Menghadiri kajian atau majelis ilmu agama merupakan jalan kemuliaan yang akan memudahkan langkah seorang muslim menuju surga. Namun, untuk meraih keberkahan ilmu secara utuh, seorang penuntut ilmu diwajibkan untuk memperhatikan adab-adabnya. Di antara etika terpenting yang sering diabaikan adalah menjaga ketenangan saat berangkat menuju majelis dan memelihara konsentrasi penuh ketika menyimak penjelasan guru.
Datang dengan Tenang dan Berwibawa
Islam sangat memperhatikan wibawa seorang muslim ketika mendatangi tempat-tempat kebaikan dan ibadah. Para ulama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam rujukan Syarah Riyadhussalihin, menyamakan adab mendatangi majelis ilmu dengan adab mendatangi shalat berjamaah. Seseorang dianjurkan untuk datang dengan tenang (sakinah) dan berwibawa (waqar), serta tidak tergesa-gesa atau berlari-lari meskipun ia datang terlambat.
إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 600 (dan Muslim)
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Ketenangan fisik saat mendatangi majelis ilmu akan sangat berpengaruh pada ketenangan batin. Seseorang yang berjalan dengan berwibawa menunjukkan bentuk pengagungan terhadap majelis tersebut, yang pada hakikatnya merupakan bagian dari mengagungkan syiar-syiar Allah.
Meminta Ketenangan dan Menjaga Fokus di Majelis
Ketika telah berada di dalam majelis kajian, adab berikutnya adalah menjaga suasana tetap kondusif dan memusatkan konsentrasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah secara khusus meminta agar jamaah diam dan menyimak dengan saksama saat beliau hendak menyampaikan nasihat penting pada saat Haji Wada’.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada haji Wada’: “Mintalah ketenangan kepada manusia!” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kalian kembali setelah kepergianku menjadi orang-orang kafir yang saling memenggal leher.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Fokus Secara Lisan dan Perbuatan
Sebagian ulama menjelaskan bahwa sikap mendengarkan yang baik terbagi menjadi dua aspek: lisan dan perbuatan. Fokus secara lisan berarti menahan diri dari berbicara atau mengobrol dengan teman duduk ketika guru sedang menjelaskan materi. Adapun fokus secara perbuatan adalah dengan menghadapkan wajah sepenuhnya kepada pembicara. Memalingkan wajah atau menoleh ke kanan dan ke kiri saat guru sedang berbicara sangat tidak dianjurkan, karena hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk kesombongan atau ketidakpedulian.
Larangan Tergesa-gesa dan Memotong Penjelasan
Adab tertinggi dalam menerima ilmu adalah bersabar mendengarkan penjelasan guru hingga tuntas. Al-Qur’an secara langsung mendidik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak tergesa-gesa saat menerima wahyu dari Malaikat Jibril.
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖوَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا ﴿١١٤﴾
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS. Thaha: 114)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memuat etika yang mendalam bagi penuntut ilmu. Seseorang yang mendengarkan ilmu seyogianya bersabar perlahan-lahan sampai pengajar selesai dari penjelasannya yang saling berkaitan. Jika guru telah selesai berbicara, barulah ia dipersilakan untuk menanyakan apa yang belum dipahaminya. Bersegera memotong keterangan orang yang mengajar justru menjadi salah satu penyebab terhalanginya seseorang dari penguasaan ilmu yang utuh.
Hal senada juga diwasiatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengenai hak-hak seorang ulama (guru). Di dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin disebutkan bahwa di antara hak guru atas muridnya adalah: murid hendaknya duduk di depannya, tidak menunjuk-nunjuk di depannya, tidak banyak bertanya di tengah penjelasan, tidak mendahuluinya dalam menjawab, serta tidak menyela dengan membenturkan ucapannya dengan ucapan ulama lain.
Kesimpulan & Hikmah
Adab menghadiri kajian ilmu adalah cerminan dari kesabaran dan ketawadhuan seorang penuntut ilmu. Dengan membiasakan diri datang tepat waktu secara tenang dan berwibawa, memusatkan pendengaran dan pandangan kepada guru, serta menahan lisan dari memotong penjelasan yang belum selesai, seseorang akan terhindar dari kesalahpahaman. Kesiapan fisik dan kelapangan dada dalam menyimak ini merupakan kunci utama dibukakannya pintu-pintu pemahaman dan keberkahan ilmu dari Allah.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menghadiri Kajian Ilmu
Apakah boleh berlari menuju majelis kajian agar tidak tertinggal materi?
Berdasarkan kaidah yang disebutkan dalam hadits Muttafaq ‘alaih terkait mendatangi shalat, seseorang dilarang untuk mendatangi tempat ibadah (termasuk majelis ilmu) dengan cara berlari atau tergesa-gesa. Penuntut ilmu sangat dianjurkan untuk berjalan dengan tenang (sakinah) dan berwibawa, lalu menyimak apa pun materi yang masih ia dapati dari guru tersebut.
Bagaimana sikap fisik yang benar saat menyimak penjelasan guru di majelis?
Sikap fisik yang beradab adalah dengan duduk tenang dan memusatkan pandangan serta menghadapkan wajah kepada guru yang sedang berbicara. Para ulama menjelaskan bahwa menoleh ke kanan dan ke kiri atau sibuk dengan hal lain saat guru berbicara adalah tindakan yang menyalahi adab menyimak dan bisa dianggap meremehkan pembicara.
Bolehkah langsung menyela penjelasan guru jika ada materi yang tidak dipahami?
Etika yang diajarkan berdasarkan tafsir Al-Qur’an Surat Thaha ayat 114 adalah menahan diri dan bersabar hingga sang guru benar-benar menyempurnakan penjelasannya. Menyela di tengah pembicaraan dilarang karena sering kali sebuah penjelasan ilmiah saling berkaitan antara awal dan akhirnya. Setelah penjelasan tuntas, barulah murid dipersilakan bertanya dengan bahasa yang sopan.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syarah Riyadhussalihin.