Adab Adzan: Tuntunan Bagi Muadzin dan Pendengar Saat Panggilan Shalat Berkumandang

Adzan merupakan panggilan suci yang menandakan masuknya waktu shalat fardhu dan seruan bagi kaum muslimin untuk meraih kemenangan. Lebih dari sekadar penanda waktu, adzan memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Begitu mulianya panggilan ini, hingga syariat mengabarkan bahwa setan akan lari menjauh saat mendengarnya.

Untuk menjaga kemuliaan panggilan tersebut, syariat Islam telah menetapkan panduan adab dan etika, baik bagi muadzin yang mengumandangkannya maupun bagi kaum muslimin yang mendengarkannya. Berikut adalah tuntunan komprehensif adab adzan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ๏ทบ.

Adab Tuntunan Bagi Muadzin

1. Mengeraskan Suara Saat Mengumandangkan Adzan

Seorang muadzin sangat dianjurkan untuk mengeraskan suaranya. Suara yang lantang tidak hanya berfungsi untuk menjangkau jamaah yang jauh, tetapi juga mendatangkan persaksian dari seluruh makhluk pada hari kiamat kelak.

๐Ÿ“œ Hadits

ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ู…ูŽุฏูŽู‰ ุตูŽูˆู’ุชู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู ุฌูู†ู‘ูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูู†ู’ุณูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุดูŽู‡ูุฏูŽ ู„ูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู

“Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.”

Periwayat: Abu Sa’id Al-Khudri
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

2. Meletakkan Jari di Telinga dan Memutar Badan

Di antara sunnah saat mengumandangkan adzan adalah meletakkan dua jari di telinga dan memutar atau memalingkan wajah (ke kanan dan ke kiri) ketika melafalkan Hayya ‘alash-shalaah dan Hayya ‘alalfalaah. Hal ini dipraktikkan langsung oleh sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu di hadapan Nabi ๏ทบ.

๐Ÿ“œ Hadits

ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุจูู„ูŽุงู„ูŒ ููŽุฃูŽุฐู‘ูŽู†ูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽุฏูŽุงุฑูŽ ูููŠ ุฃูŽุฐูŽุงู†ูู‡ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุฅูุตู’ุจูŽุนูŽูŠู’ู‡ู ูููŠ ุฃูุฐูู†ูŽูŠู’ู‡ู

“Lalu Bilal keluar, kemudian mengumandangkan adzan. Ia memutar badannya saat beradzan dan meletakkan dua jarinya di kedua telinganya.”

Periwayat: Abu Juhaifah
Sumber: HR. Sunan Ibnu Majah dan Tirmidzi
Derajat: Shahih

3. Ikhlas dan Tidak Mengambil Upah dari Adzannya

Syariat sangat menganjurkan agar muadzin menjadikan tugasnya murni sebagai ibadah untuk mencari wajah Allah, tanpa menetapkan atau meminta upah tertentu atas panggilannya. Hal ini merupakan salah satu wasiat terakhir Rasulullah ๏ทบ kepada Utsman bin Abi Al-Ash.

๐Ÿ“œ Hadits

ูˆูŽุงุชู‘ูŽุฎูุฐู’ ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุฐูŽุงู†ูู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑู‹ุง

“Dan jadikanlah muadzin dari orang yang tidak mengambil upah adzannya.”

Periwayat: Utsman bin Abi Al Ash
Sumber: HR. Sunan Abu Daud dan Ibnu Majah
Derajat: Shahih

4. Menambahkan Lafazh Khusus pada Subuh dan Saat Kondisi Darurat

Seorang muadzin disyariatkan untuk menambahkan kalimat “Ash-shalaatu khairun minan-naum” (Shalat itu lebih baik daripada tidur) sebanyak dua kali pada adzan shalat Subuh. Selain itu, apabila terjadi cuaca yang sangat buruk, seperti hujan lebat atau angin kencang di malam yang dingin, muadzin disunnahkan untuk mengganti atau menambahkan lafazh “Shalluu fii buyuutikum” atau “Shalluu fir rihaal” (Shalatlah di tempat tinggal kalian) untuk memberikan keringanan kepada umat.

Adab Bagi Pendengar Adzan

1. Menirukan Lafazh yang Diucapkan Muadzin

Bagi siapa saja yang mendengarkan adzan, disunnahkan untuk diam dan menirukan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh muadzin. Pengecualian berlaku pada lafazh Hayya ‘alash-shalaah dan Hayya ‘alalfalaah, di mana pendengar disyariatkan menjawabnya dengan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah).

๐Ÿ“œ Hadits

ุฅูุฐูŽุง ุณูŽู…ูุนู’ุชูู…ู’ ุงู„ู†ู‘ูุฏูŽุงุกูŽ ููŽู‚ููˆู„ููˆุง ู…ูุซู’ู„ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู

“Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu’adzin.”

Periwayat: Abu Sa’id Al-Khudri
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Shahih

2. Membaca Shalawat dan Doa Wasilah Setelah Adzan

Setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan, pendengar dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi ๏ทบ kemudian membaca doa memohon wasilah bagi beliau. Amalan ringan ini memiliki ganjaran yang sangat besar, yaitu mendapatkan syafaat di hari kiamat.

๐Ÿ“œ Hadits

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฏู‘ูŽุนู’ูˆูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽุงู…ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู‚ูŽุงุฆูู…ูŽุฉู ุขุชู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุงู„ู’ูˆูŽุณููŠู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุถููŠู„ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงุจู’ุนูŽุซู’ู‡ู ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู‹ุง ู…ูŽุญู’ู…ููˆุฏู‹ุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูˆูŽุนูŽุฏู’ุชูŽู‡ู

“Ya Allah, Rabb Yang Memiliki seruan yang sempurna ini dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah (keutamaan). Bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang mulia sebagaimana telah Engkau janjikan.”

Periwayat: Jabir bin Abdullah
Sumber: HR. Bukhari dan Ibnu Majah
Derajat: Shahih

3. Memperbanyak Doa di Antara Adzan dan Iqamah

Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu istimewa di mana rahmat Allah turun dan doa-doa sangat mustajab (mudah dikabulkan). Karenanya, seorang muslim sangat dianjurkan untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat pada waktu tersebut.

๐Ÿ“œ Hadits

ู„ูŽุง ูŠูุฑูŽุฏู‘ู ุงู„ุฏู‘ูุนูŽุงุกู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฐูŽุงู†ู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู

“Tidaklah tertolak doa antara adzan dan iqamah.”

Periwayat: Anas bin Malik
Sumber: HR. Sunan Abu Daud dan Tirmidzi
Derajat: Shahih

4. Dilarang Keluar dari Masjid Tanpa Udzur Syar’i

Apabila seseorang telah berada di dalam masjid dan adzan telah berkumandang, ia dilarang keluar dari masjid sebelum menunaikan shalat berjamaah, kecuali jika ada kebutuhan mendesak atau udzur yang dibenarkan syariat. Sikap meninggalkan panggilan shalat ini dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

๐Ÿ“œ Hadits

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู‡ูŽุฐูŽุง ููŽู‚ูŽุฏู’ ุนูŽุตูŽู‰ ุฃูŽุจูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽุงุณูู…ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

“Orang ini (yang keluar masjid setelah adzan) telah melakukan perbuatan maksiat terhadap Abu Qasim (Rasulullah ๏ทบ).”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Muslim dan Ibnu Majah
Derajat: Shahih

Kesimpulan & Hikmah

Adzan merupakan syiar Islam yang senantiasa meninggikan asma Allah di seluruh penjuru bumi. Dengan mempraktikkan adab-adab adzanโ€”seperti kesungguhan dan keikhlasan muadzin, serta ketundukan pendengar dalam menirukan kalimat dan berdoaโ€”kita sedang menghidupkan salah satu pilar ketaatan yang membuahkan syafaat dan ampunan dosa. Adab ini juga mendidik kaum muslimin untuk disiplin, memuliakan waktu shalat, dan menyandarkan segala seruan hanya kepada Allah semata.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adzan

Bolehkah mengumandangkan adzan sebelum masuk waktu shalat?

Secara umum, adzan hanya boleh dikumandangkan setelah benar-benar masuk waktu shalat. Namun, terdapat pengecualian khusus untuk shalat Subuh. Syariat membolehkan adanya adzan pertama pada akhir malam sebelum fajar menyingsing (seperti yang dilakukan oleh sahabat Bilal) dengan tujuan untuk membangunkan orang yang tidur agar bersiap-siap dan mengingatkan orang yang sedang shalat malam agar segera menunaikan sahur atau beristirahat sejenak.

Apa keutamaan bagi seorang muadzin di akhirat kelak?

Rasulullah ๏ทบ mengabarkan keutamaan yang luar biasa bagi para muadzin. Di antaranya disebutkan dalam riwayat Muslim, bahwa muadzin adalah orang-orang yang paling panjang lehernya (paling terhormat dan tampak kemuliaannya) pada hari kiamat. Selain itu, mereka akan diampuni dosanya sejauh jangkauan suaranya, dan segala sesuatu yang mendengar suaranya akan menjadi saksi kebaikannya.

Bagaimana sikap yang benar jika mendengar adzan saat sedang sibuk membaca Al-Qur’an?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa jika seseorang sedang membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau melakukan aktivitas lainnya, sangat dianjurkan baginya untuk menghentikan sejenak bacaannya demi mendengarkan dan menjawab adzan. Menjawab adzan adalah ibadah yang terikat dengan waktu yang sempit (muaqqat), sedangkan membaca Al-Qur’an memiliki waktu yang lebih lapang, sehingga mendahulukan menjawab adzan lebih utama pada saat itu.

Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Sunan Ibnu Majah, Syarah Riyadhush Shalihin.