Shalat berjamaah memiliki kedudukan yang sangat agung dalam syariat Islam. Ia bukan sekadar perkumpulan fisik, melainkan sarana ketaatan yang menjanjikan pahala berlipat ganda hingga dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian. Untuk meraih keutamaan paripurna tersebut, seorang muslim dituntun untuk menjaga adab-adabnya, terutama dalam kedisiplinan merapikan dan meluruskan shaf (barisan).
Berikut adalah 7 panduan praktis adab shalat berjamaah dan tata cara merapikan shaf sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ yang patut kita amalkan.
Panduan Adab Shalat Berjamaah dan Merapikan Shaf
1. Meraih Keutamaan Sejak dari Rumah
Adab shalat berjamaah sejatinya dimulai sebelum kita melangkah ke masjid. Seseorang yang menyempurnakan wudhunya di rumah lalu berjalan semata-mata untuk shalat, akan mendapatkan pengangkatan derajat dan penghapusan dosa pada setiap langkah kakinya.
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
2. Berjalan Menuju Masjid dengan Tenang
Apabila panggilan iqamah telah berkumandang, sebagian orang sering kali berlari agar tidak tertinggal rakaat bersama imam. Namun, sunnah justru mengajarkan kita untuk tetap berjalan dengan tenang dan penuh kewibawaan (sakinah).
إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ وَلَكِنْ ائْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةَ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka janganlah mendatanginya dengan berlari (terburu-buru) tetapi datangilah ia dengan berjalan dan tenanglah. Apa yang kamu dapatkan (dari rakaat shalat) maka kerjakanlah, dan apa yang tertinggal dari shalatmu maka sempurnakanlah.”
Sumber: HR. Ibnu Majah dan Bukhari
Derajat: Shahih
3. Menyempurnakan Shaf Pertama Terlebih Dahulu
Dalam menyusun barisan shalat, jamaah diwajibkan untuk mengisi dan menyempurnakan shaf yang paling depan terlebih dahulu sebelum membuat shaf baru di belakangnya. Kedisiplinan ini meniru tata cara barisan para malaikat di hadapan Allah Ta’ala.
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?” Beliau menjawab: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan berapat rapat dalam shaf.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
4. Meluruskan Shaf sebagai Bagian Kesempurnaan Shalat
Lurusnya barisan bukanlah hal yang sepele, melainkan bagian dari kesempurnaan shalat itu sendiri. Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan hal ini dan memperingatkan bahwa barisan yang bengkok atau tidak rapi dapat menyebabkan perselisihan hati di antara kaum muslimin.
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bagian dari ditegakkannya shalat.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
5. Merapatkan Celah Shaf agar Tidak Dimasuki Setan
Selain lurus, shaf juga harus rapat. Jamaah dianjurkan untuk saling mendekatkan bahu dan telapak kaki dengan saudaranya secara wajar agar tidak menyisakan celah kosong yang dapat disusupi oleh gangguan setan.
أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ
“Luruskanlah shaf-shafmu, dan sejajarkan di antara bahu-bahumu, dan tutupi celah-celah shaf itu, lunakkanlah tangan ketika berdampingan dengan saudara-saudaramu (ketika meluruskan shaf) dan jangan membiarkan celah-celah itu untuk syetan. Barangsiapa yang menyambung shaf, maka hubungannya akan disambung pula oleh Allah, dan siapa yang memutuskan shaf, maka diputuskan pula oleh Allah.”
Sumber: HR. Abu Daud
Derajat: Shahih
6. Menjadikan Imam Sebagai Panutan Utama
Dalam shalat berjamaah, makmum diwajibkan untuk mengikuti seluruh pergerakan imam tanpa mendahuluinya, membarenginya, atau terlambat jauh darinya. Kepatuhan kepada imam adalah kunci dari ketertiban shalat berjamaah.
إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا
“Dijadikannya Imam adalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihnya. Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengucapkan ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH’ maka ucapkanlah, ‘RABBANAA LAKAL HAMDU’. Jika ia sujud maka sujudlah kalian.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
7. Memahami Posisi Shaf Terbaik Laki-laki dan Wanita
Islam mengatur tata letak barisan untuk menjaga kekhusyukan dan mencegah fitnah. Terdapat perbedaan keutamaan posisi shaf antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan ketika mereka melaksanakan shalat di dalam satu masjid yang sama.
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik barisan laki-laki adalah barisan pertama dan yang paling jelek adalah barisan paling belakang. Sedangkan barisan perempuan yang baik adalah barisan paling belakang, dan barisan yang paling jelek adalah barisan yang paling depan.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Shalat berjamaah mendidik umat Islam untuk senantiasa disiplin, bersatu, dan meruntuhkan sekat-sekat perbedaan duniawi. Melalui perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaf, syariat menanamkan pesan bahwa kerapian fisik di dalam ibadah akan berdampak langsung pada kesatuan dan kelembutan hati antar sesama kaum muslimin. Mengamalkan adab-adab ini berarti kita sedang menjemput janji Allah berupa pahala yang berlipat ganda serta perlindungan dari segala kelalaian.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Shalat Berjamaah
Mengapa ada hadits yang menyebut pahala 25 derajat dan ada yang 27 derajat?
Para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara kedua riwayat hadits shahih tersebut. Perbedaan angka tersebut menunjukkan luasnya karunia Allah Ta’ala. Sebagian ulama mengarahkan bahwa pahala tersebut bisa berbeda bergantung pada tingkat kesempurnaan wudhu, kekhusyukan, atau jarak langkah seseorang menuju masjid, namun kita mengambil harapan pada angka yang lebih banyak (27 derajat) karena kemurahan Allah sangatlah luas.
Bolehkah saya berlari agar tidak tertinggal rakaat bersama imam?
Sangat tidak dianjurkan. Rasulullah ﷺ secara tegas memerintahkan kita untuk mendatangi shalat dengan berjalan biasa dan menjaga ketenangan (sakinah). Tergesa-gesa atau berlari dapat menghilangkan kekhusyukan dan membuat napas terengah-engah saat shalat. Apa pun rakaat yang Anda dapati bersama imam, ikutilah, dan sempurnakanlah rakaat yang tertinggal setelah imam mengucapkan salam.
Apakah kaum wanita diperbolehkan ikut shalat berjamaah di masjid?
Wanita diperbolehkan menghadiri shalat berjamaah di masjid selama aman dari fitnah dan memenuhi adab Islami. Salah satu syarat utama yang ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ adalah mereka tidak boleh memakai wewangian atau dupa (bukhur) yang mencolok saat keluar menuju masjid, dan shaf terbaik bagi mereka adalah yang paling belakang agar terjaga dari pandangan jamaah laki-laki.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Ibnu Majah, Syarah Riyadhush Shalihin.