Setiap gerak-gerik Rasulullah ﷺ adalah cerminan dari kesempurnaan akhlak dan kedalaman iman, termasuk dalam hal yang tampak sederhana seperti cara beliau berjalan. Syariat Islam mengajarkan bahwa gaya berjalan seseorang dapat menunjukkan karakter dan isi hatinya, apakah ia diliputi oleh kesombongan atau dihiasi oleh ketawadhuan.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan fisik yang memadukan antara kekuatan, kewibawaan seorang pemimpin, dan ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta. Berdasarkan penjelasan para sahabat yang menyaksikan langsung keseharian beliau, berikut adalah potret adab dan cara berjalan Rasulullah ﷺ yang penuh hikmah.
Sifat dan Adab Berjalan Rasulullah ﷺ
1. Langkah Mantap dan Condong ke Depan (Seperti Menuruni Lereng)
Cara berjalan Rasulullah ﷺ mencerminkan pribadi yang penuh energi, tekad yang kuat, dan jauh dari sifat malas. Beliau mengangkat kaki dengan mantap dan memiringkan tubuh sedikit ke depan, sebuah gaya berjalan yang menunjukkan kegigihan.
لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ… إِذَا مَشَى تَكَفَّأَ تَكَفُّؤًا كَأَنَّمَا انْحَطَّ مِنْ صَبَبٍ لَمْ أَرَ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ مِثْلَهُ
“Rasulullah bukanlah seorang yang jangkung dan bukan (pula) seorang yang pendek… dan apabila beliau berjalan maka beliau (agak) condong ke depan, seolah sedang turun ke tempat yang lebih rendah. Aku tidak pernah melihat ada orang yang seperti beliau, (baik) sebelum maupun sesudahnya.”
Sumber: HR. Tirmidzi no. 3637
Derajat: Shahih
Dalam kitab Siyar A’lam An Nubala, para ulama menjelaskan bahwa makna “melangkah dengan mantap” adalah beliau mengangkat kakinya dari tanah dengan kuat, bukan seperti orang yang berjalan dengan gaya sombong dan menyeret sandalnya dengan menggeser-geser tanah.
2. Berjalan Cepat Penuh Tenaga (Seolah Bumi Dilipat)
Meskipun penuh dengan ketenangan, langkah Rasulullah ﷺ sangatlah cepat dan bertenaga. Para sahabat bahkan sering kali harus berusaha keras untuk bisa mengimbangi langkah beliau.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia menggambarkan ketangkasan fisik Nabi ﷺ dengan berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih cepat jalannya dari Rasulullah ﷺ, seakan-akan bumi dilipat untuknya. Kami bersungguh-sungguh (berjalan) sementara beliau tidak merasa kepayahan sedikit pun.” (Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah Ar-Rahiq Al-Makhtum dan Siyar A’lam An Nubala).
3. Tenang, Berwibawa, dan Tidak Menyombongkan Diri
Kecepatan langkah Rasulullah ﷺ sama sekali tidak menghilangkan wibawanya. Beliau berjalan dengan penuh ketenangan (sakinah) dan tidak membusungkan dada layaknya orang yang angkuh.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَشَى كَأَنَّهُ يَتَوَكَّأُ
“Nabi SAW jika berjalan nampak seperti orang yang tengah bersandar (tidak miring dan bergaya sombong).”
Sumber: HR. Abu Daud no. 4863
Derajat: Shahih
Hal ini sejalan dengan pujian Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an (Surat Al-Furqan ayat 63) terhadap hamba-hamba-Nya yang Maha Penyayang, yaitu mereka yang senantiasa berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati.
4. Menoleh dengan Seluruh Tubuhnya
Di antara adab fisik Rasulullah ﷺ ketika sedang berjalan dan ada yang memanggilnya adalah beliau tidak melirik hanya dengan sudut matanya. Lirikan tajam dari ujung mata sering kali merupakan pertanda keangkuhan atau ketidakpedulian.
Sahabat Ali bin Abi Thalib dan Hind bin Abi Halah memberikan kesaksian yang serupa: “Apabila menoleh, beliau menoleh dengan seluruh tubuhnya sekaligus.” Sikap ini menunjukkan perhatian yang penuh, penghormatan kepada lawan bicara, serta ketawadhuan yang mendalam.
5. Memilih Berada di Belakang Saat Safar
Kewibawaan Rasulullah ﷺ bukanlah kewibawaan raja yang minta selalu diistimewakan di depan. Saat melakukan perjalanan jauh (safar) bersama para sahabatnya, beliau justru sering mengambil posisi di bagian paling belakang rombongan.
Dijelaskan dalam kitab Ringkasan Zad Al Ma’ad, bahwa di antara petunjuk Nabi ﷺ saat safar adalah beliau senantiasa berada di bagian belakang para sahabatnya. Hal ini beliau lakukan untuk menjaga rombongan, menghalau dan membantu mereka yang lemah, serta memboncengkan sahabat yang kelelahan. Ini adalah puncak ketawadhuan dari seorang pemimpin umat.
Kesimpulan & Hikmah
Cara berjalan Rasulullah ﷺ adalah perpaduan sempurna antara rasa percaya diri yang melahirkan langkah kuat dan cepat, dengan rasa perhambaan yang melahirkan postur condong ke depan yang rendah hati. Beliau berjalan bagaikan menuruni lereng, tidak menyeret kaki, menoleh dengan seluruh tubuh, dan senantiasa melayani mereka yang tertinggal di belakang. Meneladani cara berjalan beliau berarti kita melatih fisik untuk tangkas sekaligus mendidik jiwa untuk menjauhi segala bentuk keangkuhan.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Berjalan Rasulullah ﷺ
Bagaimana gambaran fisik postur Rasulullah saat berjalan?
Berdasarkan kesaksian Ali bin Abi Thalib dan sahabat lainnya, Rasulullah ﷺ berjalan dengan sedikit condong ke depan, seolah-olah beliau sedang menuruni sebuah lereng atau tempat yang lebih rendah. Beliau mengangkat kakinya dengan mantap dari tanah dan tidak menyeretnya, yang menunjukkan kelincahan dan sikap yang jauh dari kesombongan maupun kemalasan.
Apakah benar Rasulullah berjalan dengan sangat cepat?
Ya, benar. Sahabat Abu Hurairah menuturkan bahwa langkah Rasulullah ﷺ sangat cepat hingga seakan-akan bumi dilipat untuknya. Para sahabat sering kali harus bersusah payah dan berusaha keras untuk bisa mengimbangi langkah beliau, sementara beliau sendiri sama sekali tidak terlihat kelelahan.
Mengapa Rasulullah terkadang memilih berjalan di belakang rombongan?
Posisi di belakang saat melakukan safar (perjalanan) merupakan wujud kasih sayang dan tanggung jawab beliau sebagai seorang pemimpin. Beliau berada di belakang untuk memastikan tidak ada sahabat yang tertinggal, membantu mereka yang fisik atau kendaraannya lemah, serta memberikan tumpangan kepada yang membutuhkan.
Sumber: Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Sunan Abu Daud, Sirah Nabawiyah Ar-Rahiq Al-Makhtum, Siyar A’lam An Nubala, Ringkasan Zad Al Ma’ad.