Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) adalah salah satu kewajiban paling agung dalam syariat Islam yang kedudukannya disandingkan langsung dengan perintah bertauhid. Ketika orang tua telah memasuki usia lanjut, kewajiban ini menuntut kesabaran ekstra sekaligus menjadi pintu surga yang paling terbuka lebar bagi seorang anak.
Kedudukan Berbakti Kepada Orang Tua dalam Islam
Agama Islam memandang bakti kepada ayah dan ibu bukan sekadar balas budi, melainkan amal ibadah utama yang pahalanya melampaui amalan-amalan besar lainnya. Rasulullah menetapkan bahwa berbakti kepada keduanya lebih didahulukan daripada berjihad di jalan Allah.
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Berjuang pada jalan Allah’.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Adab Khusus Saat Orang Tua Berusia Lanjut
Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik dan emosional orang tua umumnya melemah, sehingga mereka kembali membutuhkan perawatan dan kelembutan sebagaimana mereka merawat anak-anaknya dahulu. Al-Qur’an memberikan panduan adab yang sangat terperinci mengenai hal ini.
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ﴿٢٣﴾ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ ﴿٢٤﴾
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra’: 23-24)
Menahan Diri dari Keluh Kesah
Berdasarkan penjelasan tafsir, larangan mengucapkan kata “ah” (atau uff) merupakan larangan terhadap bentuk gangguan verbal yang paling ringan. Seorang anak diharamkan menunjukkan rasa jengkel, keberatan, atau muak saat mengurus kebutuhan orang tuanya yang sudah tua renta dan mungkin bertingkah seperti anak kecil kembali.
Menggunakan Perkataan yang Mulia
Syariat tidak hanya melarang bentakan, tetapi juga mewajibkan penggunaan qaulan karima (perkataan yang mulia). Artinya, seorang anak harus memilih diksi yang paling sopan, menyejukkan hati, memanggil dengan panggilan kesayangan, dan penuh penghormatan di hadapan mereka.
Merendahkan Diri dengan Penuh Kasih Sayang
Di hadapan orang tua yang menua, seorang anak dituntut untuk tawadhu (rendah hati) mutlak karena landasan cinta dan kasih sayang, bukan karena sekadar takut atau menginginkan harta warisan. Sebagai pelengkap bakti, sang anak wajib senantiasa mendoakan rahmat dan ampunan bagi keduanya.
Ancaman Bagi yang Menyia-nyiakan Orang Tua
Keberadaan orang tua yang sudah tua renta di tengah keluarga sejatinya adalah ladang pahala yang disiapkan Allah agar anak-anaknya mudah meraih surga. Mengabaikan kesempatan emas ini adalah sebuah kerugian yang teramat besar.
رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
“Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” lalu beliau ditanya; “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya).”
Sumber: HR. Shahih Muslim
Derajat: Shahih
Menjauhi Dosa Besar Durhaka (Uququl Walidain)
Sikap kasar, menelantarkan, atau memutus pemenuhan kebutuhan dasar orang tua merupakan bentuk durhaka. Islam menyejajarkan dosa ini tepat setelah dosa kesyirikan (menyekutukan Allah).
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ…
“Maukah kalian aku beritahu tentang dosa besar yang paling besar?” Kami berkata: “Tentu ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orangtua…”
Sumber: HR. Shahih Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Kesimpulan & Hikmah
Merawat orang tua yang telah lanjut usia bukanlah beban kehidupan, melainkan anugerah berupa ladang pahala terluas yang Allah hadirkan di dalam rumah. Dengan menjaga keluhuran lisan, menahan segala bentuk keluh kesah, menutupi kelemahan mereka, serta merendahkan hati dengan penuh kasih sayang, seorang anak sedang meniti anak tangga paling lurus menuju rida Allah dan surga-Nya.
FAQ: Pertanyaan Seputar Berbakti Kepada Orang Tua
Bagaimana sikap anak jika orang tua menyuruh pada perbuatan maksiat?
Di dalam syariat Islam, ketaatan mutlak hanyalah milik Allah. Apabila orang tua memerintahkan sesuatu yang melanggar syariat atau menyekutukan Allah, anak dilarang keras untuk menaatinya. Namun demikian, anak tetap diwajibkan untuk menolak dengan cara yang paling sopan dan terus mempergauli keduanya di urusan dunia dengan sikap yang penuh ihsan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 15.
Siapakah yang lebih berhak diutamakan baktinya antara ayah dan ibu?
Berdasarkan penegasan berlapis dari Rasulullah, ibu memiliki hak bakti tiga kali lipat lebih besar dibandingkan ayah. Hal ini dikarenakan pengorbanan ibu yang teramat berat saat mengandung dalam keadaan lemah bertambah-tambah, kepayahan saat melahirkan, serta kesabaran dalam menyusui dan merawat anak pada masa kecilnya. Setelah menunaikan hak ibu secara maksimal, barulah ayah menjadi prioritas berikutnya.
Bagaimana cara berbakti jika orang tua sudah meninggal dunia?
Bakti seorang anak tidak terputus dengan wafatnya orang tua. Syariat memberikan jalan kebaikan abadi melalui tiga cara utama: senantiasa mendoakan rahmat dan memintakan ampunan bagi mereka, menunaikan janji atau wasiat kebaikan yang pernah mereka buat, dan menyambung tali silaturahmi serta memuliakan teman-teman dekat kerabat orang tua semasa mereka hidup.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Riyadhussalihin.