Adab Menjaga Lisan: 6 Alasan Mengapa Kata-Kata Kita Harus Diatur Syariat

Lisan merupakan nikmat Allah yang sangat besar, namun sekaligus menjadi ujian terberat bagi manusia. Dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar etika sosial atau tata krama pergaulan semata, melainkan bagian dari fondasi syariat yang sangat menentukan keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat.

Agama Islam sangat memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut pemeluknya. Kesalahan dalam berbicara dapat menghancurkan ukhuwah, membatalkan pahala, hingga menyeret pelakunya ke dalam jurang kebinasaan. Berikut adalah 6 alasan mendasar mengapa kata-kata kita harus senantiasa diatur dan ditimbang oleh timbangan syariat.

Mengapa Kata-Kata Kita Harus Diatur Syariat?

1. Sebagai Tolok Ukur Kesempurnaan Iman dan Keislaman

Kualitas keimanan seseorang berbanding lurus dengan kemampuannya mengendalikan lisan. Rasulullah ﷺ menjadikan keselamatan orang lain dari gangguan lisan sebagai definisi dari seorang muslim yang sejati. Selain itu, keimanan kepada hari akhir menuntut seseorang untuk selalu menyeleksi ucapannya: apakah bernilai kebaikan ataukah lebih baik diam.

📜 Hadits

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amru, Nabi ﷺ bersabda: “Muslim yang sempurna adalah yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.”

2. Setiap Perkataan Senantiasa Dicatat oleh Malaikat

Alasan kuat mengapa lisan harus dijaga adalah adanya kesadaran (muraqabah) bahwa tidak ada satu huruf pun yang meluncur dari bibir kita yang luput dari catatan malaikat. Segala bentuk ucapan, baik yang serius maupun bercanda, akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Ta’ala.

📖 Al-Qur’an

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ﴿١٨﴾

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

3. Jalan Pembuka bagi Diperbaikinya Amal dan Ampunan Dosa

Allah ‘Azza wa Jalla mengaitkan keistiqamahan amal dan pengampunan dosa dengan “Qaulan Sadida” (perkataan yang benar dan lurus). Seseorang yang membiasakan lidahnya untuk selalu berkata jujur, lembut, dan sesuai syariat, akan mendapati kemudahan dari Allah dalam memperbaiki berbagai urusan hidupnya.

📖 Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ﴿٧٠﴾ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ﴿٧١﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

4. Adanya Jaminan Surga bagi yang Mampu Menjaganya

Menahan lidah dari ghibah, dusta, adu domba, dan perkataan sia-sia merupakan amalan yang sangat berat bagi jiwa. Oleh karena itu, syariat memberikan ganjaran yang teramat agung berupa jaminan surga bagi mereka yang mampu menundukkan syahwat lisannya.

📜 Hadits

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lidah) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku jamin baginya surga.”

Periwayat: Sahl bin Sa’d / Abu Hurairah (berbagai riwayat)
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

5. Penyebab Utama Terjerumusnya Manusia ke Neraka

Banyak manusia menganggap remeh suatu obrolan, padahal di sisi Allah perkara tersebut sangatlah besar. Satu kalimat yang diucapkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu bisa menjadi penyebab kebinasaan yang panjang.

📜 Hadits

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan kandungannya, namun ia tergelincir karenanya ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Peringatan ini sangat sejalan dengan nasihat Nabi ﷺ kepada sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu saat beliau ditanya apakah manusia akan diadzab karena perkataannya. Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: “Tidakkah orang-orang dijerumuskan ke dalam neraka dengan wajah tertiarap kecuali karena hasil panen lidah mereka?” (HR. Tirmidzi).

6. Penentu Lurus atau Bengkoknya Anggota Tubuh yang Lain

Lisan bertindak layaknya pimpinan bagi seluruh anggota fisik manusia. Apabila lisan terbiasa dengan dzikir dan ucapan yang baik, maka anggota tubuh lainnya akan mudah tunduk dalam ketaatan. Sebaliknya, lisan yang bengkok akan membawa pengaruh buruk pada perilaku sehari-hari.

📜 Hadits

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika seorang manusia berada di pagi hari, maka sesungguhnya semua anggota tubuhnya bersikap tawadhu terhadap lisan, ia berkata, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah untuk (menjaga) kami. Sesungguhnya kami tergantung padamu. Jika kamu lurus, maka kami pun menjadi lurus. Jika kamu bengkok, maka kami pun akan turut bengkok’.”

Periwayat: Abu Sa’id Al-Khudri
Sumber: HR. Tirmidzi
Derajat: Hasan

Kesimpulan & Hikmah

Bebasnya lisan tanpa batasan syariat adalah sumber dari berbagai petaka. Sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, pernah bersumpah: “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, tidak ada sesuatu pun di muka bumi yang lebih berhak untuk dipenjara lama daripada lidah.” Dengan senantiasa menimbang ucapan, menghindari perdebatan sia-sia, meninggalkan ghibah, dan memperbanyak diam jika tidak ada kebaikan yang bisa disampaikan, seorang muslim sejatinya sedang mengamankan jalannya menuju rida Allah dan surga-Nya.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Menjaga Lisan

Apakah berdiam diri (tidak berbicara sama sekali) selalu lebih baik?

Tidak selalu. Syariat memerintahkan kita untuk “berkata baik atau diam”. Jika perkataan tersebut berupa kebaikan, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, menasihati orang lain (amar ma’ruf nahi mungkar), atau membahagiakan hati sesama muslim, maka berbicara jauh lebih utama daripada diam. Diam hanya diwajibkan ketika perkataan tersebut mengandung dosa atau sia-sia tanpa manfaat.

Bagaimana batasan ghibah (menggunjing) yang dilarang dalam Islam?

Rasulullah ﷺ mendefinisikan ghibah sebagai tindakan “menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci” ketika ia tidak hadir. Bahkan jika apa yang diucapkan itu benar-benar ada pada diri orang tersebut, hal itu tetap dihitung sebagai ghibah yang haram. Adapun jika keburukan tersebut tidak ada padanya, maka dosanya menjadi lebih besar karena terhitung sebagai fitnah (tuduhan palsu).

Apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ucapan yang tidak disengaja?

Seorang muslim dituntut untuk selalu berpikir sebelum berucap. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahwa seseorang bisa saja mengucapkan suatu kalimat tanpa memikirkan kandungannya, namun kalimat itu membuatnya terjerumus ke neraka. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi) dan memperbanyak istighfar atas ketergelinciran lisan kita di masa lalu.

Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Tirmidzi, Syarah Riyadhush Shalihin, Mukhtashar Minhajul Qashidin.