Ajaran Islam sangat menjunjung tinggi etika dan sopan santun, terutama dalam interaksi antara yang muda dan yang lebih tua. Menjaga lisan, memilih diksi yang lembut, serta menunjukkan sikap rendah hati saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua bukanlah sekadar etika sosial, melainkan wujud nyata dari kesempurnaan akhlak dan keimanan seorang muslim.
Kewajiban Menghormati Orang yang Lebih Tua
Syariat Islam menetapkan penghormatan kepada orang yang lebih tua sebagai bagian dari sunnah dan tanda kebaikan akhlak. Rasulullah memberikan peringatan tegas bagi mereka yang mengabaikan adab saling menyayangi dan menghormati antar generasi.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak (pula) menghormati orang tua kami.”
Sumber: HR. Sunan Tirmidzi no. 1919
Derajat: Shahih
Adab Berbicara dan Berkomunikasi Sesuai Sunnah
Agar interaksi dengan orang yang lebih tua senantiasa mendatangkan keberkahan dan keridhaan Allah, terdapat beberapa adab lisan dan bahasa tubuh yang perlu diterapkan.
Mendahulukan Orang yang Lebih Tua untuk Berbicara
Dalam sebuah majelis atau ketika menyampaikan suatu urusan, syariat menuntunkan agar orang yang lebih muda menahan diri sejenak dan memberikan kesempatan pertama kepada orang yang lebih tua untuk berbicara atau berpendapat. Hal ini dicontohkan dalam kisah Abdurrahman bin Sahl dan Muhayshah. Ketika Abdurrahman—yang paling muda di antara mereka—hendak memulai pembicaraan untuk mengadukan suatu perkara, Nabi Muhammad langsung menegurnya.
“Yang besar, yang besar!” (padahal dia adalah yang termuda dari mereka. Maka dia diam, lalu keduanya berbicara).
Sumber: HR. Muttafaq ‘alaih
Derajat: Shahih
Para ulama menjelaskan bahwa ucapan “Kabbir, kabbir” (Dahulukan yang lebih tua) adalah prinsip utama dalam majelis, di mana orang yang usianya lebih senior harus diberikan prioritas untuk berbicara demi menjaga kehormatan mereka.
Menggunakan Perkataan yang Mulia dan Tidak Membentak
Al-Qur’an memberikan pedoman standar tertinggi dalam berbicara, khususnya kepada orang tua. Prinsip qaulan karima (perkataan yang mulia) dan larangan membentak merupakan asas yang harus diterapkan kepada setiap sosok yang lebih tua.
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ﴿٢٣﴾
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya bahwa mengucapkan perkataan yang mulia berarti berbicara dengan bahasa yang mereka sukai, penuh sopan santun, menggunakan omongan yang lemah lembut nan elok, yang menyejukkan hati dan menenteramkan jiwa mereka.
Merendahkan Diri dan Bersikap Tawadhu
Selain menjaga lisan, nada bicara dan bahasa tubuh juga wajib memancarkan rasa hormat. Seseorang yang usianya lebih muda dianjurkan untuk khafdh al-janah (merendahkan sayap atau merendahkan diri) dengan penuh kasih sayang, bukan karena rasa takut atau untuk mendapatkan imbalan materi semata.
Mendahului dalam Mengucapkan Salam
Saat berpapasan atau bertemu di jalan maupun di sebuah ruangan, adab keseharian yang sangat ditekankan adalah pihak yang lebih muda harus mengambil inisiatif untuk menyapa dan mendoakan keselamatan bagi yang lebih tua.
يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
“Hendaknya yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.”
Sumber: HR. Bukhari no. 5763
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Menjaga lisan dan menerapkan adab kesopanan di hadapan orang yang lebih tua adalah cerminan keluhuran ajaran Islam. Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara terlebih dahulu, menggunakan diksi yang mulia, tidak membentak, serta mendahului dalam mengucapkan salam, seorang muslim sejatinya sedang mengamalkan perintah Allah dan petunjuk Rasulullah. Sikap rendah hati ini akan menumbuhkan keharmonisan, mempererat ukhuwah, dan mendatangkan keberkahan dalam interaksi sosial bermasyarakat.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Berbicara dengan Orang Tua
Siapakah yang sebaiknya memulai mengucapkan salam ketika bertemu?
Berdasarkan petunjuk dari hadits riwayat Bukhari, syariat menuntunkan agar pihak yang lebih muda yang terlebih dahulu mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua. Sikap ini merupakan wujud nyata dari penghormatan dan etika seorang muslim yang lebih muda.
Bagaimana jika orang yang lebih muda ingin berbicara dalam majelis yang dihadiri orang yang lebih tua?
Adab yang diajarkan oleh Rasulullah adalah mendahulukan orang yang lebih tua, sebagaimana beliau menegur dengan ucapan “Yang besar, yang besar!” (dahulukan yang lebih tua). Orang yang lebih muda sebaiknya menahan diri sejenak dan memberikan hak atau kesempatan pertama kepada yang lebih senior untuk berbicara dan berpendapat.
Bolehkah meninggikan suara jika terjadi perdebatan dengan orang yang lebih tua?
Tidak diperbolehkan. Al-Qur’an memerintahkan kita untuk senantiasa menggunakan perkataan yang mulia (qaulan karima) dan melarang keras sikap membentak (wala tanharhuma) serta menggunakan intonasi suara yang kasar. Syariat senantiasa menuntut kesantunan, kelembutan, dan kerendahan hati saat berinteraksi dengan mereka.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Sunan Tirmidzi, Minhaj Al-Muslim, Syarah Riyadhussalihin.