Makan sahur merupakan salah satu sunnah mulia yang sangat ditekankan oleh Rasulullah ﷺ bagi setiap muslim yang hendak berpuasa. Lebih dari sekadar rutinitas mengisi tenaga sebelum fajar menyingsing, waktu sahur menyimpan keberkahan dan nilai ibadah yang agung jika diisi dengan amalan yang benar.
Sebagai wujud ketaatan dan kasih sayang syariat kepada umatnya, terdapat beberapa adab dan panduan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ seputar makan sahur. Berikut adalah 6 panduan adab makan sahur sesuai tuntunan sunnah yang patut kita amalkan.
Panduan Adab Makan Sahur Sesuai Sunnah
1. Mengharap Keberkahan dalam Makanan Sahur
Sahur bukanlah sekadar makan biasa, melainkan perintah langsung dari Nabi Muhammad ﷺ yang dijanjikan keberkahan di dalamnya. Berkah ini mencakup kebaikan secara fisik berupa tenaga untuk berpuasa, maupun berkah spiritual berupa pahala ketaatan.
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya.”
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih
2. Berniat Menyelisihi Puasa Ahli Kitab
Di antara adab batin dalam bersahur adalah memunculkan kesadaran bahwa kita sedang mempraktikkan ibadah yang membedakan identitas kaum muslimin dari umat-umat sebelumnya. Islam mensyariatkan sahur sebagai bentuk kemudahan dan pembeda yang jelas dari puasa ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
إِنَّ فَصْلَ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ
“Sesungguhnya yang membedakan antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur.”
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih
3. Mengakhirkan Waktu Sahur hingga Menjelang Subuh
Berbeda dengan berbuka yang dianjurkan untuk dipercepat, makan sahur justru sangat disunnahkan untuk diakhirkan hingga mendekati terbit fajar (waktu subuh). Jarak ideal yang dicontohkan Rasulullah ﷺ antara selesai sahur dan mendirikan shalat adalah sekadar waktu yang cukup untuk membaca lima puluh ayat Al-Qur’an.
تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ أَوْ سِتِّينَ يَعْنِي آيَةً
“Kami pernah sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka berdiri untuk melaksanakan shalat.” Aku bertanya, “Berapa jarak antara sahur dengan shalat subuh?” Dia menjawab, “Antara lima puluh hingga enam puluh ayat.”
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih
4. Menjadikan Kurma sebagai Menu Sahur
Seorang muslim bebas menyantap hidangan sahur apa pun yang halal dan baik. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ secara khusus memuji kurma sebagai hidangan sahur yang paling utama dan penuh gizi bagi seorang mukmin.
نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Sebaik-baiknya santapan sahur orang mukmin adalah kurma.”
Sumber: HR. Abu Daud
Derajat: Shahih
5. Memperhatikan Batas Akhir Sahur (Terbit Fajar)
Waktu sahur resmi berakhir ketika fajar shadiq telah terbit. Allah Ta’ala memberikan kelonggaran untuk makan dan minum hingga garis terang fajar membelah kegelapan malam dengan jelas. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk cermat mengenali masuknya waktu subuh yang sebenarnya.
… وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ … ﴿١٨٧﴾
“…Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. Al-Baqarah: 187)
6. Tetap Sahur Walau Hanya dengan Seteguk Air
Saking besarnya keutamaan di waktu sahur, umat Islam diimbau untuk pantang meninggalkannya meskipun tidak merasa lapar. Disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dari Abu Sa’id bahwa sahur adalah makanan yang dipenuhi berkah, sehingga beliau ﷺ berpesan agar tidak meninggalkannya walau hanya dengan meminum seteguk air. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya bershalawat (memberikan rahmat dan ampunan) kepada orang-orang yang makan sahur.
Kesimpulan & Hikmah
Waktu sahur adalah momentum istimewa yang memadukan kebutuhan jasmani dengan ketaatan rohani. Melalui amalan-amalan ringan seperti mengakhirkan waktu makan, menghidangkan kurma, dan berniat menyelisihi tradisi umat sebelum Islam, kita tidak hanya membekali raga untuk berpuasa, melainkan menjemput rahmat dan keberkahan besar dari Allah ‘Azza wa Jalla yang turun di penghujung malam.
FAQ: Pertanyaan Seputar Makan Sahur
Apakah puasa tetap sah jika seseorang tertidur dan melewatkan sahur?
Puasanya tetap sah asalkan orang tersebut telah berniat (di dalam hati) pada malam harinya sebelum fajar tiba. Sahur hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dan bukan merupakan rukun atau syarat sahnya puasa. Tentu saja, meninggalkan sahur membuat seseorang kehilangan keberkahan khusus yang ada pada waktu tersebut.
Bagaimana jika sedang minum sahur lalu terdengar panggilan adzan Subuh?
Berdasarkan rujukan hadits hasan shahih dari Abu Hurairah yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, Rasulullah ﷺ memberikan keringanan yang sangat manusiawi: “Jika salah satu di antara kalian mendengar suara panggilan (adzan), sedangkan dia dalam keadaan memegang tempat (minuman/makanan), maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menuntaskan hajatnya.” Ini adalah wujud kelapangan syariat Islam.
Apa maksud sabda Nabi “adzan Bilal tidak menghalangi sahur”?
Di masa Rasulullah ﷺ, terdapat dua muadzin yang bertugas menjelang pagi, yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Bilal mengumandangkan adzan ketika hari masih malam dengan tujuan untuk membangunkan orang yang tertidur dan memberi waktu istirahat bagi yang sedang qiyamullail. Sementara waktu fajar yang menjadi tanda larangan makan ditandai dengan adzan Ibnu Ummi Maktum. Karena itu, Nabi ﷺ menginstruksikan para sahabat untuk tetap makan sahur hingga mendengar seruan adzan yang kedua (Ibnu Ummi Maktum) yang menjadi penanda masuknya waktu Subuh.
Sumber: Al-Qur’an, Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Abu Daud.