Menuntut ilmu agama merupakan salah satu kewajiban paling mulia bagi seorang muslim. Langkah kaki menuju pengajian atau majelis ilmu bukan sekadar rutinitas untuk mengisi waktu luang, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang dicintai oleh Allah. Agar langkah tersebut bernilai ibadah yang sempurna, syariat Islam telah menuntunkan serangkaian adab, mulai dari niat di dalam hati hingga tata krama saat berada di dalam majelis.
Meluruskan Niat Semata Karena Allah
Pilar utama sebelum melangkahkan kaki ke majelis ilmu adalah memurnikan niat (ikhlas) hanya untuk mengharap keridhaan Allah, mengangkat kebodohan dari diri sendiri, dan untuk mengamalkan ilmu tersebut. Niat yang benar akan mengubah rutinitas biasa menjadi ibadah yang berpahala besar.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى…
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang dia niatkan…”
Sumber: HR. Bukhari no. 1 dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Apabila seseorang menghadiri pengajian semata-mata karena riya’, ingin dipuji, atau sekadar mencari status sosial, maka amalannya akan tertolak. Niat yang ikhlas akan memastikan bahwa setiap kelelahan dalam belajar dinilai sebagai pahala di sisi Allah.
Keutamaan Melangkah ke Majelis Ilmu
Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi bagi siapa saja yang meluangkan waktunya untuk hadir di majelis ilmu. Langkah kaki mereka dihitung sebagai jalan kemudahan menuju surga, dan majelis yang mereka hadiri diliputi oleh rahmat serta dinaungi oleh para malaikat.
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa meniti sebuah jalan yang padanya dia mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (usahanya) itu jalan ke surga.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Tirmidzi no. 2646 (dan Muslim)
Derajat: Shahih
Lebih dari itu, terdapat riwayat shahih dari Imam Muslim yang menjelaskan bahwa tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk saling mempelajari kitab-Nya, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan membanggakan mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.
Adab Berada di Dalam Majelis Pengajian
Selain niat yang lurus, seorang muslim juga dituntut untuk menjaga adab dan etika ketika sudah berada di dalam majelis agar keberkahan ilmu dapat diraih dengan maksimal.
Mengucapkan Salam Saat Datang dan Pergi
Etika pertama saat tiba di lokasi pengajian adalah mengucapkan salam kepada hadirin. Demikian pula ketika majelis telah usai dan hendak pulang.
“Jika salah seorang dari kalian sampai pada suatu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Jika ia dipersilahkan duduk, hendaklah ia duduk. Kemudian jika ia berdiri (untuk pergi), maka hendaklah ia kembali mengucapkan salam. Salam yang pertama tidak lebih baik (lebih utama) dari salam yang terakhir.”
Sumber: HR. Sunan Tirmidzi no. 2706 (dan Abu Daud)
Derajat: Hasan Shahih
Duduk di Tempat yang Kosong dan Tidak Mengusir Orang Lain
Sikap tawadhu (rendah hati) sangat ditekankan di majelis ilmu. Seseorang dianjurkan untuk duduk di tempat yang ia dapati kosong, tanpa harus melangkahi pundak-pundak hadirin atau memisahkan dua orang yang sedang duduk berdampingan. Sangat dilarang untuk menyuruh orang lain berdiri demi mengambil tempat duduknya.
Berlapang-lapang dalam Majelis
Apabila majelis terasa sempit atau ada jamaah baru yang datang, adab yang diajarkan oleh Al-Qur’an adalah saling memberikan kelonggaran tempat duduk. Kebaikan kecil ini akan dibalas oleh Allah dengan kelapangan dalam hidup.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ﴿١١﴾
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Menutup Pengajian dengan Doa Kaffaratul Majelis
Sering kali dalam sebuah perkumpulan, tanpa disengaja terjadi perbuatan atau perkataan yang kurang bermanfaat. Oleh karena itu, sunnah Rasulullah mengajarkan kita untuk membersihkan kekurangan tersebut dengan membaca doa kaffaratul majelis sebelum berdiri untuk pulang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan di akhir ketika hendak berdiri dari majlis: “Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika” (Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu). Beliau menjelaskan bahwa doa tersebut adalah kaffarah (penebus dosa) bagi apa yang terjadi dalam majelis tersebut.
Sumber: HR. Sunan Abu Daud
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Menghadiri pengajian adalah salah satu bentuk ibadah yang agung jika didasari dengan niat yang benar. Dengan menjaga keikhlasan semata-mata karena Allah, mengedepankan sikap tawadhu, menyebarkan salam, dan saling berlapang dada dalam majelis, seorang penuntut ilmu tidak hanya memperoleh wawasan keagamaan, tetapi juga mengumpulkan pundi-pundi pahala dan kemuliaan akhlak. Majelis ilmu yang dihiasi dengan adab-adab mulia ini akan menjadi taman surga di dunia yang menghapus kelalaian hati serta mendatangkan rahmat dan ampunan dari Sang Pencipta.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menghadiri Pengajian
Apakah boleh menuntut ilmu agama untuk mendapatkan ijazah atau pekerjaan?
Berdasarkan penjelasan sebagian ulama yang disebutkan dalam rujukan, jika seseorang menuntut ilmu dengan tujuan agar ijazah atau status tersebut memudahkannya untuk mengajar dan memberi manfaat yang lebih luas bagi umat Islam, maka niat ini dinilai baik dan tidak mengapa. Namun, sangat dilarang jika ilmu syariat dipelajari murni hanya sebagai tangga untuk meraih kehidupan atau kemewahan dunia semata.
Bagaimana adab jika datang terlambat ke tempat pengajian?
Adab yang dicontohkan dari sunnah Nabi adalah hendaknya ia masuk dengan tenang, mengucapkan salam, dan duduk di bagian paling belakang atau di mana saja ia mendapati ruang yang kosong. Seseorang sangat dilarang memisahkan dua orang yang sedang duduk berdampingan atau melangkahi pundak jamaah lain demi mendapatkan posisi di depan.
Apakah kita tetap mendapat keutamaan jika hadir di majelis namun kurang memahami materinya?
Di antara penjelasan yang disebutkan dalam hadits shahih, para malaikat akan senantiasa mengelilingi dan menaungi orang-orang yang berkumpul di majelis dzikir atau ilmu. Kehadiran fisik yang didasari niat tulus untuk beribadah dan mengingat Allah tetap akan mendatangkan ketenangan serta tercatat sebagai kebaikan, meskipun seseorang mungkin memiliki keterbatasan dalam memahami seluruh materi yang disampaikan.
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhussalihin, Mukhtashar Minhajul Qashidin.