Islam mensyariatkan umatnya untuk pandai berterima kasih dan membalas kebaikan orang lain dengan cara yang setimpal atau bahkan lebih baik. Membalas budi bukan sekadar etika pergaulan sosial, melainkan wujud nyata dari kesempurnaan syukur seorang hamba kepada Allah Ta’ala.
Agama ini memberikan panduan yang sangat indah dan terperinci mengenai bagaimana kita harus merespons kebaikan, bantuan, atau hadiah yang diberikan oleh sesama. Berikut adalah tuntunan adab membalas kebaikan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Panduan Adab Membalas Kebaikan Sesuai Sunnah
1. Menjadikan Syukur kepada Manusia sebagai Bagian dari Syukur kepada Allah
Langkah paling mendasar dalam merespons kebaikan adalah menyadari bahwa Allah menjadikan manusia sebagai perantara turunnya rezeki atau pertolongan. Oleh karena itu, seseorang yang mengabaikan jasa saudaranya dan enggan berterima kasih, pada hakikatnya dinilai belum bersyukur secara sempurna kepada Sang Pencipta.
مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ
“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Sumber: HR. Tirmidzi no. 1954
Derajat: Shahih
2. Berusaha Membalas Kebaikan dengan yang Setimpal atau Lebih Baik
Apabila kita menerima sebuah penghormatan, bantuan, atau hadiah, syariat menuntun kita untuk berusaha membalasnya dengan pemberian yang sepadan. Prinsip membalas kebaikan dengan yang serupa atau lebih baik ini diabadikan oleh Allah Ta’ala sebagai sebuah keadilan dan keluhuran akhlak.
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا ﴿٨٦﴾
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 86)
3. Mendoakan Kebaikan Jika Tidak Mampu Membalas Secara Materi
Islam sangat memahami bahwa tidak semua orang memiliki kelapangan harta untuk membalas hadiah atau budi baik secara fisik. Jika seseorang berada dalam kondisi ini, maka untaian doa yang tulus sudah mencukupi sebagai balasan yang diakui oleh syariat.
مَنْ اسْتَعَاذَ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barangsiapa yang memohon perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah orang tersebut, dan barangsiapa yang meminta dengan nama Allah, maka berilah. Barangsiapa yang mengundangmu, maka penuhilah undangannya. Barangsiapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikan itu, dan jika kamu tidak dapat membalasnya, maka doakan orang tersebut sampai kamu merasa bahwa kamu telah membalasnya.”
Sumber: HR. Sunan Abu Daud no. 1672
Derajat: Shahih
4. Mengucapkan “Jazakallahu Khairan” sebagai Puncak Pujian
Bentuk doa spesifik yang paling diajarkan oleh Rasulullah ﷺ ketika membalas kebaikan seseorang adalah mendoakannya dengan kalimat “Jazakallahu khairan”. Doa ringkas ini memiliki makna dan ganjaran yang sangat besar di sisi Allah.
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ
“Barangsiapa diberi suatu pemberian, kemudian ia berkata kepada pelakunya, ‘Jazakallahu khairan (Semoga Allah memberi balasan yang terbaik kepadamu)’, maka ia telah menyanjung sampai puncaknya.”
Sumber: HR. Tirmidzi no. 2035
Derajat: Shahih
5. Memuji Sang Pemberi dan Tidak Menyembunyikan Kebaikannya
Sebagai bentuk rasa tahu diri, seorang muslim dianjurkan untuk tidak mengingkari kebaikan yang telah ia terima. Jika ia tidak mampu membalas dengan materi, maka hendaknya ia mengakui dan memuji sang pemberi. Menyembunyikan kebaikan orang lain karena gengsi dikategorikan sebagai sikap kufur nikmat.
مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ بِهِ فَمَنْ أَثْنَى بِهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ
“Barangsiapa yang diberikan pemberian kemudian ia menerimanya, maka hendaknya ia memberi balasan. Bagi yang tidak dapat (memberi balasan), maka hendaklah memuji si pemberi. Barangsiapa yang dapat memuji, berarti ia telah bersyukur, dan barangsiapa yang menutup-nutupinya maka ia telah kufur (tidak pandai bersyukur).”
Sumber: HR. Tirmidzi no. 2034
Derajat: Hasan
Kesimpulan & Hikmah
Adab membalas kebaikan dalam Islam mendidik jiwa untuk terbebas dari sifat kikir dan sombong. Dengan berusaha membalas budi secara materi, atau mendoakan “Jazakallahu khairan” ketika berada dalam keterbatasan, kita telah menjaga ikatan ukhuwah sekaligus menyempurnakan rasa syukur kepada Sang Pemberi Rezeki yang hakiki, yaitu Allah Ta’ala.
FAQ: Pertanyaan Seputar Membalas Kebaikan
Apakah berterima kasih kepada manusia dapat mengurangi keikhlasan tauhid kita kepada Allah?
Sama sekali tidak. Syariat justru menetapkan bahwa menghargai kebaikan manusia merupakan bukti nyata dari rasa syukur kita kepada Allah. Hal ini terwujud dengan baik asalkan di dalam hati kita tetap tertanam keyakinan (tauhid) bahwa sumber hakiki dari segala nikmat dan kemudahan itu semata-mata datang dari Allah, dan manusia hanyalah perantara yang digerakkan oleh-Nya.
Apa ucapan terbaik jika kita benar-benar tidak memiliki harta untuk membalas hadiah?
Jika seseorang tidak memiliki sarana materi untuk membalas pemberian, Rasulullah ﷺ memberikan solusi mulia, yakni dengan mendoakan orang tersebut. Secara spesifik, mengucapkan “Jazakallahu khairan” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak) telah dianggap oleh syariat sebagai bentuk balasan dan pujian yang telah mencapai tingkat kesempurnaannya.
Bagaimana hukumnya jika seseorang enggan memuji kebaikan saudaranya karena gengsi?
Tindakan menyembunyikan kebaikan orang lain dan menolak untuk mengakuinya sangat dicela dalam agama. Berdasarkan riwayat hadits dari Jabir bin Abdullah dalam Sunan At-Tirmidzi, perilaku tersebut dikategorikan sebagai bentuk kufur, yaitu sikap tidak pandai bersyukur dan mengingkari kebaikan yang telah diterima.
Sumber: Al-Qur’an, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Tirmidzi, Tafsir As Sa’di.