Mendapat kabar duka berupa kematian atau musibah adalah ujian keimanan yang niscaya dialami oleh setiap manusia. Islam mengajarkan adab yang sangat mulia dalam merespons kesedihan agar perasaan duka tersebut tidak berujung pada dosa, melainkan menjadi ladang pahala melalui kesabaran, penyerahan diri kepada takdir Allah, serta menahan lisan dari ratapan yang dilarang.
Adab Ketika Mendengar Kabar Duka
Syariat membimbing seorang muslim untuk mengembalikan segala urusan kepada Sang Pencipta begitu musibah menimpa. Ada beberapa adab lisan dan batin yang harus segera dihadirkan.
Mengucapkan Istirja’ dan Berdoa
Langkah pertama saat mendengar kabar duka adalah menyadari sepenuhnya bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah milik Allah. Al-Qur’an memuji hamba-hamba yang segera mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) saat musibah datang.
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الاٌّمَوَالِ وَالاٌّنفُسِ وَالثَّمَرَتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّـبِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَآ أَصَـبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّـآ إِلَيْهِ رَجِعونَ ﴿١٥٦﴾
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.” (QS. Al-Baqarah: 155-156)
Kalimat ini sebaiknya disempurnakan dengan doa memohon ganti yang lebih baik, sebagaimana teladan yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena musibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya), melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.”
Sumber: HR. Shahih Muslim
Derajat: Shahih
Bersabar Sejak Hentakan Pertama
Kualitas kesabaran seseorang dinilai dari respons pertamanya saat kabar duka itu tiba. Keluh kesah di awal musibah yang kemudian disusul dengan sikap pasrah berhari-hari kemudian, akan mengurangi nilai kesabaran tersebut di sisi Allah.
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
“Sesungguhnya kesabaran yang sebenarnya adalah pada goncangan (benturan) yang pertama.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Mengingat Bahwa Segala Sesuatu Ada Ajalnya
Saat memberikan hiburan atau takziyah, ucapan yang paling baik adalah menyadarkan hati bahwa segala yang ada di dunia adalah titipan. Saat salah seorang cucu Rasulullah sedang menghadapi sakaratul maut, beliau menitipkan pesan yang sangat mendalam kepada putrinya.
إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
“Sesungguhnya milik Allah apa yang diambil-Nya dan apa yang diberi-Nya. Dan segala sesuatu di sisi-Nya sudah ditentukan ajalnya, maka bersabarlah engkau karenanya dan mohonkanlah pahala darinya.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari (dan Muslim)
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Batas Menangis dan Larangan Meratap (Niyahah)
Syariat Islam sangat memahami kodrat manusia yang memiliki rasa sedih. Oleh karena itu, Islam membedakan dengan tegas antara tangisan kasih sayang yang diperbolehkan, dengan ratapan protes yang diharamkan.
Menangis yang Wajar Adalah Rahmat
Mata yang meneteskan air mata karena rasa kehilangan adalah hal yang fitrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menangis saat memeluk cucunya yang sedang sekarat. Ketika sahabat bertanya mengenai tangisan tersebut, beliau memberikan jawaban yang indah.
هَذِهِ رَحْمَةٌ يَضَعُهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
“Ini adalah rahmat (kasih sayang) yang Allah letakkan di dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamba-hamba-Nya yang berbelas kasih.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari
Derajat: Shahih
Diharamkan Meratap dan Menyakiti Diri Sendiri
Berbeda dengan tangisan yang sunyi, niyahah (meratap) adalah perbuatan meninggikan suara, merintih, menjerit, hingga menyakiti fisik karena tidak terima dengan takdir Allah. Perbuatan ini dikategorikan sebagai sisa-sisa kebiasaan jahiliyah yang dilaknat dalam Islam.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek saku (baju) dan berseru dengan seruan jahiliyah (meratap ketika tertimpa musibah).”
Sumber: HR. Shahih Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Penjelasan ulama juga mengingatkan bahwa ratapan (niyahah) dari keluarga yang ditinggalkan berpotensi mendatangkan siksa atau beban bagi mayit di alam kuburnya, terutama jika hal tersebut merupakan tradisi yang tidak pernah ia larang semasa hidupnya.
Kesimpulan & Hikmah
Kematian dan kehilangan adalah ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Adab terbaik dalam menghadapi kabar duka adalah segera menautkan hati kepada Allah melalui kalimat istirja’, menahan lisan dari ucapan yang tidak pantas, dan bersabar demi mengharapkan pahala (ihtisab). Menangis dengan linangan air mata diperbolehkan sebagai wujud kasih sayang, namun meratap, berteriak, dan merusak barang atau menyakiti diri sangat diharamkan karena mencerminkan ketidakridaan terhadap takdir Sang Pencipta.
FAQ: Pertanyaan Seputar Kabar Duka dan Ratapan
Bolehkah menangis saat mendengar kabar duka?
Boleh, asalkan menangis secara wajar tanpa suara keras atau jeritan. Rasulullah mencontohkan menangis dengan meneteskan air mata sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang dari dalam hati, bukan sebagai bentuk protes terhadap takdir Allah.
Apa yang dimaksud dengan niyahah (meratap)?
Niyahah adalah menangisi mayit dengan suara keras, merintih, menyebut-nyebut kebaikannya secara berlebihan sambil mengeluh, menampar pipi, atau merobek pakaian. Ini adalah kebiasaan Jahiliyah yang diharamkan dan pelakunya diancam dengan hukuman keras jika tidak bertaubat.
Apa doa terbaik saat mendapat musibah?
Sikap terbaik adalah segera mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan melanjutkannya dengan doa yang diajarkan Nabi, yaitu memohon pahala atas musibah tersebut dan meminta ganti yang lebih baik kepada Allah (Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha).
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Riyadhussalihin.