Adzan bukan sekadar penanda masuknya waktu shalat, melainkan seruan agung yang menyimpan banyak keutamaan bagi siapa saja yang mendengarkannya. Syariat Islam telah memberikan panduan praktis mengenai adab ketika mendengar adzan, mulai dari cara menjawab setiap kalimatnya hingga doa setelahnya, yang menjanjikan syafaat serta ampunan dosa bagi seorang muslim.
Adab Menjawab Kalimat Adzan
Ketika suara adzan berkumandang, seorang muslim sangat dianjurkan untuk menghentikan sejenak aktivitasnya dan memusatkan perhatian untuk menjawab seruan tersebut. Menjawab adzan merupakan ibadah lisan yang sangat mudah namun bernilai pahala besar.
Mengucapkan Persis Seperti Muadzin
Kaidah utama dalam menjawab adzan adalah dengan menirukan persis apa yang diucapkan oleh muadzin. Hal ini merupakan perintah langsung dari Rasulullah untuk mengagungkan syiar Allah.
إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu’adzin.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 576 (dan Muslim)
Derajat: Muttafaq ‘alaih
Jawaban Khusus untuk Hayya ‘alash-Shalah dan Hayya ‘alal-Falah
Pengecualian dari kaidah menirukan ucapan muadzin adalah ketika mendengar lafaz ajakan shalat (Hayya ‘alash-shalah) dan ajakan menuju kemenangan (Hayya ‘alal-falah). Pada kedua kalimat ini, seorang pendengar adzan dituntunkan untuk merendahkan diri dan memohon pertolongan Allah.
ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“…kemudian mu’adzin berseru, ‘Marilah shalat’, dan dia membaca, ‘Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah’, kemudian mu’adzin berseru, ‘Marilah menuju kebahagiaan,’ lalu dia menjawab, ‘Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah’…”
Sumber: HR. Shahih Muslim no. 578
Derajat: Shahih
Membaca Doa Ampunan Saat Mendengar Syahadat
Terdapat keutamaan khusus ketika seorang muslim mendengar kalimat syahadat di dalam adzan. Rasulullah mengajarkan sebuah doa ringkas yang dapat menjadi asbab (sebab) bergugurannya dosa-dosa.
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ
“Barangsiapa setelah mendengar adzan mengucapkan doa, ‘Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak diibadahi selain Allah, tanpa sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rela Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama’ maka dosa-dosanya akan diampuni.”
Sumber: HR. Shahih Muslim (dan Sunan An-Nasa’i no. 678)
Derajat: Shahih
Amalan dan Doa Setelah Adzan Selesai
Setelah kalimat Laa ilaaha illallaah sebagai penutup adzan dikumandangkan, sempurnakanlah rangkaian ibadah tersebut dengan bershalawat dan memohon kedudukan mulia untuk Rasulullah.
Bershalawat kepada Nabi Muhammad
Sebelum memanjatkan doa adzan, syarat yang sangat ditekankan adalah mengirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad terlebih dahulu.
إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
“Apabila kalian mendengar mu’adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali.”
Sumber: HR. Shahih Muslim no. 577
Derajat: Shahih
Membaca Doa Wasilah untuk Rasulullah
Setelah bershalawat, bacalah doa utama setelah adzan yang berisi permohonan agar Allah menganugerahkan Al-Wasilah (kedudukan tertinggi di surga) bagi Rasulullah. Balasan dari doa ini adalah diberikannya hak syafaat pada Hari Kiamat.
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ الَّذِي وَعَدْتَهُ
“Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah janjikan.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 581
Derajat: Shahih
Keutamaan Waktu Antara Adzan dan Iqamah
Setelah menjawab adzan dan membaca doanya, manfaatkanlah rentang waktu sebelum iqamah dikumandangkan, karena waktu tersebut adalah salah satu momen paling mustajab untuk berdoa.
لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Abu Daud no. 521 (dan Tirmidzi)
Derajat: Shahih / Hasan Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Adab ketika adzan mendidik setiap muslim untuk senantiasa menyambungkan hatinya dengan Allah di tengah kesibukan duniawi. Dengan mengulang kalimat tauhid, menyadari kelemahan diri melalui ucapan Laa haula walaa quwwata illaa billah, bershalawat, memohonkan wasilah bagi Nabi, serta memaksimalkan doa menjelang iqamah, seseorang sejatinya tengah menabung ampunan, rahmat, dan kepastian meraih syafaat di akhirat kelak.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adzan
Bagaimana jawaban adzan subuh pada kalimat “Ash-shalatu khairun minan naum”?
Berdasarkan penjelasan rujukan yang ada (Syarah Riyadhussalihin), apabila muadzin mengucapkan kalimat tersebut pada adzan Subuh, maka orang yang mendengarnya disunnahkan untuk mengucapkan hal yang sama, yaitu “Ash-shalatu khairun minan naum”.
Bagaimana jika kita sedang membaca Al-Qur’an lalu terdengar adzan?
Di antara adab yang dijelaskan oleh para ulama, jika seseorang sedang membaca Al-Qur’an lalu mendengar adzan, sangat dianjurkan baginya untuk menghentikan bacaan sejenak dan fokus menjawab adzan. Setelah adzan selesai dijawab, barulah ia kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya.
Bolehkah berdoa dengan doa bebas di antara adzan dan iqamah?
Sangat dianjurkan. Waktu di antara adzan dan iqamah adalah waktu yang mustajab di mana doa tidak akan ditolak. Seorang muslim bebas memanjatkan hajatnya, dan dalam sebuah riwayat yang berstatus Hasan, Nabi Muhammad sangat menganjurkan agar seseorang memohon perlindungan dan keselamatan (al-‘afiyah) di dunia dan akhirat pada waktu tersebut.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan An-Nasa’i, Syarah Riyadhussalihin, Minhajul Muslim.