Adab Memberi Salam: Keutamaan dan Aturan Menebar Kedamaian Sesama Muslim

Mengucapkan salam bukan sekadar sapaan basa-basi atau formalitas perjumpaan. Dalam ajaran Islam, salam adalah doa penuh keberkahan yang bermakna memohon keselamatan, rahmat, dan perlindungan dari Allah Ta’ala bagi sesama. Tradisi menebar salam merupakan syiar agung yang menjadi ciri khas masyarakat muslim yang penuh kedamaian.

Agama Islam sangat memperhatikan tata cara komunikasi antar sesama hamba. Oleh karena itu, terdapat berbagai tuntunan adab dalam memberi maupun membalas salam agar interaksi sosial senantiasa diliputi oleh pahala dan cinta kasih karena Allah. Berikut adalah panduan komprehensif mengenai keutamaan dan aturan memberi salam sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Keutamaan Menebarkan Salam

1. Amalan Islam yang Paling Baik

Menyebarkan salam kepada setiap muslim, tanpa memandang status sosial atau kedekatan personal, dinilai sebagai salah satu karakter keislaman yang paling mulia.

📜 Hadits

أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; ‘Islam manakah yang paling baik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal’.”

Periwayat: Abdullah bin ‘Amru
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

2. Kunci Menumbuhkan Cinta dan Meraih Surga

Ikatan persaudaraan sejati tidak akan terwujud tanpa adanya cinta kasih. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa kunci untuk merekatkan hati sesama muslim dan jalan menuju surga adalah dengan membiasakan lisan menebar salam.

📜 Hadits

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai. Tidakkah kalian ingin kuberitahukan sesuatu yang apabila kalian mengerjakannya, niscaya kalian akan saling menyintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

Aturan dan Adab Memberi Salam

1. Prioritas Siapa yang Memulai Salam

Syariat Islam mengatur tata krama sosial yang sangat rapi untuk menghormati yang lebih tua dan menghargai kedudukan masing-masing. Walaupun pihak yang paling utama adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, terdapat prioritas anjuran mengenai siapa yang sebaiknya memulai tegur sapa.

📜 Hadits

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Hendaknya yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

Di dalam riwayat lain juga ditambahkan bahwa orang yang berada di atas kendaraan dianjurkan untuk mendahului memberi salam kepada orang yang berjalan kaki.

2. Membalas Salam dengan yang Lebih Baik atau Setara

Memulai salam hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), sedangkan menjawabnya adalah fardhu (kewajiban). Allah Ta’ala memerintahkan agar setiap doa penghormatan dibalas dengan doa yang sepadan atau yang lebih baik.

📖 Al-Qur’an

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا ﴿٨٦﴾

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)

Jika seseorang mengucapkan “Assalamu’alaikum”, maka balasan minimalnya adalah “Wa’alaikumussalam”. Jika ia menambahkan “Warahmatullah”, maka balaslah dengan tambahan yang sama, dan seterusnya hingga “Wabarakatuh”.

3. Mengucapkan Salam Saat Tiba dan Meninggalkan Majelis

Sebagian orang rajin memberi salam saat baru tiba di suatu perkumpulan, namun mengabaikannya saat hendak pamit pulang. Padahal, petunjuk Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa salam saat berpisah sama pentingnya dengan salam saat berjumpa.

📜 Hadits

إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ

“Apabila salah seorang dari kalian telah sampai di suatu majelis maka hendaklah ia mengucapkan salam, dan apabila ia hendak berdiri (pulang), maka hendaklah ia mengucapkan salam, dan tidaklah yang pertama itu lebih berhak dari yang terakhir.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Tirmidzi dan Abu Daud
Derajat: Hasan Shahih

4. Tata Cara Menjawab Salam dari Non-Muslim (Ahlul Kitab)

Syariat mengajarkan bahwa kaum muslimin dilarang untuk mendahului memberi salam kehormatan Islam kepada orang kafir (Yahudi dan Nasrani). Namun, apabila mereka yang mendahului mengucapkan salam, syariat tetap memerintahkan untuk meresponsnya dengan keadilan yang ringkas.

📜 Hadits

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

“Apabila ahli kitab menyampaikan salam kepada kalian, maka jawablah; ‘wa ‘alaikum (dan ke atas kalian juga)’.”

Periwayat: Anas bin Malik
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Hal ini diajarkan oleh Nabi ﷺ karena pada masa itu, terdapat sebagian ahli kitab yang memelesetkan ucapan salam menjadi “As-Saamu ‘alaikum” yang bermakna doa kematian atau kebinasaan. Dengan menjawab “Wa ‘alaikum”, kita secara adil mengembalikan ucapan tersebut kepada mereka.

5. Membudayakan Salam Meski Baru Terpisah Sebentar

Kedekatan dan rutinitas terkadang membuat seseorang malas mengulang salam kepada orang yang sama. Di antara adab mulia yang dicontohkan dalam sunnah adalah tetap menebarkan salam meskipun baru terpisah dalam waktu dan jarak yang amat singkat.

Diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Daud, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa apabila seseorang berjumpa dengan saudaranya hendaklah ia mengucapkan salam. Apabila di antara keduanya kemudian terhalang oleh sebuah pohon, tembok, atau batu, lalu mereka berjumpa lagi, maka dianjurkan untuk kembali mengucapkan salam.

Kesimpulan & Hikmah

Salam adalah syiar agung yang menyatukan hati umat Islam. Dengan senantiasa membasahi lisan melalui sapaan “Assalamu’alaikum”, seorang muslim sesungguhnya sedang memanjatkan doa kedamaian, keberkahan, dan ampunan bagi saudaranya. Adab-adab seperti menghormati yang lebih tua untuk diberi salam lebih dahulu, menjawab dengan kebaikan yang berlipat, hingga tidak meremehkan salam saat meninggalkan majelis, menjadi fondasi utama dalam merajut jalinan ukhuwah islamiyah yang diridhai Allah Ta’ala.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Memberi Salam

Bolehkah mengawali sapaan dengan ucapan “Alaikas Salam”?

Tidak dianjurkan untuk mengawali tegur sapa kepada orang yang masih hidup dengan ucapan “Alaikas salam”. Dalam riwayat Tirmidzi dan Abu Daud, Jabir bin Sulaim radhiyallahu ‘anhu pernah menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, “Alaikas salam ya Rasulullah.” Beliau langsung menegurnya seraya bersabda, “Jangan kamu ucapkan ‘alaikas salam’, karena itu adalah penghormatan (salam) untuk orang yang sudah meninggal. Tapi katakanlah, ‘As-salaamu ‘alaika’.”

Apakah disunnahkan memberi salam kepada anak-anak kecil?

Ya, sangat disunnahkan. Memberi salam kepada anak-anak adalah bentuk pendidikan ketawadhuan dan kasih sayang. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sering berjalan melintasi kumpulan anak-anak yang sedang bermain, dan beliau dengan penuh kelembutan mengucapkan salam kepada mereka (HR. Bukhari dan Muslim).

Siapakah yang paling utama kedudukannya jika dua orang saling bertemu?

Meskipun terdapat aturan siapa yang sebaiknya memberi salam lebih dahulu (muda ke tua, berjalan ke duduk), namun orang yang paling mulia dan utama di hadapan Allah adalah dia yang lisannya paling pertama mendahului mengucapkan salam. Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini dalam riwayat Abu Daud dan Tirmidzi bahwa orang yang lebih utama di sisi Allah adalah orang yang memulai mengucapkan salam.

Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Syarah Riyadhush Shalihin.