Adab Bersin dan Menguap: Tuntunan Sunnah yang Sering Dilupakan Muslim

Ajaran Islam begitu sempurna hingga mengatur adab keseharian sekecil apa pun, termasuk hal-hal alami pada tubuh manusia seperti bersin dan menguap. Menjaga tata krama saat bersin dan menguap bukan sekadar wujud kesopanan sosial, melainkan bagian dari ibadah jika diamalkan sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Terdapat panduan yang sangat rinci mengenai adab kedua hal tersebut, yang sayangnya sering kali terlupakan oleh sebagian kaum muslimin. Berikut adalah penjabaran adab bersin dan menguap berdasarkan tuntunan sunnah.

Panduan Adab Bersin Sesuai Sunnah

1. Meyakini Bahwa Bersin Disukai oleh Allah

Seorang muslim hendaknya menyadari bahwa bersin adalah sebuah nikmat yang menunjukkan kesehatan, keringanan, dan semangat pada tubuh. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyukai hamba-Nya yang bersin.

📜 Hadits

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

2. Menutup Wajah dan Merendahkan Suara

Ketika bersin, sangat dianjurkan untuk tidak mengeraskan suara secara berlebihan agar tidak mengejutkan orang lain. Selain itu, sunnah mengajarkan untuk menutup mulut dan wajah dengan tangan atau pakaian guna mencegah tersebarnya percikan (kotoran/penyakit) kepada orang di sekitarnya.

📜 Hadits

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersin, maka beliau meletakkan tangannya atau pakaiannya di atas mulutnya, kemudian beliau merendahkan (menutup) suaranya.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Sunan Tirmidzi
Derajat: Hasan Shahih

3. Mengucapkan Pujian kepada Allah (Hamdalah)

Setelah bersin, disunnahkan untuk segera mengucapkan syukur kepada Allah, baik dengan lafazh “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah) maupun “Alhamdulillah ‘ala kulli haal” (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan).

4. Mendoakan Orang yang Bersin (Tasymit)

Apabila seorang muslim mendengar saudaranya bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, maka menjadi hak saudaranya tersebut untuk didoakan dengan ucapan “Yarhamukallah” (Semoga Allah merahmatimu). Hal ini sangat ditekankan, namun dengan syarat orang yang bersin tersebut memuji Allah terlebih dahulu.

📜 Hadits

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan ‘Yarhamukallah’, dan hendaknya ia membalas; ‘Yahdikumullah wa yushlih baalakum’.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

5. Membalas Doa Tasymit

Sebagaimana disebutkan pada hadits di atas, orang yang bersin dan telah didoakan wajib membalas doa kebaikan tersebut dengan ucapan: “Yahdikumullah wa yushlihu baalakum” (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaan hatimu/urusanmu).

6. Batas Menjawab Bersin Berulang (Maksimal Tiga Kali)

Jika seseorang bersin berkali-kali secara berturut-turut, sunnah mengajarkan kita untuk mendoakannya (dengan Yarhamukallah) hingga maksimal tiga kali. Apabila ia bersin lebih dari tiga kali, maka itu pertanda ia sedang sakit (flu/pilek), sehingga kita tidak lagi mengucapkan tasymit, melainkan cukup mendoakan kesembuhannya seraya berkata, “Kamu sedang sakit pilek.”

7. Adab Menjawab Bersin Non-Muslim

Orang-orang Yahudi di masa Rasulullah ﷺ sengaja bersin di dekat beliau dengan harapan didoakan rahmat. Akan tetapi, syariat membedakan doa untuk non-muslim. Jika non-muslim bersin dan memuji Allah, kita tidak mendoakannya dengan Yarhamukallah, melainkan cukup membalas dengan doa hidayah: “Yahdikumullah wa yushlihu baalakum”.

Panduan Adab Menguap Sesuai Sunnah

1. Menyadari Bahwa Menguap Berasal dari Setan

Berbeda dengan bersin yang disukai Allah, menguap adalah kondisi yang tidak disukai karena ia membawa sifat malas, lemah, dan berat dalam beribadah. Sifat-sifat ini adalah celah yang sangat disukai oleh setan.

2. Menahan Diri Semampunya dan Tidak Mengeluarkan Suara

Apabila rasa kantuk datang dan dorongan menguap muncul, langkah pertama yang diajarkan adalah berusaha menahannya semaksimal mungkin. Jangan sampai mengeluarkan suara seperti “Haaah” atau “Aah”, karena hal tersebut akan membuat setan tertawa di dalam mulutnya.

📜 Hadits

وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sedangkan menguap datangnya dari syetan, dan apabila salah seorang dari kalian menguap, hendaknya ia menahan semampunya, karena jika salah seorang menguap, maka syetan tertawa karenanya.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

3. Menutup Mulut dengan Tangan

Jika dorongan menguap terlalu kuat dan tidak bisa ditahan lagi, maka wajib bagi seorang muslim untuk menutup mulutnya dengan tangan (telapak tangan). Hal ini tidak hanya menjaga kesopanan, tetapi juga mencegah masuknya setan.

📜 Hadits

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

“Bila salah seorang dari kalian menguap hendaklah ditutupi dengan tangannya karena sesungguhnya setan masuk.”

Periwayat: Abu Sa’id Al Khudri
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

Kesimpulan & Hikmah

Menjaga lisan, suara, dan postur ketika mengalami hal alamiah seperti bersin dan menguap merupakan indikator tingginya peradaban dan akhlak di dalam Islam. Dengan mempraktikkan adab-adab tersebut, seorang muslim bukan hanya terhindar dari memperburuk kenyamanan orang lain di sekitarnya, melainkan juga sedang menutup pintu-pintu kelalaian yang disukai oleh setan, sekaligus menebarkan doa keselamatan antar sesama.

FAQ: Pertanyaan Seputar Bersin dan Menguap

Bolehkah mengingatkan orang yang bersin jika ia lupa membaca Alhamdulillah?

Berdasarkan keterangan para ulama yang merujuk pada hadits shahih, jika seseorang bersin dan tidak mengucapkan hamdalah, maka sunnahnya adalah tidak mendoakannya (tidak mengucapkan Yarhamukallah). Beliau ﷺ tidak memerintahkan kita untuk menegur atau mengingatkannya pada saat itu juga. Namun, di luar momen tersebut, kita boleh memberikan edukasi bahwa sunnahnya adalah mengucapkan alhamdulillah setiap kali selesai bersin.

Apakah dianjurkan membaca ta’awwudz (A’udzu billah) saat menguap?

Di antara pendapat yang disebutkan oleh sebagian ulama (sebagaimana tertuang dalam Syarah Riyadhush Shalihin), mengucapkan ta’awwudz secara khusus ketika menguap tidak memiliki dasar (dalil) yang kuat dari sunnah Nabi ﷺ. Petunjuk yang diajarkan Rasulullah ﷺ secara tegas hanyalah dua: menahannya semaksimal mungkin, atau menutup mulut dengan telapak tangan, tanpa tambahan lafazh dzikir tertentu.

Bolehkah menjawab doa bersin dengan lafazh “Yahdina wa yahdikumullah”?

Sebagian masyarakat awam sering menjawab dengan lafazh “Yahdina wa yahdikumullah” (Semoga Allah memberi petunjuk kepada kami dan kalian). Para ulama menjelaskan bahwa lafazh ini menyelisihi sunnah yang diajarkan secara tekstual. Lafazh yang tepat dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ adalah “Yahdikumullah wa yushlihu baalakum” (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaan hatimu/urusanmu).

Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Muwatha Malik, Syarah Riyadhush Shalihin.