Adab Memotong Kuku: Hari Terbaik dan Tata Cara yang Dicontohkan Ulama Praktis

Menjaga kebersihan fisik merupakan salah satu bentuk ketaatan dalam Islam. Di antara wujud kebersihan yang sangat ditekankan adalah memotong kuku. Perkara ini bukan sekadar rutinitas merawat diri, melainkan bagian dari fitrah manusia yang telah diatur tata caranya oleh syariat demi menjaga kesehatan dan keindahan.

Meskipun tampak sederhana, terdapat panduan dari hadits Nabi ﷺ serta penjelasan dari para ulama mengenai batas waktu dan tata cara pelaksanaannya. Berikut adalah adab memotong kuku sesuai dengan tuntunan sunnah.

Panduan Adab dan Tata Cara Memotong Kuku

1. Meyakininya Sebagai Bagian dari Fitrah

Langkah paling mendasar adalah meniatkan aktivitas memotong kuku sebagai upaya mengikuti sunnah para nabi. Memotong kuku termasuk dalam sunnah fitrah, yang bertujuan memperindah diri, menghilangkan kotoran yang menumpuk di bawahnya, serta menjauhkan diri dari sifat menyerupai hewan buas.

📜 Hadits

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Fitrah itu ada lima, atau ada lima dari fitrah yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis.”

Periwayat: Abu Hurairah
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

2. Mematuhi Batas Waktu Maksimal (Tidak Lebih dari 40 Hari)

Islam memberikan kelonggaran mengenai kapan seseorang harus memotong kuku. Akan tetapi, syariat memberikan batasan maksimal agar kuku dan rambut-rambut fitrah lainnya tidak dibiarkan terlalu panjang hingga menyerupai orang-orang yang tidak peduli pada kebersihan.

📜 Hadits

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Waktu yang diberikan kepada kami untuk mencukur kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, memotong bulu kemaluan adalah tidak lebih dari empat puluh malam (sehingga tidak panjang).”

Periwayat: Anas bin Malik
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

3. Hari Terbaik Memotong Kuku (Tinjauan Praktis)

Di kalangan masyarakat sering muncul pertanyaan mengenai hari terbaik untuk memotong kuku. Sejatinya, di dalam dalil-dalil yang shahih tidak terdapat kekhususan wajib untuk memotong kuku pada hari tertentu. Namun, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa cara terbaik untuk mengatur waktu agar tidak melampaui batas empat puluh hari adalah dengan menetapkan rutinitas pribadi. Misalnya, menjadikan hari Jumat pertama setiap bulan sebagai jadwal untuk memotong kuku dan merapikan fitrah lainnya, agar seseorang tidak lupa dan tenggat waktunya tetap terjaga.

4. Mendahulukan Bagian Kanan (Tayamun)

Saat memotong kuku, sangat disunnahkan untuk memulai dari tangan kanan sebelum tangan kiri, serta kaki kanan sebelum kaki kiri. Hal ini merupakan aplikasi dari kecintaan Rasulullah ﷺ yang selalu mendahulukan anggota tubuh bagian kanan dalam segala urusan kebaikan dan bersuci.

📜 Hadits

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan (dalam urusan baik) selainnya.”

Periwayat: ‘Aisyah
Sumber: HR. Bukhari
Derajat: Shahih

5. Tata Cara Urutan Jari dan Peringatan Riwayat Palsu

Mengenai urutan pasti jari mana yang harus dipotong terlebih dahulu, tidak ada hadits shahih dari Nabi ﷺ yang merincinya secara spesifik. Namun, untuk menjaga ketertiban, sebagian ulama seperti Syaikh Al-Utsaimin mencontohkan praktik memotong kuku dimulai dari tangan kanan: kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, kemudian ibu jari. Selanjutnya beralih ke tangan kiri, dimulai dari ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis, lalu kelingking.

Di sisi lain, Imam Adz-Dzahabi memberikan peringatan keras terhadap riwayat palsu (maudhu’) yang sering diklaim sebagai sunnah, yaitu anjuran yang mengharuskan memulai dari jari telunjuk karena dianggap sebagai “jari tasbih”. Beliau menegaskan bahwa dasar yang menyebutkan hal tersebut tidak memiliki hakikat yang kuat dan riwayatnya adalah palsu.

6. Memotong dengan Ukuran Sedang

Adab lainnya yang disebutkan oleh Syaikh Al-Utsaimin adalah tidak memotong kuku terlalu dalam hingga mencapai daging. Memotong dengan ukuran yang terlampau pendek dapat membahayakan jari-jemari, menimbulkan rasa sakit, hingga menyebabkan infeksi atau bisul. Potonglah dengan ukuran sedang yang penting kotoran tidak lagi menumpuk.

7. Menahan Diri Jika Hendak Berkurban

Bagi seorang muslim yang memiliki niat dan kemampuan untuk menyembelih hewan kurban, terdapat larangan khusus untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih.

📜 Hadits

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا

“Jika (telah) masuk sepuluh (hari pertama Dzulhijjah), sedangkan ia memiliki hewan kurban yang hendak dikurbankan, maka jangan sekali-kali ia mencukur rambut atau memotong kuku.”

Periwayat: Ummu Salamah
Sumber: HR. Muslim
Derajat: Shahih

Kesimpulan & Hikmah

Memotong kuku adalah ibadah ringan yang membuahkan kebersihan jasmani sekaligus meneguhkan identitas seorang muslim yang beradab. Dengan mengikuti batas maksimal empat puluh hari, mendahulukan tangan dan kaki kanan, serta menghindari takalluf (berlebih-lebihan) dengan riwayat yang palsu mengenai urutan jari, kita telah berupaya menghidupkan sunnah dengan pemahaman yang lurus dan selaras dengan fitrah.

FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Memotong Kuku

Apakah ada hari khusus yang diwajibkan untuk memotong kuku?

Tidak ada dalil shahih yang mewajibkan hari tertentu secara mutlak untuk memotong kuku. Namun, para ulama menganjurkan untuk membuat rutinitas pribadi (misalnya pada hari Jumat) sebagai langkah praktis agar seseorang tidak lupa dan tidak melampaui batas maksimal empat puluh hari yang ditetapkan oleh syariat.

Bolehkah membiarkan kuku panjang untuk alasan kecantikan?

Membiarkan kuku tumbuh panjang adalah perbuatan yang menyelisihi sunnah fitrah, karena kuku panjang berpotensi menjadi tempat menumpuknya kotoran dan menyerupai kebiasaan hewan buas. Nabi ﷺ memberikan tenggat waktu maksimal empat puluh hari, sehingga melebihinya karena alasan kecantikan sangat tidak dibenarkan.

Bagaimana jika seseorang lupa dan membiarkan kukunya lebih dari 40 hari?

Batas empat puluh malam adalah batas waktu maksimal yang ditetapkan untuk menjaga kebersihan. Apabila seseorang benar-benar lupa hingga melampaui batas waktu tersebut, hendaknya ia segera memotong kukunya saat teringat, agar dapat kembali mengikuti fitrah dan membersihkan tangannya dengan sempurna.

Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Mulakhkhas Fiqhi, Siyar A’lam An Nubala, Syarah Riyadhush Shalihin.