Memulai hari dengan benar adalah kunci untuk mendapatkan keberkahan dan produktivitas dalam rutinitas seorang muslim. Agama Islam, melalui teladan Rasulullah ﷺ, telah memberikan panduan yang sangat rinci tentang adab bangun tidur agar momen pertama kita membuka mata langsung bernilai ibadah.
Terdapat serangkaian sunnah ringan namun berdampak besar yang biasa diamalkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Berikut adalah 7 panduan adab bangun tidur sesuai sunnah yang patut kita hidupkan setiap hari.
Panduan Adab Bangun Tidur Sesuai Sunnah
1. Mengusap Sisa Kantuk di Wajah
Hal pertama yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ sesaat setelah terbangun adalah duduk dan mengusap wajah dengan tangan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan sisa-sisa kantuk agar kesadaran dan kesegaran segera kembali penuh.
فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ
“…beliau bangun dan duduk sambil mengusap sisa-sisa kantuk yang ada di wajahnya dengan tangan…”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
2. Membaca Doa Bangun Tidur
Setelah kesadaran terkumpul, lisan seorang muslim hendaknya langsung memuji Allah yang telah mengembalikan ruh ke dalam jasad. Doa ini juga menjadi pengingat akan hari kebangkitan kelak di akhirat.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
3. Membersihkan Mulut dengan Siwak
Kondisi mulut yang tertutup selama tidur sering kali menyebabkan perubahan bau mulut. Oleh karena itu, sangat ditekankan untuk segera menggosok gigi atau bersiwak demi menjaga kebersihan serta mengundang ridha Allah Ta’ala.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ لِلتَّهَجُّدِ مِنْ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun malam untuk shalat tahajjud, Beliau menggosok dan membersihkan mulut Beliau dengan siwak.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
4. Mencuci Kedua Tangan Tiga Kali Sebelum Berwudhu
Sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga kesucian air, Rasulullah melarang kita untuk langsung mencelupkan tangan ke dalam wadah air (bejana) saat baru bangun tidur, melainkan wajib mencucinya terlebih dahulu di luar bejana sebanyak tiga kali.
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي وَضُوئِهِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, maka jangan mencelupkan (memasukkan) tangannya ke dalam tempat wudhunya sebelum membasuhnya tiga kali, karena salah seorang dari kalian tidak mengetahui di mana tangannya berada (pada waktu ia tidur).”
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
5. Beristintsar (Mengeluarkan Air dari Hidung)
Saat seseorang tertidur, setan berdiam di dalam rongga hidung. Maka, sunnah mengajarkan kita untuk menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) dan segera menyemburkannya atau mengeluarkannya (istintsar) sebanyak tiga kali saat berwudhu.
إِذَا اسْتَيْقَظَ أُرَاهُ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ
“Jika terbangun… seseorang dari kalian, dari tidurnya hendaklah dia berwudlu’ dan beristinsyar (memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya) tiga kali, karena setan tidur pada batang hidung orang itu.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
6. Berwudhu dan Mendirikan Shalat untuk Melepas Ikatan Setan
Setiap kali manusia tidur, setan membuat tiga ikatan di tengkuknya untuk membuatnya malas bangun. Tiga ikatan ini hanya bisa diurai secara sempurna melalui tiga amalan berurutan: berdzikir, berwudhu, dan mendirikan shalat.
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan… Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas beraktifitas.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
7. Membaca Ayat Terakhir Surat Ali ‘Imran (Bagi yang Bangun Malam)
Bagi Anda yang terbangun di pertengahan malam untuk menunaikan shalat tahajjud, Rasulullah ﷺ memberikan teladan khusus dengan membaca sepuluh ayat terakhir dari Surat Ali ‘Imran (ayat 190–200) seraya menatap ke arah langit.
ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الْآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ
“…Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali ‘Imran. Kemudian berdiri menuju tempat wudlu, beliau lalu berwudlu dengan memperbagus wudlunya, lalu shalat.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Banyaknya panduan adab yang dicontohkan Rasulullah ﷺ ketika bangun tidur membuktikan bahwa Islam memandang transisi dari alam tidur menuju alam sadar sebagai momen spiritual yang berharga. Dengan mengusap wajah, menyebut nama Allah, menjaga kebersihan diri, dan mendirikan shalat, seorang muslim sesungguhnya sedang memutus belenggu kemalasan dari setan dan melangkah menuju hari yang cerah dengan jiwa yang tenang dan penuh energi kebaikan.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Bangun Tidur
Mengapa kita dilarang memasukkan tangan ke dalam bejana air saat baru bangun?
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa saat kita tertidur lelap, kita tidak menyadari di mana tangan kita bergerak atau bersentuhan dengan apa. Larangan ini adalah bentuk kehati-hatian (preventif) agar air wudhu dalam bejana yang akan dipakai bersuci tetap terjaga kebersihan dan kesuciannya.
Apakah doa bangun tidur harus selalu dibaca dalam bahasa Arab?
Membaca doa sesuai dengan redaksi bahasa Arab yang diajarkan oleh Nabi ﷺ adalah yang paling utama karena mengandung keberkahan sunnah. Namun, jika seseorang belum hafal, ia tetap dianjurkan untuk memuji Allah Ta’ala dengan terjemahan atau bahasa yang ia pahami sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat kehidupan yang baru.
Bagaimana jika saya bangun kesiangan dan waktu shubuh sudah hampir habis?
Bila seseorang tanpa sengaja bangun terlambat, prioritas utamanya adalah segera berwudhu dan mendirikan shalat wajib (Shubuh) sebelum waktunya benar-benar habis. Rangkaian adab seperti membaca doa dan berwudhu tersebut tetap terhitung sebagai pelepas ikatan setan, sebagaimana yang disebutkan dalam rujukan hadits yang sahih.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhush Shalihin.