Memberi kabar gembira dan membagikan kebahagiaan merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam untuk mempererat tali persaudaraan. Namun, seorang muslim juga dituntut untuk bijaksana dan berhati-hati dalam menceritakan nikmat yang diperolehnya, agar kebahagiaan tersebut tidak memicu penyakit hasad (kedengkian) di hati orang lain.
Perintah Menebarkan Kabar Gembira (Bisyarah)
Rasulullah sangat menyukai optimisme dan selalu memerintahkan para sahabatnya untuk membawa kabar yang menggembirakan serta melapangkan dada saudaranya. Memberikan kabar gembira akan membuat hati menjadi tenang dan menjauhkan seseorang dari keputusasaan.
ููุณููุฑููุง ููููุง ุชูุนูุณููุฑููุง ููุจูุดููุฑููุง ููููุง ุชููููููุฑููุง
“Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
Sumber: HR. Bukhari no. 67 (dan Muslim no. 3264)
Derajat: Shahih
Adab Berbagi Kabar Baik dan Nikmat
Meskipun kita dianjurkan untuk berbagi kebahagiaan, syariat menetapkan batasan dan adab agar lisan kita terjaga dari sikap riya’ (pamer) dan agar orang lain terhindar dari penyakit hati.
Menceritakannya Hanya Kepada Orang yang Mencintai Kita
Tidak semua nikmat atau kebahagiaanโtermasuk mimpi yang baikโharus diceritakan kepada khalayak ramai. Di antara pendapat yang disebutkan dalam rujukan kitab Syarah Riyadhussalihin, suatu kebaikan atau kabar yang menggembirakan sebaiknya hanya diceritakan kepada orang yang dicintai dan dipercaya. Jika diceritakan kepada orang yang menyimpan ketidaksukaan, dikhawatirkan orang tersebut akan bersiasat untuk menghalangi kebaikan itu akibat rasa iri, sebagaimana ujian yang menimpa Nabi Yusuf dari saudara-saudaranya.
Meniatkannya Sebagai Wujud Syukur, Bukan Kesombongan
Menceritakan keberhasilan atau kebahagiaan sangat diperbolehkan apabila niat utamanya adalah untuk menampakkan nikmat Allah (tahadduts bin ni’mah) dengan penuh kerendahan hati. Hal ini merupakan wujud pengamalan dari perintah Allah untuk senantiasa mensyukuri dan menyebut-nyebut karunia-Nya, bukan untuk menyombongkan diri.
ููุงูู ููุง ุจูููุนูู ูุฉู ุฑูุจูููู ููุญูุฏููุซู เฃ ๏ดฟูกูก๏ดพ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Ad-Duha: 11)
Tidak Membanggakan Sesuatu Secara Palsu
Dalam berbagi kebahagiaan, seseorang dilarang keras merekayasa cerita atau menampakkan bahwa ia memperoleh suatu keutamaan padahal kenyataannya tidak demikian. Sikap melebih-lebihkan cerita agar terlihat bahagia di mata manusia adalah sebuah kepalsuan yang dicela.
“Orang yang membanggakan diri dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”
Sumber: HR. Muttafaq ‘alaih
Derajat: Shahih
Mewaspadai Bahaya Hasad (Kedengkian)
Alasan utama mengapa kita diajarkan untuk menjaga adab saat memberi kabar baik adalah untuk menutup pintu hasad. Hasad berarti membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain dan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sifat ini sangat merusak persaudaraan dan menghancurkan amal kebaikan pelakunya.
ุฅููููุงููู ู ููุงููุญูุณูุฏู ููุฅูููู ุงููุญูุณูุฏู ููุฃููููู ุงููุญูุณูููุงุชู ููู ูุง ุชูุฃููููู ุงููููุงุฑู ุงููุญูุทูุจู
“Jauhilah hasad, sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Sumber: HR. Abu Daud
Derajat: Hasan/Shahih (sesuai rujukan)
Kesimpulan & Hikmah
Memberi kabar baik adalah sunnah yang mendatangkan kegembiraan dan melapangkan dada kaum muslimin. Namun, kebahagiaan tersebut harus dikelola dengan bijak. Memilih pendengar yang tepat, menata niat semata-mata untuk bersyukur, dan menghindari sikap pamer adalah kunci agar nikmat yang kita bagikan membawa keberkahan dan terhindar dari pandangan hasad yang merusak.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Memberi Kabar Baik
Bolehkah menyembunyikan suatu nikmat agar terhindar dari sifat hasad orang lain?
Boleh. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama mengenai adab bermimpi baik, jika khawatir seseorang akan iri hati atau bersiasat buruk, maka menahan diri dari menceritakan nikmat kepada orang tersebut adalah langkah kehati-hatian yang dianjurkan.
Bagaimana membedakan antara menyiarkan nikmat (tahadduts bin ni’mah) dengan kesombongan?
Perbedaannya terletak pada niat dan keadaan hati. Menyiarkan nikmat dilakukan dengan kerendahan hati dan pengakuan bahwa semua itu murni karunia Allah, sedangkan kesombongan (takabur) disertai dengan perasaan merasa lebih unggul, merendahkan orang lain, dan menisbatkan keberhasilan pada kehebatan diri sendiri.
Apa yang harus kita lakukan jika merasa iri saat mendengar kabar baik dari orang lain?
Jika terbersit perasaan iri, segeralah memohon ampun kepada Allah dan doakan keberkahan bagi orang tersebut. Nabi juga menasihatkan bahwa apabila kita melihat seseorang dilebihkan dalam hal harta atau fisik, hendaknya kita melihat kepada orang yang kondisinya berada di bawah kita agar kita tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada diri kita.
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Syarah Riyadhussalihin.