Dalam menjalani kehidupan di dunia, seorang mukmin senantiasa berada di antara dua keadaan: diuji dengan musibah yang menuntut kesabaran, atau diberi karunia yang mewajibkan rasa syukur. Bersyukur atas nikmat Allah bukan sekadar pelengkap ibadah, melainkan inti dari ketundukan seorang hamba kepada Penciptanya. Syukur yang benar akan menjaga nikmat agar tidak hilang, sekaligus menjadi kunci untuk mengundang tambahan karunia dari Yang Maha Pemberi Rezeki.
Keutamaan Bersyukur Atas Nikmat Allah
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-Nya. Syukur merupakan jalan keselamatan, sekaligus jaminan bahwa nikmat yang telah dianugerahkan akan senantiasa dijaga dan ditambah.
ููุงูุฐู ุชูุงูุฐูููู ุฑูุจููููู ู ููููููู ุดูููุฑูุชูู ู ููุงูุฒูููุฏููููููู ู ููููููููู ููููุฑูุชูู ู ุงูููู ุนูุฐูุงุจููู ููุดูุฏูููุฏู ๏ดฟูง๏ดพ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)
Sikap senantiasa bersyukur menjadikan urusan seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan, apa pun kondisi yang dihadapinya.
ุนูุฌูุจูุง ููุฃูู ูุฑู ุงููู ูุคูู ููู ุฅูููู ุฃูู ูุฑููู ููููููู ุฎูููุฑู ููููููุณู ุฐูุงูู ููุฃูุญูุฏู ุฅููููุง ููููู ูุคูู ููู ุฅููู ุฃูุตูุงุจูุชููู ุณูุฑููุงุกู ุดูููุฑู ููููุงูู ุฎูููุฑูุง ูููู ููุฅููู ุฃูุตูุงุจูุชููู ุถูุฑููุงุกู ุตูุจูุฑู ููููุงูู ุฎูููุฑูุง ูููู
“Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
Tiga Pilar Utama dalam Bersyukur
Syukur tidaklah sempurna jika hanya berhenti pada ucapan. Di antara penjelasan yang disebutkan oleh para ulama, termasuk Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil ash-Shayyib, syukur dibangun di atas tiga rukun utama: mengakuinya secara batin (hati), menyebutkannya secara lahir (lisan), dan menggunakannya untuk mencari ridha Pemilik nikmat (perbuatan).
1. Syukur Melalui Hati (Pengakuan Batin)
Langkah pertama dari syukur adalah kesadaran dan keyakinan di dalam hati bahwa segala nikmat yang ada pada diri kitaโbaik berupa kesehatan, rezeki, keamanan, hingga keimananโmurni berasal dari karunia Allah semata, bukan sekadar hasil kehebatan diri. Hati yang bersyukur senantiasa merasa fakir dan rendah di hadapan Allah seraya meyakini kebaikan-Nya.
ููุงุฐูููุฑูููููููู ุงูุฐูููุฑูููู ู ููุงุดูููุฑูููุง ูููู ููููุง ุชูููููุฑููููู เฃ ๏ดฟูกูฅูข๏ดพ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
2. Syukur Melalui Lisan (Memuji Allah)
Syukur lisan diwujudkan dengan memperlihatkan rasa syukur tersebut melalui pujian, yaitu dengan memperbanyak ucapan Alhamdulillah. Allah sangat ridha kepada hamba-Nya yang senantiasa memuji-Nya atas nikmat-nikmat harian seperti makanan dan minuman.
ุฅูููู ุงูููููู ููููุฑูุถูู ุนููู ุงููุนูุจูุฏู ุฃููู ููุฃููููู ุงููุฃูููููุฉู ููููุญูู ูุฏููู ุนูููููููุง ุฃููู ููุดูุฑูุจู ุงูุดููุฑูุจูุฉู ููููุญูู ูุฏููู ุนูููููููุง
“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka (ridha) kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) sesudah makan dan minum.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
3. Syukur Melalui Perbuatan (Anggota Badan)
Ini merupakan puncak dari pembuktian syukur. Bersyukur dengan anggota badan berarti menggunakan setiap nikmat Allah untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam rujukan Mukhtashar Minhajul Qashidin, disebutkan bahwa Abu Hazim pernah berkata: “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah adalah bencana. Adapun orang yang bersyukur dengan lisannya namun tidak bersyukur dengan seluruh anggota tubuhnya, maka perumpamaannya seperti seorang pria yang memiliki mantel, lalu ia memegang ujungnya namun tidak memakainya, sehingga mantel itu tidak berguna baginya dari panas, dingin, salju, maupun hujan.”
Memohon Taufik Agar Mampu Bersyukur
Karena mensyukuri nikmat adalah sebuah taufik dan hidayah dari Allah, Rasulullah senantiasa mengajarkan umatnya agar memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan menjadi hamba yang pandai bersyukur.
ุงููููููู ูู ุฃูุนููููู ุนูููู ุฐูููุฑููู ููุดูููุฑููู ููุญูุณููู ุนูุจูุงุฏูุชููู
“Wahai Mu’adz! Demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Janganlah sekali-kali setiap selesai shalat kamu tidak mengucapkan, ‘Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika (Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)’.”
Sumber: HR. Abu Daud no. 1522
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Bersyukur atas nikmat merupakan manifestasi dari ketundukan seorang hamba. Kesempurnaan syukur tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara pengakuan tulus di dalam hati, pujian basah yang membasahi lisan dengan Alhamdulillah, serta kepatuhan anggota badan dalam bingkai amal shalih. Orang yang mensyukuri nikmat akan senantiasa dijaga oleh Allah dari hilangnya nikmat tersebut, sekaligus diberikan tambahan kebaikan yang melimpah, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Bersyukur
Apakah cukup bersyukur hanya dengan mengucap Alhamdulillah?
Sebagian ulama menjelaskan bahwa mengucap Alhamdulillah adalah syukur dengan lisan, dan itu bernilai kebaikan. Namun, syukur yang utuh harus diiringi dengan ketaatan anggota badan. Jika seseorang mengucapkan pujian namun menggunakan nikmat (seperti kesehatan atau harta) untuk bermaksiat, maka hakikatnya ia belum menunaikan syukur secara sempurna dan perbuatannya termasuk kufur nikmat.
Doa apa yang dibaca ketika melihat sesuatu yang menyenangkan hati?
Berdasarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, apabila Rasulullah melihat sesuatu yang disukainya, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat” (Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna). Hal ini disebutkan dalam riwayat yang derajatnya hasan oleh Imam Ibnu Majah.
Bagaimana cara bersyukur jika sedang ditimpa musibah?
Seorang mukmin diajarkan untuk memuji Allah dalam segala keadaan. Ketika ditimpa sesuatu yang tidak disukai, sunnah mengajarkan untuk mengucapkan: “Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal” (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan). Musibah yang dihadapi dengan kesabaran dapat menggugurkan dosa-dosa dan menaikkan derajat seorang hamba, sehingga di balik kesulitan itu pun masih terselip nikmat Allah yang patut disyukuri.
Sumber: Al Quran, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Ibnu Majah, Al-Wabil ash-Shayyib, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syarah Riyadhussalihin.