Adab Membalas Pesan dengan Baik: Etika Mengetik Kata-Kata yang Menyejukkan di Gadget

Berkomunikasi melalui tulisan atau pesan singkat di gawai (gadget) telah menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pandangan syariat Islam, setiap kata yang diketik dan dikirimkan kepada orang lain sejatinya memiliki kedudukan, adab, dan pertanggungjawaban yang sama persis dengan ucapan yang keluar dari lisan.

Pesan Tertulis Berkedudukan Sebagai Ucapan Langsung

Interaksi melalui pesan teks, baik melalui aplikasi percakapan maupun surat elektronik, memiliki hukum etika yang tidak berbeda dengan komunikasi tatap muka. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam rujukan kitab Al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa dalam surat-menyurat, karena kedua pihak tidak hadir di hadapan yang lain, maka surat tersebut berperan menggantikan ucapan langsung.

Oleh karena itu, setiap adab lisan—seperti menjaga kesopanan, menghindari dusta, dan tidak menyakiti hati—berlaku sepenuhnya ketika jari-jemari kita mengetik balasan pesan di layar gawai.

Etika Mengetik Pesan: Berkata Baik atau Diam

Prinsip utama dalam membalas pesan adalah memastikan bahwa kalimat yang diketik membawa manfaat. Jika pesan tersebut hanya berisi keluh kesah, perdebatan sia-sia, atau kata-kata yang menyakitkan, maka menahan jari untuk tidak memencet tombol kirim adalah pilihan yang jauh lebih mulia.

📜 Hadits

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 5994
Derajat: Shahih

Memilih Diksi yang Menyejukkan untuk Menghindari Salah Paham

Berbeda dengan suara lisan yang memiliki intonasi, pesan teks sangat rawan disalahpahami oleh pembacanya. Karena itulah, Al-Qur’an memerintahkan kita untuk memilih perkataan yang paling baik (ahsan) guna menutup celah bagi setan yang selalu berusaha merusak hubungan persaudaraan.

📖 Al-Qur’an

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ﴿٥٣﴾

“Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (QS. Al-Isra’: 53)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setan selalu berusaha melakukan apa-apa yang bisa merusak urusan agama dan dunia para hamba. Terapi dari hal ini adalah dengan bertutur lemah-lembut dan memilih kata yang paling baik, sehingga membuat bingung setan yang ingin menyulut perselisihan di antara sesama muslim.

Membalas Salam dengan yang Lebih Baik atau Setara

Ketika seseorang memulai pesannya dengan ucapan salam (misalnya: “Assalamu’alaikum”), maka menjadi kewajiban bagi penerima pesan untuk mengetik balasan salam tersebut secara proporsional. Membalas pesan yang berisi salam hanya dengan kata “Ya” atau “Oke” tanpa menjawab salamnya terlebih dahulu adalah tindakan yang menyalahi adab.

📖 Al-Qur’an

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا ﴿٨٦﴾

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)

Penjelasan dalam rujukan tafsir dan kitab adab menegaskan bahwa jika seseorang mengirimkan pesan “Assalamu’alaikum”, maka kita wajib membalasnya minimal dengan “Wa’alaikumussalam”. Jika kita menambahkan “warahmatullah”, maka balasan ketikan tersebut dinilai jauh lebih baik dan utama di sisi Allah.

Kesimpulan & Hikmah

Di balik layar kaca gawai yang kita genggam, setiap ketikan pesan sejatinya dicatat oleh para malaikat sebagai bagian dari rekam jejak amal kita. Dengan menerapkan adab berkata baik atau diam, memilih kata-kata yang sopan, serta menjawab salam dengan sempurna, interaksi digital kita tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi duniawi, melainkan bernilai ibadah yang mempererat ukhuwah dan mendatangkan rida Allah.

FAQ: Pertanyaan Seputar Membalas Pesan

Apakah mengetik pesan yang menyakiti hati hukumnya sama dengan berbicara langsung?

Sama persis. Para ulama, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Wabil ash-Shayyib, menyatakan bahwa surat (atau pesan tertulis) adalah pengganti dari ucapan lisan secara langsung. Oleh karena itu, hukum berkata kasar, ghibah, atau berdusta melalui ketikan pesan sama dosanya dengan mengucapkannya secara lisan.

Bagaimana jika ada pesan masuk yang memancing emosi dan amarah?

Sikap terbaik adalah menahan diri dan tidak tergesa-gesa membalasnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang kali menasihatkan, “Jangan marah.” Jika membalas pesan tersebut hanya akan memperkeruh suasana dan menimbulkan perselisihan, maka memilih diam adalah penerapan terbaik dari tuntunan “berkata baik atau diam”.

Bolehkah membalas pesan yang berisi salam hanya dengan stiker atau singkatan pendek?

Berdasarkan ayat Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 86, kita diperintahkan untuk membalas penghormatan dengan yang serupa atau lebih baik. Jika seseorang secara eksplisit mengetikkan salam yang lengkap, maka sebaiknya kita juga mengetikkan balasan salam yang jelas dan utuh sebelum melanjutkan ke inti percakapan, sebagai wujud pemenuhan hak saudara sesama muslim.

Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Shahih Bukhari, Al-Wabil ash-Shayyib.