Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim yang menjadi jalan kemudahan menuju surga. Selain di majelis ilmu atau madrasah, rumah memiliki peran yang sangat penting sebagai pusat pendidikan pertama bagi seorang mukmin. Menciptakan suasana Islami yang kondusif di rumah tidak hanya membuat kegiatan belajar menjadi nyaman, tetapi juga mengundang keberkahan, rahmat, dan perlindungan dari gangguan setan yang kerap memecah konsentrasi.
Menjadikan Rumah Sebagai Pusat Kebaikan dan Ilmu
Langkah pertama untuk membangun adab belajar di rumah adalah memastikan bahwa lingkungan rumah tersebut hidup dengan nuansa ketaatan, bukan tempat yang gersang dari ibadah.
Menghidupkan Rumah dengan Bacaan Al-Qur’an
Suasana yang bising dengan hal-hal yang melalaikan atau sepi dari ibadah akan menyulitkan seseorang untuk fokus menyerap ilmu. Syariat menuntunkan agar kita menjadikan rumah sebagai tempat ibadah dan memperbanyak bacaan Al-Qur’an di dalamnya, terutama surah Al-Baqarah, agar rumah tersebut bersih dari gangguan setan.
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.”
Sumber: HR. Shahih Muslim no. 1300
Derajat: Shahih
Mengingat Pelajaran dan Hikmah di Rumah
Selain membaca Al-Qur’an, rumah juga dianjurkan menjadi tempat untuk mengulang-ulang pelajaran agama dan hikmah (sunnah). Hal ini diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai bimbingan kepada istri-istri Nabi agar senantiasa mengingat dan mengkaji ilmu di kediaman mereka.
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلٰى فِيْ بُيُوْتِكُنَّ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ وَالْحِكْمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ لَطِيْفًا خَبِيْرًا ࣖ ﴿٣٤﴾
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)
Adab Penuntut Ilmu di Rumah
Ketika suasana rumah sudah terbangun dengan baik, seorang pembelajar wajib menghiasi dirinya dengan adab-adab menuntut ilmu agar waktu yang dihabiskan untuk membaca dan menelaah buku mendatangkan hasil yang maksimal.
Meluruskan Niat Semata Karena Allah
Belajar di rumah sering kali luput dari pandangan orang lain, sehingga menuntut keikhlasan yang ekstra. Seseorang harus memastikan bahwa niatnya membuka buku dan menuntut ilmu syar’i adalah murni untuk mencari wajah Allah dan menghilangkan kebodohan, bukan sekadar untuk mengejar jabatan, ijazah, atau keuntungan duniawi.
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
“Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh kepentingan dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat, yakni baunya.”
Sumber: HR. Sunan Abu Daud
Derajat: Shahih
Berdoa dan Memohon Tambahan Ilmu
Sebelum memulai menelaah kitab atau menghafal pelajaran, adab yang diajarkan oleh Al-Qur’an adalah tidak tergesa-gesa. Seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk memohon kepada Allah agar diberikan tambahan pemahaman, karena ilmu adalah cahaya yang hanya diturunkan atas kehendak-Nya.
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖوَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا ﴿١١٤﴾
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS. Thaha: 114)
Menjauhi Rasa Malas dan Terlalu Santai
Kenyamanan berada di rumah (seperti dekat dengan kasur atau tempat bersantai) sering kali memicu rasa malas dan kantuk. Seorang pembelajar yang bersungguh-sungguh harus melawan hawa nafsu tersebut. Nasihat berharga disampaikan oleh ulama salaf bahwa ilmu yang berkah membutuhkan perjuangan fisik dan mental.
لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
“Ilmu tidak bisa diraih dengan mengistirahatkan badan (ogah-ogahan).”
Sumber: HR. Shahih Muslim no. 968
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Menciptakan suasana belajar yang Islami di rumah adalah perpaduan antara memelihara kebiasaan ibadah dan menerapkan kedisiplinan diri. Dengan menghidupkan rumah melalui bacaan Al-Qur’an, menjaga niat tulus karena Allah, senantiasa berdoa meminta tambahan ilmu, serta menyingkirkan kemalasan, rumah tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi berubah menjadi madrasah yang penuh dengan rahmat dan cahaya ilmu.
FAQ: Pertanyaan Seputar Belajar di Rumah
Mengapa rumah tidak boleh sepi dari ibadah dan bacaan Al-Qur’an?
Syariat menyebutkan bahwa rumah yang tidak pernah digunakan untuk beribadah atau membaca Al-Qur’an diibaratkan seperti kuburan yang sunyi dan gelap. Membacakan Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah, sangat dianjurkan karena dapat mengusir setan yang sering kali memberikan gangguan was-was atau rasa malas bagi penghuninya, termasuk saat mereka sedang menuntut ilmu.
Bolehkah kita belajar agama di rumah hanya untuk mengejar status duniawi?
Mempelajari ilmu syar’i murni demi mengejar gelar, ijazah, kekayaan, atau kedudukan duniawi adalah tindakan yang sangat dilarang. Berdasarkan sabda Rasulullah, niat yang salah dalam menuntut ilmu agama diancam dengan keras, di mana pelakunya kelak tidak akan mencium aroma surga di hari kiamat. Oleh karena itu, meluruskan niat sangatlah penting.
Bagaimana cara mengatasi rasa malas saat belajar di rumah?
Kenyamanan di rumah memang sering membawa pada kelalaian. Cara mengatasinya adalah dengan mengingat prinsip para ulama salaf bahwa “Ilmu tidak bisa diraih dengan mengistirahatkan badan.” Selain itu, aturlah waktu belajar dengan baik, jangan terlalu memaksakan diri hingga lelah berlebihan, dan senantiasa berdoa kepada Allah dengan membaca, “Rabbi zidni ‘ilma” agar diberikan kejelasan pemahaman.
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhussalihin.