Keberkahan sebuah ilmu sangat erat kaitannya dengan adab dan tata krama seorang penuntut ilmu kepada gurunya. Di dalam ajaran Islam, para ulama dan pendidik diposisikan sebagai pewaris para nabi yang memikul tanggung jawab besar untuk membimbing umat. Oleh karena itu, syariat memberikan tuntunan akhlak yang sangat luhur dalam berinteraksi dengan mereka, agar ilmu yang dipelajari dapat menyerap ke dalam hati dan membuahkan amal kebaikan di dunia maupun akhirat.
Ayat Al-Qur’an tentang Adab Menuntut Ilmu kepada Guru
1. Merendahkan Diri dan Meminta Izin untuk Belajar
Salah satu fondasi utama adab kepada guru adalah bersikap tawadhu’ (rendah hati) dan meminta izin secara baik sebelum menimba ilmu. Hal ini digambarkan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an melalui kisah pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir.
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا ﴿٦٦﴾
“Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'” (QS. Al-Kahf: 66)
Meskipun Nabi Musa adalah seorang rasul utusan Allah, beliau mencontohkan adab memohon izin dengan bahasa yang sangat santun kepada sosok yang akan memberikannya ilmu baru, menunjukkan bahwa kebesaran status seseorang tidak boleh menghalanginya untuk merendahkan hati di hadapan seorang guru.
2. Tidak Tergesa-gesa Memotong Penjelasan Pendidik
Kunci penting dalam menyerap ilmu adalah mendengarkan dengan penuh kesabaran. Allah memberikan teguran sekaligus panduan kepada Nabi Muhammad ketika menerima wahyu, yang esensinya berlaku sebagai adab mutlak bagi penuntut ilmu di hadapan gurunya.
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ﴿١١٤﴾
“Maka Mahatinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Quran sebelum wahyu-nya disampaikan (secara sempurna) kepadamu, dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS. Thaha: 114)
Di dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung etika menuntut ilmu; yaitu seorang murid tidak boleh langsung bertanya atau memotong pembicaraan sebelum guru usai memberi penjelasan. Jika ada yang tidak dipahami, pertanyaan baru boleh diajukan setelah guru selesai memaparkannya.
3. Menyimak Penjelasan Secara Utuh hingga Tuntas
Ketenangan dalam menyimak adalah bentuk penghormatan sekaligus cara terbaik agar ilmu yang masuk tidak mengalami distorsi atau salah pemahaman.
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ﴿١٦﴾ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ﴿١٧﴾ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ﴿١٨﴾ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ ﴿١٩﴾
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesung-guhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16-19)
Penjelasan ulama dalam tafsir menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan adab bagi murid agar bersabar. Mendengarkan secara perlahan dan utuh memastikan murid bisa memahami penjelasan gurunya secara benar sebelum memberikan tanggapan.
Nasihat Ulama dan Atsar Sahabat tentang Etika kepada Guru
1. Berkhidmat dan Memuliakan Kedudukan Guru
Ketinggian ilmu senantiasa berbanding lurus dengan ketawadhuan seorang murid. Dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin, disebutkan bahwa seorang pencari ilmu patut menyerahkan kendali dirinya kepada gurunya layaknya orang sakit yang memasrahkan dirinya kepada seorang dokter, serta berusaha berkhidmat semaksimal mungkin. Sebuah teladan diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; suatu ketika beliau rela memegang pijakan pelana tunggangan sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu (sebagai bentuk penghormatan) sambil berkata, “Seperti inilah kita diperintahkan untuk memperlakukan para ulama.”
2. Tata Krama Saat Berada di Majelis Ilmu
Kenyamanan seorang guru dalam menyampaikan ilmu harus dijaga oleh muridnya. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat komprehensif tentang hak seorang guru sebagaimana dinukil dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin. Beliau menasihatkan agar seorang murid mengucapkan salam khusus berlandaskan penghormatan, duduk dengan tenang di depannya, tidak menunjuk-nunjuk, tidak memberi isyarat mata yang merendahkan, serta tidak merajuk atau memaksakan pertanyaan bila sang guru sedang lelah atau enggan menjawab. Seorang murid juga dilarang keras menyebarkan rahasia gurunya dan tidak boleh menggibah (membicarakan keburukan) seseorang di hadapannya.
3. Bersabar atas Kesalahan dan Kekurangan Guru
Sebagai manusia biasa, seorang guru tidak lepas dari khilaf atau kesalahan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin mengingatkan bahwa guru adalah manusia yang tidak ma’shum (terbebas dari kesalahan). Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus menjadi orang yang paling sabar dalam menanggung kesalahan-kesalahan yang diperbuat gurunya. Apabila mendapati kekeliruan, adab yang diajarkan adalah mencari uzur, menutupi aibnya, dan mengingatkan gurunya dengan cara yang paling santun dan penuh penghormatan, bukan dengan membongkar aibnya di hadapan manusia.
Kesimpulan & Hikmah
Ilmu tidak hanya diraih dengan kecerdasan akal, tetapi lebih kuat diikat dengan kebersihan hati dan kesantunan akhlak. Adab kepada guru adalah gerbang utama menuju keberkahan ilmu. Melalui kisah kesopanan Nabi Musa, larangan tergesa-gesa dalam Al-Qur’an, hingga teladan kerendahan hati para sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib, syariat mendidik umatnya untuk memposisikan para ulama dan pendidik di tempat yang sangat mulia. Kesabaran dan penghormatan kepada mereka merupakan cerminan pengagungan seorang hamba terhadap syariat Allah.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab kepada Guru
1. Mengapa seorang murid dianjurkan sangat tawadhu’ (rendah hati) di hadapan gurunya?
Sikap tawadhu’ mutlak diperlukan karena ilmu adalah ibadah hati. Dalam rujukan Mukhtashar Minhajul Qashidin, dijelaskan bahwa murid harus menempatkan dirinya seperti orang sakit di hadapan dokter. Jika ada kesombongan, ilmu tidak akan menyerap dengan baik. Bahkan, ditegaskan bahwa kesalahan seorang guru (untuk dievaluasi dan diteliti) sering kali lebih berguna bagi pencari ilmu daripada kebenaran dari dugaan murid itu sendiri.
2. Bagaimana adab yang benar jika ingin bertanya di tengah penjelasan guru?
Berdasarkan petunjuk dari QS. Thaha ayat 114 dan QS. Al-Qiyamah ayat 16-19, serta penafsiran As-Sa’di, seorang murid dilarang keras untuk tergesa-gesa memotong penjelasan guru. Adab yang benar adalah menyimak dalam diam hingga guru tersebut menuntaskan pemaparannya. Setelah tuntas, barulah murid dipersilakan menanyakan bagian yang belum ia pahami secara jelas.
3. Apa yang harus dilakukan jika mendapati guru berbuat kesalahan?
Para ulama Ahlussunnah, termasuk penjelasan dalam Syarah Riyadhush Shalihin, menegaskan bahwa tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Seorang murid harus menjadi pihak yang paling sabar menghadapi kekurangan gurunya. Jika ada kesalahan, murid harus memaafkan, menjaga kehormatan sang guru, dan bila perlu mengingatkannya secara rahasia dengan bahasa yang sangat lembut dan sopan, bukan menjatuhkan wibawanya di depan publik.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syarah Riyadhussalihin.