Kegiatan beribadah seorang muslim tidak berakhir begitu imam mengucapkan salam penutup shalat. Syariat Islam telah menuntunkan adab yang mulia sejak seseorang melangkahkan kaki menuju masjid hingga ia melangkah pulang kembali ke rumahnya. Adab pulang dari masjid dengan tenang, menjaga lisan untuk terus berdzikir, serta memanjatkan doa, merupakan wujud kesempurnaan ibadah dan cara menjaga keberkahan yang telah diraih di dalam rumah Allah.
Menyempurnakan Dzikir Sebelum Beranjak
Sebelum melangkah keluar dari masjid, adab yang sangat dianjurkan adalah tidak tergesa-gesa berdiri sesaat setelah shalat fardhu usai. Seseorang disunnahkan untuk berdiam sejenak di tempat duduknya, menyempurnakan rangkaian dzikir purna shalat, dan menikmati doa dari para malaikat.
وَالْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
“…dan para malaikat senantiasa mendoakan salah seorang dari kalian selama ia masih berada di tempat shalatnya: ‘Ya Allah, berilah shalawat kepadanya, Ya Allah, rahmatilah dia’, selama dia belum berhadats di dalamnya.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 1976
Derajat: Shahih
Selain dzikir, syariat juga mengatur adab agar kaum laki-laki menahan diri sejenak untuk tidak langsung keluar, demi memberikan kesempatan bagi jamaah wanita untuk keluar terlebih dahulu. Berdasarkan riwayat dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, para wanita di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera beranjak pergi setelah shalat fardhu selesai, sementara Rasulullah dan jamaah laki-laki tetap diam di tempat hingga para wanita selesai berlalu. Hal ini dilakukan demi menjaga kehormatan dan menghindari ikhtilat (berdesak-desakan) di pintu keluar.
Keutamaan Pahala Langkah Pulang
Banyak orang mengira bahwa pahala melangkahkan kaki hanya dihitung saat perjalanan pergi menuju masjid. Padahal, rahmat Allah sangat luas sehingga langkah pulang kembali ke rumah pun dihitung sebagai pahala dan peninggi derajat.
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنْ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
“Barangsiapa datang ke masjid di pagi dan sore hari, maka Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal yang baik di surga setiap kali dia berangkat ke masjid di pagi dan sore hari.”
Sumber: HR. Shahih Bukhari no. 622 (dan Muslim)
Derajat: Shahih
Dalam sebuah riwayat Shahih Muslim, sahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu menuturkan kisah tentang seorang laki-laki yang rumahnya sangat jauh dari masjid namun tidak pernah tertinggal shalat berjamaah. Ketika disarankan untuk membeli keledai agar perjalanannya lebih mudah di saat gelap atau panas terik, laki-laki tersebut menolak dengan alasan: “Aku tidak ingin rumahku di samping masjid, sebab aku ingin jalanku ke masjid dan kepulanganku ke rumah semua dicatat.” Mendengar hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya dan bersabda, “Telah Allah himpun untukmu semuanya tadi.”
Adab dan Doa Saat Melangkah Keluar
Ketika seseorang hendak melangkah keluar melewati pintu masjid, sunnah mengajarkan untuk mendahulukan kaki kiri. Bersamaan dengan itu, lisan sangat dianjurkan untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah dan memohon karunia (fadhl) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta memohon perlindungan dari godaan setan.
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, bacalah doa: ‘Allahummaftah lii abwaaba rahmatika’ (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu). Dan apabila keluar, hendaknya ia membaca doa: ‘Allahumma innii as’aluka min fadhlika’ (Ya Allah, aku meminta karunia-Mu).”
Sumber: HR. Shahih Muslim no. 1165
Derajat: Shahih
Dalam riwayat lain dari Sunan Ibnu Majah, doa keluar masjid ini disempurnakan dengan tambahan permohonan penjagaan dari tipu daya setan.
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلْيَقُلْ ا اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila salah seorang di antara kalian ingin masuk masjid, maka hendaknya dia mengucapkan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membaca doa, ‘Ya Allah, bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu’. Dan apabila ingin keluar dari masjid, maka hendaknya ia membaca doa, ‘Ya Allah, jagalah diriku dari syetan yang terkutuk’.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Ibnu Majah no. 780
Derajat: Shahih
Kesimpulan & Hikmah
Beranjak pulang dari masjid bukanlah akhir dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, melainkan sebuah masa transisi untuk kembali menjalani aktivitas duniawi dengan hati yang masih tertaut pada ibadah. Dengan berjalan tenang, bersabar membiarkan jamaah lain lewat agar tidak berdesakan, serta menutup kehadiran di masjid dengan doa memohon karunia (rezeki) dan perlindungan, seorang muslim akan membawa pulang keberkahan shalatnya. Jejak kepulangannya akan bernilai kebaikan yang menghapus dosa, dan setan pun tidak akan mampu mencuri celah untuk menyesatkannya.
FAQ: Pertanyaan Seputar Kepulangan dari Masjid
Apakah langkah kepulangan dari masjid ke rumah juga mendapatkan pahala?
Benar. Berdasarkan riwayat Shahih Muslim dari sahabat Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu, pahala langkah kaki tidak hanya dihitung saat perjalanan berangkat ke masjid, tetapi juga mencakup langkah saat kembali (pulang) menuju rumah. Allah menghimpun semua niat baik dan jejak langkah tersebut sebagai timbangan kebaikan bagi hamba-Nya.
Apa doa sunnah yang dibaca secara lengkap ketika melangkah keluar masjid?
Doa yang sangat dianjurkan adalah memulainya dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dilanjutkan dengan: “Allahumma innii as’aluka min fadhlika” (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu) dan ditambah dengan “Allahumma’shimni minasy syaithanir rajiim” (Ya Allah, jagalah diriku dari godaan setan yang terkutuk).
Mengapa saat keluar masjid kita memohon “karunia” (fadhl), bukan “rahmat”?
Di saat masuk ke dalam masjid, seseorang hendak melaksanakan ibadah shalat dan memfokuskan diri pada kehidupan akhirat, sehingga yang paling dibutuhkan adalah rahmat dan ampunan Allah. Sebaliknya, ketika keluar dari masjid, seseorang umumnya akan kembali bertebaran di muka bumi untuk bekerja, berniaga, atau mengurus keluarga. Maka yang paling tepat adalah memohon karunia (rezeki dan kebaikan duniawi) dari Allah, sebagaimana isyarat Al-Qur’an untuk mencari Fadhlullah setelah shalat ditunaikan.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Ibnu Majah.