Menghadapi celaan dan perlakuan buruk dari orang lain sering kali memancing emosi dan keinginan untuk membalas dendam. Namun, Islam menuntun umatnya untuk meredam amarah dan membalas keburukan dengan kebaikan, sebuah seni komunikasi tingkat tinggi yang diwariskan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Sikap anggun dalam menghadapi celaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan jiwa dan kesempurnaan iman. Berikut adalah panduan syariat dan keteladanan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi gangguan serta membalas keburukan dengan kebaikan.
Sikap Anggun Rasulullah dalam Menghadapi Celaan dan Gangguan
1. Tidak Pernah Membalas Dendam untuk Diri Sendiri
Meskipun memiliki kedudukan yang sangat mulia, Rasulullah ﷺ tidak pernah menggunakan kekuasaan atau tangannya untuk membalas dendam atas celaan atau perlakuan buruk yang menimpa pribadi beliau. Beliau hanya akan marah dan bertindak tegas apabila aturan atau kehormatan Allah yang dilanggar.
مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا
“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi pilihan dari dua perkara yang dihadapinya, melainkan beliau mengambil yang paling ringan selama bukan perkara dosa. Seandainya perkara dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah membenci (memusuhi/membalas dendam) karena pertimbangan kepentingan pribadi semata, kecuali memang karena menodai kehormatan Allah, dan apabila kehormatan Allah dinodai, maka beliau adalah orang yang paling membenci (memusuhi) nya.”
Sumber: HR. Bukhari no. 3296 dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
2. Memaafkan dan Mendoakan Kebaikan bagi Pencela
Ketika berdakwah, Rasulullah ﷺ dan para nabi terdahulu sering kali mendapat penolakan fisik dan celaan yang menyakitkan. Alih-alih melaknat, lisan beliau justru basah dengan doa ampunan bagi kaumnya. Hal ini terekam jelas dalam riwayat sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Seolah-olah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang nabi dari para nabi; kaumnya memukulnya hingga berdarah wajahnya, maka dia mengusap darah dari wajahnya sambil berkata: ‘Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.'”
Sumber: HR. Bukhari no. 3218 dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
3. Membalas Sikap Kasar dengan Senyuman dan Kebaikan
Kesabaran Rasulullah ﷺ juga terlihat ketika beliau diperlakukan kasar oleh seorang Arab Badui yang tidak memahami tata krama. Alih-alih marah karena jubahnya ditarik dengan keras, beliau justru meresponsnya dengan senyuman dan memenuhi permintaan orang tersebut.
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan: “Aku sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ dan beliau memakai jubah Najran yang tebal pinggirnya. Tiba-tiba seorang Arab Badui menyusulnya lalu menarik jubahnya dengan tarikan yang keras… hingga tampak bekas pinggir jubah di leher Nabi ﷺ. Kemudian orang itu berkata: ‘Wahai Muhammad! Perintahkan untukku (agar aku diberi) dari harta Allah yang ada padamu.’ Maka beliau menoleh kepadanya, lalu tertawa, kemudian memerintahkan untuk memberinya pemberian.”
Tuntunan Syariat Membalas Keburukan dengan Kebaikan
1. Perintah Al-Qur’an untuk Menolak Kejahatan dengan Cara Terbaik
Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk tidak menyamakan antara kebaikan dan keburukan. Apabila ada yang mencela atau berbuat buruk, syariat menganjurkan kita untuk membalasnya dengan perlakuan yang sangat baik (ihsan). Hal ini dapat mengubah permusuhan menjadi persahabatan yang erat.
وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ﴿٣٤﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ﴿٣٥﴾
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)
2. Larangan Membalas Celaan dengan Celaan Serupa
Ketika seseorang menghina dan membongkar aib kita, membalasnya dengan membongkar aib orang tersebut justru akan mendatangkan dosa. Sikap diam dan menahan lisan akan membuat pahala mengalir kepada kita, sementara dosa akan ditanggung oleh sang pencela.
وَإِنْ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
“…Jika ada seseorang yang memakimu dan mencelamu karena dia mengetahui cacat dan cela yang ada pada dirimu, maka jangan melakukan hal yang sama sekalipun kamu mengetahui cacat dan cela orang tersebut, karena hal itu akan memberatkannya (menjadi dosa baginya pada Hari Kiamat).”
Sumber: HR. Abu Daud no. 3564
Derajat: Shahih
3. Berpaling dari Orang-Orang yang Bodoh (Jahil)
Dalam menghadapi orang-orang yang ceroboh, suka mencela, dan tidak tahu adab (jahil), syariat menuntun kita untuk bersikap lapang dada dan tidak meladeni kebodohan mereka. Mengabaikan celaan mereka adalah cara terbaik untuk menjaga ketenangan batin.
خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ ﴿١٩٩﴾
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)
Ulama tafsir menjelaskan bahwa “berpaling dari orang bodoh” berarti tidak membalas perlakuan buruk mereka, tidak menghukum kecerobohan mereka, dan membiarkan mereka hingga mereka sendiri yang merasa bosan dan lelah dengan keburukannya.
Kesimpulan & Hikmah
Menghadapi celaan dengan kelembutan adalah buah dari ketakwaan yang mendalam dan pengendalian diri yang kuat (hilm). Rasulullah ﷺ telah membuktikan bahwa memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakiti tidak akan menjatuhkan harga diri, melainkan justru mengangkat kemuliaan seseorang di sisi Allah dan manusia. Dengan mengedepankan sifat pemaaf dan menolak keburukan melalui cara yang lebih baik, seorang muslim dapat memadamkan api permusuhan sekaligus meraup pahala kesabaran yang tiada batas.
FAQ: Pertanyaan Seputar Menghadapi Celaan
Bolehkah kita membalas celaan orang lain dengan setimpal?
Syariat Islam pada dasarnya membolehkan membalas keburukan dengan balasan yang seimbang (keadilan) sebagaimana disebutkan dalam QS. Asy-Syura ayat 40. Namun, memaafkan dan berbuat baik (ihsan) jauh lebih utama dan mendatangkan pahala langsung dari Allah. Para ulama memberikan catatan: memaafkan sangat dianjurkan jika hal itu membawa perbaikan (islah). Namun, jika pencelanya adalah orang jahat yang justru makin menjadi-jadi jika dimaafkan, maka menuntut hak untuk memberikan efek jera diperbolehkan.
Bagaimana cara menahan diri saat hati sedang marah karena dicela?
Langkah terbaik adalah mengingat wasiat Rasulullah ﷺ yang diulang berkali-kali kepada seorang sahabat: “Jangan marah” (HR. Bukhari). Tahanlah lisan, ingatlah besarnya pahala bagi orang yang menahan amarah, dan berlindunglah kepada Allah dari godaan setan. Allah menjanjikan kemuliaan dan pilihan bidadari di hari Kiamat kelak bagi siapa saja yang mampu menahan amarah padahal ia sanggup untuk melampiaskannya.
Apakah diam saat dicela berarti kita lemah?
Sama sekali tidak. Diam saat dicela demi menahan amarah adalah wujud dari kekuatan jiwa. Diriwayatkan dalam sebuah atsar dari Sa’id bin Al-Musayyib di Sunan Abu Daud, suatu ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dicaci maki oleh seseorang. Abu Bakar diam pada cacian pertama dan kedua. Saat itu, ada malaikat yang turun untuk membelanya. Namun, ketika Abu Bakar membalas cacian tersebut pada kali ketiga, malaikat itu pergi dan setan datang. Hal ini menunjukkan bahwa diam dan bersabar mendatangkan pembelaan langsung dari para malaikat.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhush Shalihin.