatan yang kurang tepat, ada kalanya kesalahan tersebut patut didiamkan sejenak dan tidak perlu dibongkar atau dipermalukan di hadapan orang lain. Jika anak mengulanginya, barulah ia dinasihati secara rahasia. Menegur dengan cara tertutup akan menjaga kewibawaan nasihat orang tua sekaligus memelihara harga diri anak agar ia tidak merasa terus-menerus disudutkan.
3. Menghindari Pukulan Kecuali Terpaksa dengan Syarat Ketat
Pendidikan Islam sangat mengedepankan kelembutan, keteladanan, dan dialog. Hukuman fisik (pukulan) adalah opsi terakhir yang hanya diizinkan untuk perkara prinsipil dalam agama, seperti kedisiplinan ibadah wajib, dan itu pun baru boleh dilakukan ketika anak sudah cukup besar untuk memahaminya (usia sepuluh tahun).
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah kepada anak-anakmu shalat, sedang mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka kalau meninggalkannya, sedang mereka berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah di antara mereka itu dari tempat tidurnya.”
Sumber: HR. Abu Daud no. 495
Derajat: Hasan Shahih
Para ulama dalam Syarah Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa pukulan ini murni bertujuan untuk mendidik (tarbiyah), bukan untuk menyakiti. Pukulan tersebut tidak boleh melukai, tidak boleh dilakukan secara berulang tanpa keperluan, dan tidak boleh dilandasi oleh luapan amarah orang tua.
4. Haram Menegur Fisik di Bagian Wajah
Apabila teguran fisik terpaksa dilakukan sesuai batas syariat demi pendidikan kedisiplinan, maka syariat memberikan satu larangan mutlak: haram memukul wajah. Wajah adalah bagian tubuh manusia yang paling mulia dan paling dihormati. Memukul wajah tidak hanya dapat membahayakan fisik, tetapi juga sangat merendahkan martabat dan menjatuhkan mental seorang anak.
إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَّقِ الْوَجْهَ
“Jika seseorang di antara kalian memukul, maka hindarilah bagian wajah (muka).”
Sumber: HR. Abu Daud no. 4493
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Menegur anak dengan bijak adalah wujud nyata dari tanggung jawab dan kasih sayang orang tua. Dengan menghindari bentakan, tidak mempermalukan mereka di depan umum, serta mengutamakan kelembutan dan arahan yang jelas, orang tua sejatinya sedang menanamkan akhlak mulia ke dalam jiwa anak. Ketegasan pendidikan tidak selalu harus diwujudkan dengan kekasaran. Justru, teguran yang santun dan menghargai perasaan jauh lebih mudah diterima oleh hati anak dan akan terus membekas sebagai pelajaran berharga hingga mereka tumbuh dewasa.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menegur Anak
Bolehkah membiarkan kesalahan anak saat pertama kali terjadi?
Jika kesalahan tersebut bersifat ringan dan terjadi murni karena ketidaktahuan sang anak, sangat dianjurkan untuk memberikan teguran yang halus atau bahkan mengabaikan kesalahannya secara lisan namun memperbaikinya dengan keteladanan. Sebagaimana dijelaskan dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, mendiamkan kesalahan kecil dan menasihatinya secara rahasia jika kesalahan itu diulang akan membuat anak merasa lebih dihargai dan tidak gampang putus asa akibat terus disalahkan.
Kapan anak boleh diberi teguran fisik untuk mendidik?
Hukuman atau teguran fisik adalah langkah pemungkas. Syariat memberikan izin memukul (yang sifatnya tidak menyakitkan dan tidak melukai) hanya untuk perkara syariat yang sangat penting, yaitu ketika anak mengabaikan shalat wajib, dan hal itu baru diizinkan saat anak telah menginjak usia sepuluh tahun. Tujuannya adalah untuk mendisiplinkan fitrah beragama anak, bukan untuk melegalkan pelampiasan emosi orang tua.
Bagaimana cara Rasulullah menegur anak di depan makanan?
Rasulullah ﷺ menegur dengan cara yang sangat positif dan memberdayakan. Saat melihat Umar bin Abi Salamah makan dengan tangan yang berkeliaran di atas piring, beliau memanggilnya dengan lembut “Wahai anak”, lalu langsung mengajarkan tiga adab makan sebagai solusi: menyebut nama Allah, makan dengan tangan kanan, dan mengambil makanan yang terdekat. Teguran ini sama sekali tidak merendahkan mental, melainkan langsung memberikan bimbingan yang tepat.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhush Shalihin, Mukhtashar Minhajul Qashidin.