Adab Menghadapi Orang Marah: Sikap Tenang Mengikuti Sunnah untuk Meredam Suasana

Amarah adalah gejolak emosi yang bersumber dari bisikan setan dan dapat merusak hubungan persaudaraan antar sesama manusia. Dalam Islam, menghadapi orang yang sedang marah tidak boleh dilakukan dengan emosi balasan, melainkan dengan ketenangan, kesabaran, dan adab sesuai tuntunan sunnah agar suasana kembali reda dan terhindar dari keburukan yang lebih besar.

Menghadapi Amarah dengan Kelembutan

Syariat Islam memberikan panduan akhlak yang sangat tinggi ketika seseorang dihadapkan pada perlakuan buruk atau emosi negatif dari orang lain. Kunci utamanya adalah tidak terpancing untuk membalas dengan keburukan yang sama.

Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Apabila ada seseorang yang marah dan berbuat buruk melalui ucapan atau tindakan, seorang muslim dianjurkan untuk membalasnya dengan sikap yang paling baik. Hal ini merupakan cara yang paling efektif untuk memadamkan api permusuhan.

📖 Al-Qur’an

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ﴿٣٤﴾

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)

Berdasarkan penjelasan dalam Tafsir As-Sa’di, apabila kita membalas perbuatan buruk orang yang sedang dikuasai amarah dengan kebaikan—seperti memaafkan, berbicara dengan lembut, atau membalas dengan senyuman—maka orang tersebut perlahan akan berubah sikap seolah-olah menjadi teman yang sangat setia dan menyayangi kita.

Berpaling dari Orang yang Sedang Emosi

Orang yang sedang marah sering kali kehilangan kendali atas akal sehatnya sehingga bertindak ceroboh. Menghadapi orang dalam kondisi seperti ini, adab terbaik adalah diam dan berpaling darinya hingga ia tenang.

📖 Al-Qur’an

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ﴿١٩٩﴾

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Para ulama menjelaskan bahwa “orang yang bodoh” dalam ayat ini bukan sekadar orang yang tidak berilmu, melainkan orang yang bertindak ceroboh dan melampaui batas akibat emosi. Melayani perdebatan dengan mereka hanya akan menyia-nyiakan waktu dan memperburuk keadaan.

Tuntunan Sunnah untuk Meredam Suasana

Selain menjaga ketenangan diri, Rasulullah juga memberikan solusi praktis berupa doa perlindungan yang dapat memutuskan campur tangan setan dalam pertengkaran.

Mengingatkan untuk Membaca Ta’awudz

Jika kita berhadapan dengan orang yang sedang marah besar, kita dianjurkan untuk mengingatkannya agar memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Hal ini pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah ketika melihat dua orang yang sedang bertengkar hebat.

📜 Hadits

إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Sesungguhnya saya mengetahui suatu kalimat yang apabila ia membacanya, niscaya kemarahannya akan hilang, sekiranya ia mengatakan; ‘A’uudzubillahi minasy syaithaanir rajiim’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).”

Periwayat: Sulaiman bin Shurad
Sumber: HR. Shahih Bukhari (dan Muslim)
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Menahan Diri Sebagai Bukti Kekuatan Sejati

Syarat utama agar kita berhasil meredakan amarah orang lain adalah dengan memastikan diri kita sendiri tidak ikut terpancing emosi. Islam memandang bahwa kekuatan manusia tidak diukur dari kemampuan fisiknya, melainkan dari kedewasaannya mengendalikan hati.

📜 Hadits

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 5649 (dan Muslim)
Derajat: Muttafaq ‘alaih

Kesimpulan & Hikmah

Menghadapi orang marah membutuhkan kelapangan dada dan kebijaksanaan. Membalas amarah dengan amarah hanya akan menyalakan api fitnah yang dihembuskan oleh setan. Sebaliknya, dengan menahan diri, bersikap lembut, berpaling dari perdebatan sia-sia, serta membentengi diri dengan ta’awudz, seorang muslim tidak hanya menyelamatkan kehormatannya sendiri, tetapi juga membantu saudaranya terlepas dari jeratan emosi yang merusak.

FAQ: Pertanyaan Seputar Menghadapi Orang Marah

Bolehkah kita membalas makian orang yang sedang marah?

Dalam Islam, seseorang diperbolehkan mengambil haknya secara adil jika disakiti. Namun, memaafkan dan membalas dengan sikap yang lebih baik adalah tindakan yang jauh lebih mulia dan disukai oleh Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Surah Fussilat ayat 34, balasan yang baik dapat mengubah permusuhan menjadi persahabatan.

Bagaimana jika orang yang marah menolak untuk dinasihati?

Jika orang tersebut sedang berada di puncak emosinya dan menolak nasihat, adab yang diajarkan adalah kita diam dan berpaling darinya sementara waktu. Menasihati orang yang akalnya sedang tertutup oleh amarah sering kali tidak bermanfaat. Tunggulah hingga ia tenang sebelum membicarakan masalah tersebut secara baik-baik.

Apa tindakan lisan pertama yang diajarkan sunnah untuk meredakan pertengkaran?

Tindakan pertama adalah mengucapkan dan mengingatkan lawan bicara untuk membaca Ta’awudz (A’udzubillahi minasy syaithaanir rajiim). Karena hakikat kemarahan adalah bara api yang dilemparkan setan ke dalam hati, maka memohon perlindungan kepada Allah adalah obat pertama untuk memadamkannya.

Sumber: Al-Qur’an, Tafsir As-Sa’di, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Syarah Riyadhussalihin.