Ayat tentang Adab kepada Hadits: Etika Menerima dan Mengamalkan Sunnah [Praktis]

Al-Qur’an dan Hadits (Sunnah) adalah dua sumber utama syariat Islam yang tidak dapat dipisahkan. Beradab kepada hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berarti menerima, memuliakan, dan mengamalkan petunjuk beliau dengan penuh ketundukan. Etika ini merupakan barometer keimanan seorang Muslim, sebab menolak atau meremehkan sunnah sama halnya dengan meragukan wahyu yang diturunkan oleh Allah.

Ayat Al-Qur’an tentang Etika Menerima Sunnah

1. Mengembalikan Segala Perselisihan kepada Sunnah

Adab paling mendasar terhadap hadits adalah menjadikannya sebagai rujukan mutlak (hakim) saat terjadi perbedaan pendapat, sejajar dengan Al-Qur’an.

📖 Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ ﴿٥٩﴾

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Di dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan bahwa mengembalikan perkara kepada Allah dan Rasul-Nya berarti merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Keduanya memuat keputusan yang adil bagi seluruh masalah yang diperselisihkan. Barangsiapa yang tidak mengembalikan perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hakikat keimanannya patut dipertanyakan.

2. Ketaatan Mutlak pada Perintah dan Larangan Nabi

Seorang Muslim diwajibkan memiliki adab kepatuhan penuh terhadap apa pun yang dibawa oleh Rasulullah, karena ketetapan beliau pada hakikatnya adalah ketetapan dari Allah.

📖 Al-Qur’an

… وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا … ﴿٧﴾

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr: 7)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menerangkan bahwa ayat ini menuntut penerimaan total. Apa yang dihalalkan Nabi bagi kita, maka kita terima sebagai sesuatu yang halal, dan apa yang dilarang, kita tinggalkan tanpa keraguan.

3. Larangan Mendahului Ketetapan Allah dan Rasul-Nya

Mendahulukan logika, hawa nafsu, atau pendapat tokoh tertentu di atas hadits Rasulullah adalah bentuk pelanggaran adab yang sangat berat.

📖 Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ ﴿٢﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 2)

Tafsir As-Sa’di menjabarkan bahwa hakikat etika (adab) wajib terhadap Rasulullah adalah berjalan di belakang perintahnya, mengikuti sunnahnya dalam semua hal, dan tidak mengucapkan atau memerintahkan sesuatu yang menyelisihi ketetapan beliau.

Hadits Shahih tentang Mengagungkan dan Mengamalkan Sunnah

1. Sebaik-baik Petunjuk adalah Petunjuk Nabi

Sikap menghargai hadits bermula dari keyakinan bahwa tidak ada jalan hidup yang lebih sempurna dibandingkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah.

📜 Hadits

إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Periwayat: Abdullah bin Mas’ud
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

2. Ancaman bagi Orang yang Menolak Hadits

Rasulullah telah memprediksi akan datangnya suatu zaman di mana orang-orang menolak hadits dengan alasan hanya ingin berpegang pada Al-Qur’an. Beliau memberikan peringatan keras terhadap sikap yang tidak beradab ini.

📜 Hadits

يُوشِكُ الرَّجُلُ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يُحَدَّثُ بِحَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِي فَيَقُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَلَالٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ أَلَّا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ

“Hampir saja ada seorang laki-laki yang bersandar di atas dipannya, diceritakan kepadanya sebuah hadits dari haditsku, lalu dia berkata, ‘Antara kami dan kalian ada Kitabullah ‘Azza wa Jalla, apa yang kami temukan halal di dalamnya, kami halalkan, dan apa yang kami temukan haram di dalamnya, kami haramkan.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama seperti yang diharamkan Allah.”

Periwayat: Miqdam bin Ma’dikarib
Sumber: HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi
Derajat: Shahih

3. Mengamalkan Sunnah Sesuai Kemampuan

Dalam menjalankan sunnah, Rasulullah memberikan panduan yang bijaksana agar umatnya tidak merasa terbebani, namun tetap dituntut memiliki komitmen untuk menjauhi segala larangan secara mutlak.

📜 Hadits

مَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang aku perintahkan kepadamu, maka kerjakanlah (sesuai kemampuan); dan apa yang aku larang bagimu, maka tinggalkanlah.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Ibnu Majah (Muttafaq ‘alaih)
Derajat: Shahih

Penjelasan Ulama: Syarat Penerimaan terhadap Hadits

Syaikh Al-Utsaimin dalam pemaparannya menegaskan bahwa seseorang tidak mungkin memiliki keimanan yang sempurna kecuali dengan memenuhi tiga syarat utama saat berhadapan dengan keputusan Rasulullah (hadits):

  1. Menjadikan Nabi sebagai Hakim: Dalam setiap permasalahan hidup dan agama, sunnah beliau harus menjadi rujukan utama penyelesaian.
  2. Tidak Ada Keberatan dalam Dada: Tidak boleh ada rasa sesak, penolakan batin, atau rasa tidak suka terhadap hukum dan petunjuk yang telah disampaikan melalui hadits yang shahih.
  3. Menerima dengan Ketundukan Sempurna: Mengamalkan petunjuk tersebut dengan kerelaan hati tanpa mencari-cari celah untuk menghindarinya.

Beliau juga memperingatkan bahwa klaim “kami hanya menerima Al-Qur’an dan menolak Sunnah” adalah kebohongan yang nyata. Sebab, Al-Qur’an itu sendiri secara tegas memerintahkan umat Islam untuk menaati Rasulullah. Menolak sunnah berarti menolak perintah Al-Qur’an itu sendiri.

Kesimpulan & Hikmah

Memiliki adab terhadap hadits bukan sekadar menghafal teksnya, melainkan mewujudkan ketundukan mutlak terhadap segala ajaran Rasulullah. Sikap mengedepankan hawa nafsu, logika semata, atau kefanatikan golongan di atas nash hadits yang shahih adalah bentuk kelemahan adab yang dapat merusak kualitas keimanan. Dengan menggigit kuat sunnah Rasulullah, mempelajari, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim akan terhindar dari kesesatan dan meraih keselamatan yang dijanjikan.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab kepada Hadits

1. Bolehkah kita menolak hadits shahih dengan alasan hanya ingin berpegang pada Al-Qur’an?

Sangat dilarang dan berbahaya bagi keimanan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Miqdam bin Ma’dikarib, Nabi Muhammad telah memperingatkan akan datangnya orang-orang yang bersikap demikian. Ulama menegaskan bahwa apa yang diharamkan atau diwajibkan oleh Rasulullah melalui haditsnya kedudukannya sama dengan ketetapan Allah, karena Nabi berbicara berdasarkan wahyu.

2. Bagaimana cara kita menjadikan Rasulullah sebagai hakim padahal beliau telah wafat?

Di dalam Tafsir As-Sa’di Surat An-Nisa ayat 59 dijelaskan, cara kembali (berhakim) kepada Rasulullah setelah beliau wafat adalah dengan kembali kepada sunnah (hadits) beliau yang shahih. Setiap perbedaan pendapat harus diukur dan ditimbang menggunakan petunjuk yang ditinggalkan di dalam kitab-kitab hadits yang valid.

3. Apa maksud sabda Nabi “gigitlah sunnahku dengan gigi geraham”?

Maksud dari “menggigit dengan gigi geraham” (sebagaimana disebutkan dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah) adalah kiasan tentang wajibnya berpegang teguh dan sangat kuat pada ajaran Nabi. Ulama menjelaskan bahwa memegang dengan gigi geraham lebih kuat daripada memegang dengan tangan. Hal ini mengisyaratkan perintah untuk mempertahankan sunnah dengan maksimal, terutama di zaman ketika banyak muncul hal-hal baru (bid’ah) dalam urusan agama.

Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Sunan Ibnu Majah, Shahih Sunan Tirmidzi, Syarah Riyadhussalihin (Karya Syaikh Al-Utsaimin).