Menjaga adab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu fondasi utama dalam keimanan seorang Muslim. Kedudukan beliau yang sangat mulia di sisi Allah mengharuskan umatnya untuk menempatkan penghormatan, ketaatan, dan keteladanan kepada beliau di atas segala manusia. Syariat Islam telah menggariskan tata krama yang agung dalam berinteraksi dengan ajaran dan sosok manusia terbaik ini.
Ayat Al-Qur’an tentang Adab kepada Rasulullah
1. Larangan Mengeraskan Suara di Hadapan Nabi
Allah Ta’ala mengajarkan adab berkomunikasi yang sangat tinggi kepada para sahabat saat berhadapan langsung dengan Rasulullah, yang esensinya juga berlaku bagi umatnya dalam mengagungkan sunnah dan hadits-hadits beliau.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ ﴿٢﴾
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat: 2)
Tafsir As-Sa’di menerangkan bahwa ayat ini merupakan adab terhadap Rasulullah ketika berbicara. Seseorang tidak diperbolehkan berbicara mendahului beliau, meninggikan suara di atas suaranya, atau bersikap kasar sebagaimana halnya mengobrol dengan sesama manusia biasa. Pelanggaran terhadap adab ini dapat berakibat pada gugurnya pahala amal tanpa disadari.
2. Larangan Memanggil Nabi dengan Nama Langsung
Berbeda dengan sapaan antarsesama manusia, Allah melarang umat Islam memanggil Nabi Muhammad hanya dengan nama aslinya demi memuliakan kedudukan beliau sebagai utusan Allah.
لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)…” (QS. An-Nur: 63)
Dalam penjelasan ulama seperti yang dinukil dari Minhajul Muslim dan Tafsir As-Sa’di, ayat ini memerintahkan umat Islam agar tidak memanggil beliau dengan ucapan “Wahai Muhammad”, melainkan dengan panggilan penuh penghormatan seperti “Wahai Rasulullah” atau “Wahai Nabi Allah”.
3. Kewajiban Menjadikan Beliau Suri Teladan
Puncak dari adab kepada Rasulullah adalah dengan mengikuti dan meniru cara hidup beliau, baik dalam ibadah maupun akhlak sehari-hari.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ﴿٢١﴾
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Meneladani Sifat dan Akhlak Mulia Nabi Muhammad
1. Akhlaknya adalah Al-Qur’an
Allah Ta’ala memuji keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad dalam Surah Al-Qalam ayat 4: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Pujian ini dijelaskan secara praktis oleh istri beliau, Bunda Aisyah.
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
Dalam Syarah Riyadhush Shalihin dijelaskan bahwa makna hadits ini adalah beliau beradab dengan adab-adab Al-Qur’an. Beliau melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Beliau ridha terhadap apa yang diridhai Al-Qur’an, dan marah terhadap apa yang dimurkai oleh Al-Qur’an.
2. Manusia yang Paling Lembut dan Pemaaf
Sebagai teladan terbaik, Rasulullah memiliki kesabaran dan kelembutan yang luar biasa bahkan kepada orang yang melayaninya setiap hari.
خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ تَرَكْتَهُ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا
“Aku melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun, (namun) beliau tidak pernah mengatakan ‘ah’ kepadaku sama sekali. Beliau tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang aku kerjakan, ‘Mengapa engkau mengerjakannya?’ Beliau (juga) tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang aku tinggalkan, ‘Mengapa engkau meninggalkannya?’ Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya.”
Sumber: HR. Tirmidzi, Muttafaq ‘alaih
Derajat: Shahih
3. Tidak Pernah Berbuat Kasar atau Menggunakan Tangan untuk Memukul
Beliau tidak pernah menggunakan kekuasaan atau kekuatan fisiknya untuk menyakiti orang lain yang berbuat salah kepada pribadi beliau, kecuali jika syariat Allah dilanggar.
مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَادِمًا وَلَا امْرَأَةً قَطُّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul dengan tangannya pelayan beliau ataupun seorang wanita pun, kecuali saat berjihad di jalan Allah.”
Sumber: HR. Muslim dan Tirmidzi
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Menjaga adab kepada Rasulullah bukanlah sekadar penghormatan simbolis, melainkan bentuk ketaatan mutlak yang diperintahkan oleh Allah. Beradab kepada beliau di masa sekarang diwujudkan dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya, membenarkan segala ucapannya, tidak mendahulukan pendapat manusia di atas hadits beliau, serta meneladani akhlak mulianya yang pemaaf, lembut, dan teguh di atas syariat. Melalui keteladanan yang bersumber dari Al-Qur’an inilah, seorang Muslim dapat mencapai kesempurnaan iman.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab kepada Rasulullah
1. Bagaimana cara kita beradab kepada Rasulullah setelah beliau wafat?
Dalam penjelasan para ulama (seperti yang terdapat dalam Minhajul Muslim), beradab kepada Nabi setelah beliau wafat dilakukan dengan menaati sunnahnya, mencintai apa yang beliau cintai, memperbanyak shalawat ketika namanya disebut, dan membenarkan segala apa yang beliau kabarkan tanpa ragu sedikit pun.
2. Apa makna teguran Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 2 tentang mengeraskan suara?
Ayat tersebut menegur para sahabat agar tidak berbicara di hadapan Nabi dengan suara keras layaknya berbicara dengan teman sebaya. Di masa sekarang, para ulama menafsirkan bahwa meninggikan suara atau mendebat hadits/sunnah Nabi dengan logika atau pendapat tokoh tertentu juga termasuk bentuk pelanggaran adab yang bisa menggugurkan pahala amal.
3. Mengapa akhlak Nabi Muhammad disebut langsung sebagai Al-Qur’an?
Siti Aisyah menyifati akhlak Nabi sebagai Al-Qur’an karena kehidupan beliau adalah cerminan praktik nyata dari seluruh isi Al-Qur’an. Segala hal yang diperintahkan dalam Al-Qur’an beliau kerjakan dengan sempurna, dan segala larangan Al-Qur’an beliau jauhi sejauh-jauhnya, sehingga beliau menjadi teladan hidup bagi umat manusia.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Tirmidzi, Minhajul Muslim, Syarah Riyadhussalihin.