Adab Berbeda Pendapat: 5 Cara Menyikapi Perbedaan dengan Lapang Dada Sesuai Tuntunan Salaf

Perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah sebuah keniscayaan yang kerap terjadi di tengah kehidupan umat manusia, termasuk di kalangan kaum muslimin. Dalam ajaran Islam, perbedaan pemahaman—khususnya dalam masalah cabang agama (furu’iyah)—tidak semestinya bermuara pada permusuhan atau perpecahan.

Para ulama salafussalih telah memberikan teladan emas tentang bagaimana mengelola ego dan menyikapi perbedaan dengan penuh kelapangan dada. Berikut adalah 5 panduan adab berbeda pendapat sesuai dengan tuntunan salaf agar perselisihan tidak merusak ukhuwah islamiyah.

Panduan Adab Berbeda Pendapat Sesuai Tuntunan Salaf

1. Mengembalikan Akar Perselisihan kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Langkah paling mendasar ketika menghadapi perbedaan pandangan adalah menyadari bahwa standar kebenaran tertinggi bukanlah akal atau hawa nafsu, melainkan wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah ﷺ. Mengembalikan segala urusan yang diperselisihkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah adalah tanda kebenaran iman seseorang.

📖 Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ﴿٥٩﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Nabi Muhammad ﷺ juga telah memberikan wasiat penting agar umatnya tidak tersesat manakala melihat banyaknya perselisihan di kemudian hari.

📜 Hadits

“Barangsiapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian.”

Periwayat: ‘Irbadh bin Sariyah
Sumber: HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi
Derajat: Hasan Shahih

2. Meyakini Hanya Perkataan Rasulullah ﷺ yang Maksum

Seorang muslim yang beradab menyadari bahwa tidak ada satu pun manusia yang luput dari kesalahan (maksum) kecuali Rasulullah ﷺ. Keterikatan buta (taklid) pada satu tokoh atau mazhab hingga menolak kebenaran dari pihak lain adalah sikap yang dijauhi oleh para ulama salaf. Sebagaimana nasihat emas dari Imam Malik bin Anas yang diabadikan oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala, beliau menegaskan:

“Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali pemilik kubur ini shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Oleh karena itu, siapapun yang memiliki pemahaman fikih yang baik tidak sepatutnya terikat kaku pada satu pandangan jika telah tampak jelas dalil kebenaran dari pandangan yang lain.

3. Memaklumi Perbedaan Pemahaman dalam Masalah Furu’ (Cabang Agama)

Dalam masalah-masalah ijtihadiyah atau cabang-cabang ilmu fikih, para ulama sering kali memiliki pendapat yang bervariasi. Adab yang diajarkan dalam rujukan Minhajul Muslim adalah menerima alasan mereka dan berbaik sangka bahwa perselisihan tersebut bukanlah lahir dari kebodohan atau fanatisme, melainkan karena proses pemahaman nash yang sah.

Bisa jadi seorang imam belum menerima suatu hadits, atau memahami makna lafaz nash secara berbeda dengan imam lainnya. Saling menghormati proses ijtihad ini akan menumbuhkan toleransi dan menghindarkan umat dari sikap saling menyesatkan.

4. Rela Melepas Pendapat Pribadi Jika Dalil Telah Jelas

Salah satu penyakit hati dalam berdiskusi adalah rasa gengsi untuk mengakui kesalahan. Sebagian orang merasa kedudukannya akan jatuh jika ia menarik kembali pendapatnya. Padahal, para ulama salaf memberikan teladan kebesaran jiwa untuk tunduk pada dalil yang lebih kuat.

Dijelaskan dalam Syarah Riyadhush Shalihin, wajib bagi seseorang untuk kembali kepada kebenaran di mana pun ia menemukannya, meskipun bertentangan dengan perkataannya semula. Ketundukan ini justru lebih mulia di sisi Allah dan manusia. Sebagai contoh, Imam Ahmad bin Hanbal terkadang memiliki lebih dari empat pendapat dalam satu persoalan, semata-mata karena beliau senantiasa bergeser mengikuti arah dalil yang lebih kuat baginya.

5. Menghindari Perdebatan Kusir yang Diniatkan untuk Sombong

Berbeda pendapat untuk mencari titik temu kebenaran adalah hal yang baik, namun jika sudah berubah menjadi ajang pamer kecerdasan atau ingin menjatuhkan lawan bicara, maka hal tersebut sangat diharamkan. Disebutkan dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin bahwa perdebatan yang dilakukan dalam rangka mengalahkan pihak lain dan untuk berbangga-banggaan adalah sumber akhlak tercela.

Pelaku perdebatan semacam ini sering kali dihinggapi sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan riya’, karena lisannya hanya diarahkan untuk mendapat sanjungan manusia, bukan untuk menggapai rida Allah di akhirat.

Kesimpulan & Hikmah

Adab dalam berbeda pendapat adalah cermin kedewasaan iman seseorang. Dengan senantiasa merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, meyakini bahwa hanya Rasulullah ﷺ yang maksum, menghormati ijtihad ulama, membuang gengsi saat menemukan kebenaran, serta menghindari perdebatan kusir, kita dapat merawat persaudaraan (ukhuwah) di atas perbedaan. Kebenaran haruslah terus dicari, namun kehormatan saudara sesama muslim juga wajib dijaga.

FAQ: Pertanyaan Seputar Perbedaan Pendapat

Bolehkah kita bertaklid buta pada satu mazhab meskipun dalil lain lebih kuat?

Tidak dianjurkan bagi penuntut ilmu yang memiliki kemampuan analisis (fikih). Tokoh ulama seperti Al-Hafizh Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa siapapun yang memiliki pemahaman fikih yang matang tidak layak terikat pada satu mazhab secara buta jika dalil dari mazhab lain terbukti lebih jelas kebenarannya. Namun, ia tidak boleh sembarangan berfatwa menyalahi keumuman kepada orang awam tanpa landasan ilmu dan hikmah yang kuat.

Bagaimana menyikapi orang awam yang menentang sunnah karena belum tahu?

Harus dihadapi dengan kesabaran dan kelembutan, bukan dengan kemarahan. Sebagaimana dijelaskan dalam Syarah Riyadhush Shalihin, jika seseorang ingin menerapkan suatu kebaikan atau sunnah lalu orang awam mengingkarinya, ia tidak sepatutnya lekas emosi. Ia harus bersabar, memberi jeda, dan mengedukasi mereka secara bertahap hingga jiwa mereka tenang dan terbiasa dengan sunnah tersebut.

Mengapa para ulama bisa memiliki perbedaan pendapat padahal sumbernya sama?

Perbedaan pemahaman di antara ulama salaf umumnya dilandasi oleh udzur yang dapat diterima syariat. Terkadang sebuah hadits shahih belum sampai kepada seorang imam, atau hadits tersebut dipandang telah dihapus hukumnya (mansukh), atau mereka memiliki interpretasi tata bahasa yang berbeda terhadap lafaz tertentu dalam nash Al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini menjadikan ruang ijtihad sebagai rahmat keluasan bagi umat.

Sumber: Al-Qur’an, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Siyar A’lam An-Nubala, Minhajul Muslim, Syarah Riyadhush Shalihin.