Turunnya hujan adalah salah satu bentuk kasih sayang dan rahmat Allah yang paling nyata bagi penduduk bumi. Hujan menghidupkan tanah yang tandus, menumbuhkan pepohonan, dan menyediakan air bagi seluruh makhluk bernyawa. Di balik fenomena alam ini, Islam mengajarkan bahwa waktu turunnya hujan adalah momen spiritual yang sangat berharga.
Agar hujan tidak sekadar berlalu sebagai rutinitas alam, Rasulullah ﷺ telah mencontohkan berbagai adab dan doa. Dengan mengamalkannya, seorang muslim dapat mengubah waktu turunnya air dari langit menjadi ladang pahala, rasa syukur, serta waktu yang mustajab untuk memohon kebaikan.
Panduan Adab Ketika Turun Hujan Sesuai Sunnah
1. Mensyukuri Hujan sebagai Kabar Gembira dan Rahmat
Adab pertama saat melihat awan mendung dan turunnya hujan adalah menumbuhkan rasa syukur di dalam hati. Allah menjadikan angin dan hujan sebagai rahmat yang menghidupkan bumi. Hujan bukanlah sesuatu yang pantas dikeluhkan, betapapun ia mungkin sedikit menunda rencana harian kita.
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاۤءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ﴿٥٧﴾
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf: 57)
2. Membaca Doa Saat Awal Hujan Turun
Ketika tetesan air mulai membasahi bumi, lisan seorang muslim hendaknya langsung memanjatkan doa memohon keberkahan. Rasulullah ﷺ senantiasa berdoa agar hujan yang turun membawa manfaat dan kebaikan, bukan membawa azab atau kerusakan.
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
3. Membuka Sebagian Pakaian agar Terkena Hujan
Termasuk sunnah yang mungkin jarang diketahui adalah membiarkan sebagian anggota tubuh atau pakaian kita terkena air hujan secara langsung. Hal ini dilakukan untuk mengambil keberkahan (tabarruk) dari air yang baru saja Allah turunkan dari langit.
إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ
“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah kehujanan, lalu beliau membuka bajunya sehingga badan beliau terkena hujan. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya hujan ini baru datang dan diterima dari Tuhannya’.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
4. Memperbanyak Doa Pribadi (Karena Waktu Mustajab)
Hujan adalah saat turunnya rahmat dan karunia. Karena itu, syariat mengkhabarkan bahwa waktu turunnya hujan adalah salah satu waktu di mana doa-doa sangat mustajab (mudah dikabulkan). Manfaatkanlah waktu ini untuk memohon kebaikan dunia maupun akhirat.
“Ada dua macam doa yang tidak tertolak — atau sedikit sekali akan tertolak — yaitu doa sewaktu adzan dan doa ketika peperangan dalam kondisi yang menegangkan… Dan pada waktu hujan.”
Sumber: HR. Abu Daud
Derajat: Shahih
5. Berdoa Memohon Keselamatan Jika Hujan Terlalu Lebat
Terkadang hujan turun dengan sangat deras hingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya banjir, longsor, atau rusaknya bangunan. Apabila kondisi ini terjadi, Islam tidak mengajarkan kita untuk mencela hujan, melainkan berdoa memohon agar hujan dialihkan ke tempat yang aman dan menjadi berkah di sana.
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
Di dalam kelanjutan hadits tersebut, Nabi ﷺ juga memohon agar hujan diturunkan di bukit-bukit, gunung-gunung, dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam, serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.
6. Mengucapkan Zikir Syukur Setelah Hujan Reda
Ketika hujan telah usai, seorang muslim sangat dianjurkan untuk menisbatkan nikmat air tersebut sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Mengaitkan turunnya hujan secara mutlak hanya karena fenomena rasi bintang tertentu tanpa mengingat kehendak Allah adalah sebuah bentuk kekufuran terhadap nikmat-Nya.
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
“Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya.”
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Kesimpulan & Hikmah
Hujan adalah wujud nyata dari rahmat Allah yang patut disambut dengan penuh kesyukuran dan doa. Menghidupkan adab-adab saat hujan—seperti berdoa memohon keberkahannya, mengambil tabarruk, memperbanyak permohonan hajat, hingga memuji Allah setelah reda—merupakan bukti kebergantungan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Hal ini mencegah kita dari sifat sombong dan kebiasaan mengeluh yang merugikan kelapangan hati.
FAQ: Pertanyaan Seputar Turun Hujan
Bolehkah mencela angin atau hujan jika menyebabkan aktivitas kita terganggu?
Islam sangat melarang umatnya mencela angin atau cuaca. Sebagaimana terdapat dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa angin adalah hembusan dari Allah yang dapat mendatangkan rahmat maupun azab. Oleh karena itu, kita dilarang mencelanya; sebaliknya, kita diperintahkan untuk memohon kebaikannya dan berlindung dari keburukannya.
Bagaimana hukumnya meyakini hujan turun karena ramalan bintang?
Rasulullah ﷺ memperingatkan keras hal ini melalui hadits qudsi yang panjang. Allah berfirman bahwa barangsiapa yang mengatakan “Hujan turun kepada kita karena bintang ini dan itu”, maka sejatinya ia telah kufur kepada Allah dan beriman kepada bintang. Seorang muslim wajib meyakini bahwa hujan mutlak merupakan karunia dan rahmat dari Allah semata.
Apa yang sebaiknya diucapkan saat mendengar suara guruh atau petir?
Terdapat teladan dari sahabat Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma, di mana apabila beliau mendengar suara guruh, beliau meninggalkan pembicaraannya lalu mengucapkan tasbih: “Maha Suci Allah yang guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya, dan para malaikat (juga bertasbih) karena takut kepada-Nya.” Kalimat ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 13 yang menjelaskan ketundukan fenomena alam kepada kebesaran-Nya.
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Al-Wabil ash-Shayyib.