Islam sangat memperhatikan keharmonisan rumah tangga sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat. Salah satu pilar terpenting untuk menjaga kebahagiaan tersebut adalah adab berkomunikasi antara suami dan istri. Tutur kata yang santun, romantis, dan penuh kasih sayang bukan sekadar bumbu pernikahan, melainkan wujud ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Syariat Islam memberikan panduan yang sangat indah agar interaksi verbal dan non-verbal di antara pasangan suami istri senantiasa mendatangkan ketenangan (sakinah) dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Berikut adalah tuntunan adab berbicara kepada pasangan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Panduan Komunikasi dan Adab Berbicara Suami Istri
1. Bergaul dan Berbicara dengan Perkataan yang Ma’ruf (Patut)
Kewajiban paling mendasar dalam komunikasi rumah tangga adalah menggunakan tutur kata yang baik dan patut. Allah Ta’ala secara khusus memerintahkan para suami untuk mempergauli istri-istri mereka dengan cara yang ma’ruf, yang mencakup kelembutan lisan dan kebaikan perbuatan.
… وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُواْ شَيْـًٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا ﴿١٩﴾
“…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)
Para ulama tafsir seperti Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa pergaulan yang ma’ruf mencakup hubungan yang baik, keramahan dalam bermuamalah, bermanis muka, serta menjauhi perkataan yang kasar atau menyakitkan hati pasangan.
2. Memahami Perasaan dan Keadaan Hati Pasangan
Komunikasi yang romantis tidak hanya sebatas ucapan, tetapi juga kepekaan membaca kondisi emosional pasangan. Rasulullah ﷺ memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Beliau sangat memahami kapan istri tercintanya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, sedang merasa senang atau sedang menyimpan kekesalan (cemburu/marah) kepadanya.
إِنِّي لَأَعْرِفُ غَضَبَكِ وَرِضَاكِ قَالَتْ قُلْتُ وَكَيْفَ تَعْرِفُ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّكِ إِذَا كُنْتِ رَاضِيَةً قُلْتِ بَلَى وَرَبِّ مُحَمَّدٍ وَإِذَا كُنْتِ سَاخِطَةً قُلْتِ لَا وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ قَالَتْ قُلْتُ أَجَلْ لَسْتُ أُهَاجِرُ إِلَّا اسْمَكَ
“Sesungguhnya aku mengetahui bila kamu ridha dan ketika kamu sedang marah.” Aisyah berkata; “Bagaimana Anda bisa mengetahui hal itu wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Sesungguhnya jika kamu sedang ridha maka kamu akan mengatakan; ‘Tentu, demi Rabb Muhammad’, sementara bila kamu sedang marah, maka kamu akan mengatakan; ‘Tidak, demi Rabb Ibrahim’.” Aisyah berkata; lalu kataku; “Benar, aku tidak merasa jengkel (menghindari) kecuali dengan namamu.”
Sumber: HR. Bukhari no. 5614 dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
3. Menghindari Celaan, Umpatan, dan Kata-kata Kasar
Di saat terjadi perselisihan, syariat melarang keras melontarkan celaan verbal kepada pasangan. Menghina fisik, merendahkan nasab, atau mendoakan keburukan (seperti ucapan “semoga Allah menjelekkanmu”) adalah perbuatan yang diharamkan, bahkan saat suami memiliki hak untuk mendidik istri yang nusyuz.
أَطْعِمُوهُنَّ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَاكْسُوهُنَّ مِمَّا تَكْتَسُونَ وَلَا تَضْرِبُوهُنَّ وَلَا تُقَبِّحُوهُنَّ
“Berilah mereka makan dari apa-apa yang kalian makan, dan berilah mereka pakaian dari apa yang kalian pakai. Janganlah kalian memukul mereka, dan jangan pula mencela mereka.”
Sumber: HR. Abu Daud no. 2144
Derajat: Shahih
Sebagaimana dijelaskan oleh ulama dalam Syarah Riyadhush Shalihin, larangan menjelek-jelekkan ini mencakup larangan menjelekkan secara fisik maupun maknawi. Suami tidak boleh berkata kepada istrinya, “Kamu berwajah jelek,” atau “Kamu dari suku yang buruk,” karena hal tersebut akan merusak kasih sayang.
4. Menghidupkan Kemesraan dengan Canda Tawa
Sebagian orang keliru memahami kewibawaan dengan bersikap kaku dan selalu tegang di depan istri. Padahal, Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan para suami untuk bisa bersenda gurau, mencumbu, dan bermain-main dengan istrinya untuk merekatkan tautan hati.
فَهَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ
“Kenapa engkau tidak memilih seorang gadis yang dapat mencumbumu dan engkau mencumbunya, serta ia bisa membuatmu tertawa dan engkau bisa membuatnya tertawa?”
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
5. Diperbolehkan Melebih-lebihkan Kata Cinta (Bohong demi Kebaikan)
Dalam Islam, berdusta adalah dosa besar. Namun, demi menumbuhkan keakraban dan menjaga keutuhan rumah tangga, syariat memberikan keringanan khusus bagi suami dan istri untuk melebih-lebihkan ungkapan perasaan mereka. Hal ini bukan bertujuan untuk menipu hak atau kewajiban, melainkan semata-mata untuk membahagiakan pasangan.
“Aku tidak mendengar beliau memberikan keringanan dalam sesuatu yang dikatakan orang-orang (berdusta) kecuali dalam tiga hal: perang, mendamaikan antara manusia, dan pembicaraan suami dengan istrinya serta pembicaraan istri dengan suaminya.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
Sebagai contoh, seorang suami boleh mengucapkan kalimat romantis seperti, “Engkau adalah wanita paling cantik di dunia bagiku,” atau “Aku mencintaimu lebih dari segalanya,” meskipun pada hakikatnya ungkapan itu berlebihan, karena maslahat dari perkataan tersebut sangat besar dalam menguatkan bangunan cinta.
Kesimpulan & Hikmah
Rumah tangga Islami dibangun di atas pilar penghormatan dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Adab berbicara kepada pasangan dengan tutur kata yang santun, menahan diri dari celaan dan amarah, serta menghidupkan komunikasi yang romantis dan diselingi canda tawa merupakan peneladanan langsung dari akhlak Rasulullah ﷺ. Dengan mempraktikkan komunikasi yang hangat ini, ikatan pernikahan akan senantiasa kuat menghadapi badai permasalahan, dan setiap kata baik yang diucapkan akan dihitung sebagai sedekah di sisi Allah Ta’ala.
FAQ: Pertanyaan Seputar Komunikasi Suami Istri
Apakah berbohong kepada pasangan benar-benar diperbolehkan dalam Islam?
Ya, dengan batasan yang sangat ketat. Berdasarkan riwayat Imam Muslim dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, kedustaan antara suami istri diberi keringanan jika tujuannya murni untuk menumbuhkan cinta, kemesraan, dan keharmonisan (seperti melebih-lebihkan pujian kecantikan atau rasa cinta). Namun, berbohong untuk lari dari kewajiban, menutupi kezaliman, atau menipu hak finansial tetap diharamkan secara mutlak.
Bagaimana sikap yang benar jika kita sedang marah kepada pasangan?
Islam menuntun agar kemarahan tidak dilampiaskan dengan caci maki. Jika sedang marah, seseorang dianjurkan untuk diam dan menahan lisan agar tidak mengeluarkan kata-kata kotor atau mendoakan keburukan (seperti “semoga Allah menjelekkan wajahmu”). Rasulullah ﷺ juga mengisyaratkan untuk tidak saling memboikot (mendiamkan total) lebih dari tiga hari, dan yang paling mulia adalah yang pertama kali kembali mengucapkan salam.
Apakah bercanda dengan istri termasuk amalan yang membuang waktu?
Sama sekali tidak. Bersenda gurau, mencumbu, dan bermain-main dengan pasangan adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan bernilai pahala. Rasulullah ﷺ dalam hadits shahih menyarankan sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu agar memilih pasangan yang dengannya ia bisa saling mencumbu dan saling membuat tertawa. Ini membuktikan bahwa canda tawa adalah instrumen penting penyubur cinta dalam syariat.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhush Shalihin, Minhajul Muslim, Mukhtashar Minhajul Qashidin.