Adab Berbicara yang Baik: Menjaga Lisan dan Menebar Kebaikan Lewat Kata-Kata

Lisan adalah salah satu nikmat besar karunia Allah, namun ia juga dapat menjadi sumber kebinasaan jika tidak dikendalikan dengan iman. Syariat Islam memberikan panduan adab berbicara agar lisan senantiasa membawa manfaat, merajut persaudaraan, dan menjauhkan diri dari penyesalan di dunia maupun akhirat.

Berikut adalah panduan adab berbicara yang baik sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ yang patut kita amalkan.

Panduan Adab Berbicara Sesuai Sunnah

1. Berkata yang Baik atau Memilih Diam

Kaidah utama dalam menjaga lisan adalah menimbang ucapan sebelum mengeluarkannya. Jika perkataan tersebut mengandung kebaikan, maka sampaikanlah. Namun jika mengandung keburukan atau kesia-siaan, syariat memerintahkan kita untuk diam.

📜 Hadits

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

2. Mengucapkan Perkataan yang Benar (Sadida) dan Halus

Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminin untuk senantiasa bertakwa dan mengucapkan perkataan yang lurus serta benar. Perkataan yang benar akan mendatangkan perbaikan amal dan ampunan dosa. Selain itu, Islam mengajarkan untuk bertutur kata yang halus guna menutup celah bagi setan yang ingin menyebarkan permusuhan.

📖 Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ﴿٧٠﴾ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ … ﴿٧١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu…” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

3. Menyadari Bahwa Setiap Kata Dicatat Malaikat

Seorang muslim harus sadar bahwa setiap kalimat yang meluncur dari lisannya tidak akan menguap begitu saja. Ada malaikat pengawas yang senantiasa mencatat, baik itu perkataan yang bernilai pahala maupun dosa.

📖 Al-Qur’an

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ﴿١٨﴾

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Kelalaian dalam berbicara dapat mendatangkan bahaya besar. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa seseorang bisa saja mengucapkan suatu perkataan tanpa dipikirkan kandungannya, namun ternyata kalimat tersebut membuatnya tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari timur dan barat.

4. Berbicara Jelas dan Sesuai Pemahaman Lawan Bicara

Adab berkomunikasi adalah menyampaikan pesan agar mudah dipahami. Nabi Muhammad ﷺ memiliki tutur kata yang jelas, tegas, dan tidak tumpang tindih. Bahkan, beliau akan mengulang perkataannya hingga tiga kali apabila kalimat tersebut belum dipahami oleh lawan bicaranya.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Ath-Thufail, bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat, “Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?”

5. Menghindari Kata-Kata Keji, Kasar, dan Cacian

Akhlak seorang mukmin tercermin dari kebersihan lisannya. Syariat sangat melarang keras kebiasaan mencela, melaknat, serta menggunakan kata-kata kotor (fuhsy) dalam kehidupan sehari-hari maupun saat sedang marah.

📜 Hadits

“Seorang mukmin bukanlah pencela, bukan pelaknat, bukan yang berkata keji, dan bukan yang bertutur kata buruk.”

Periwayat: Ibnu Mas’ud
Sumber: HR. Tirmidzi
Derajat: Hasan

6. Menjauhi Sikap Sombong dan Banyak Bicara

Islam mencela orang-orang yang gemar mendominasi pembicaraan demi menunjukkan kehebatannya atau memaksakan kefasihan bahasanya untuk menyombongkan diri di hadapan orang lain.

📜 Hadits

وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ

“Dan sesungguhnya yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh dari aku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara (tanpa manfaat), yang berbicara dengan sombong (dibuat-buat), dan al-mutafahiqun (orang-orang yang sombong).”

Periwayat: Jabir bin Abdullah
Sumber: HR. Tirmidzi
Derajat: Hasan

7. Tidak Berbisik Berduaan Jika Sedang Bertiga

Sebuah adab sosial yang sangat dijaga dalam Islam adalah menjaga perasaan saudara seiman. Apabila terdapat tiga orang dalam suatu majelis, dua orang di antaranya dilarang untuk berbisik-bisik secara rahasia dan meninggalkan orang yang ketiga.

📜 Hadits

إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةٌ فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ

“Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dengan membiarkan yang ketiganya.”

Periwayat: Abdullah bin Umar
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Kesimpulan & Hikmah

Lisan adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hati. Dengan mempraktikkan adab-adab berbicara—seperti memilih diam saat tak ada kebaikan, menghindari kata keji, menjaga kejelasan, dan tidak sombong—seorang muslim sesungguhnya sedang menyelamatkan dirinya dari murka Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ, muslim yang paling utama adalah ia yang orang lain merasa aman dari keburukan lisan dan tangannya.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Berbicara

Apa bahayanya jika seseorang tidak menjaga lisannya?

Bahayanya sangat besar hingga menyangkut keselamatan di akhirat. Dalam sebuah hadits, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya apakah manusia akan disiksa karena ucapannya. Rasulullah ﷺ menjawab tegas bahwa tidak ada yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan wajah tersungkur melainkan akibat hasil panenan lisan-lisan mereka.

Siapakah muslim yang paling baik kedudukannya?

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma, ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengenai muslim yang paling baik, beliau menjawab bahwa muslim yang paling baik adalah seorang muslim yang membuat orang lain (kaum muslimin) merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.

Mengapa kita dilarang berbisik berduaan jika sedang bertiga?

Syariat Islam sangat menjaga kebersihan hati dan persaudaraan. Dalam riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa alasan dilarangnya dua orang berbisik meninggalkan orang ketiga adalah karena perbuatan tersebut dapat membuat orang yang ketiga merasa sedih, curiga, atau merasa diabaikan.

Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Tirmidzi, Tafsir As Sa’di, Syarah Riyadhush Shalihin, Mukhtashar Minhajul Qashidin.