Hari raya Idul Adha adalah momentum penuh keberkahan yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Untuk menyambut hari yang agung ini, syariat telah menuntunkan serangkaian adab dan amalan sunnah sejak pagi hari, bahkan sebelum seseorang melangkahkan kakinya menuju tempat pelaksanaan shalat Ied. Mengamalkan adab-adab ini tidak hanya menyempurnakan ibadah, tetapi juga bernilai pahala karena menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Menahan Diri dari Makan (Berpuasa Sejenak)
Berbeda dengan Idul Fitri di mana umat Islam sangat dianjurkan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, pada hari raya Idul Adha justru disunnahkan sebaliknya. Seorang muslim dianjurkan untuk menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga ia selesai melaksanakan shalat Ied.
ููุงูู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุง ููุฎูุฑูุฌู ููููู ู ุงููููุทูุฑู ุญูุชููู ููุทูุนูู ู ููููุง ููุทูุนูู ู ููููู ู ุงููุฃูุถูุญูู ุญูุชููู ููุตูููููู
“Nabi SAW tidak keluar shalat hari raya Fitri sebelum makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Qurban sebelum shalat.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Tirmidzi no. 542
Derajat: Shahih
Berdasarkan penjelasan di dalam Minhajul Muslim, hikmah dari menunda makan ini adalah agar makanan pertama yang disantap pada hari raya kurban tersebut adalah hidangan yang berasal dari daging hewan kurban miliknya sendiri (setelah disembelih).
Mandi, Memakai Wewangian, dan Pakaian Terbaik
Hari raya adalah hari untuk menampakkan kegembiraan dan keindahan. Di antara adab persiapan sebelum berangkat shalat Ied adalah membersihkan diri secara maksimal. Disunnahkan untuk mandi, menggunakan wewangian atau parfum (khusus bagi laki-laki), serta mengenakan pakaian terbaik yang dimiliki.
Di dalam rujukan yang ada, disebutkan riwayat dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah memerintahkan para sahabat ketika melakukan shalat hari raya agar memakai pakaian terbaik yang mereka punya, menggunakan parfum terbaik yang mereka punya, sebagai bentuk pengagungan terhadap syiar agama Allah.
Mengumandangkan Takbir Sepanjang Perjalanan
Pagi hari raya Idul Adha hendaknya dihiasi dengan lantunan takbir. Sunnah bagi setiap muslim untuk bertakbir sejak keluar dari rumah menuju tempat pelaksanaan shalat (mushalla/tanah lapang). Lantunan takbir ini terus diucapkan hingga imam datang untuk memulai shalat.
Berjalan Kaki dan Menempuh Jalan yang Berbeda
Salah satu sunnah yang sangat indah namun terkadang terlupakan adalah adab berjalan menuju tempat shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan untuk berangkat dengan berjalan kaki (jika memungkinkan dan tidak ada uzur), serta membedakan rute perjalanan antara saat pergi dan saat pulang.
“Rasulullah SAW pergi shalat hari raya dengan berjalan kaki, dan beliau pulang dengan berjalan kaki.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1311
Derajat: Hasan
Selain berjalan kaki, membedakan jalan pergi dan pulang juga merupakan petunjuk Nabi yang sangat ditekankan.
ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุฃูุฎูุฐู ููููู ู ุงููุนููุฏู ููู ุทูุฑูููู ุซูู ูู ุฑูุฌูุนู ููู ุทูุฑูููู ุขุฎูุฑู
“Bahwasanya Rasulullah SAW pada hari raya melewati suatu jalan, kemudian kembali melalui jalan yang lain.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Abu Daud no. 1156 (dan Bukhari)
Derajat: Shahih
Di antara hikmah mengambil jalan yang berlainanโsebagaimana isyarat dari para ulamaโadalah agar semakin banyak tempat dan jejak bumi yang menjadi saksi amal ibadah kita pada hari kiamat kelak.
Tidak Ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Ied
Ketika seseorang telah tiba di tanah lapang tempat pelaksanaan shalat Ied, ia dianjurkan untuk langsung duduk dan bertakbir. Tidak disyariatkan untuk melaksanakan shalat sunnah apa pun (seperti tahiyatul masjid) di tanah lapang, baik sebelum shalat Ied dimulai maupun sesudahnya.
ุฃูููู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุฎูุฑูุฌู ููุตููููู ุจูููู ู ุงููุนููุฏู ููู ู ููุตูููู ููุจูููููุง ููููุง ุจูุนูุฏูููุง
“Bahwa Rasulullah SAW keluar lalu shalat hari raya bersama mereka, beliau tidak shalat (sunnah) sebelum dan sesudahnya.”
Sumber: HR. Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1307
Derajat: Shahih (Muttafaq ‘alaih)
Kesimpulan & Hikmah
Menghidupkan amalan sunnah di pagi hari raya Idul Adha adalah bentuk kesempurnaan dalam membesarkan syiar Allah. Dengan membersihkan diri (mandi dan memakai wewangian), menahan diri dari makan hingga selesai shalat, berjalan kaki dari jalur yang berbeda, hingga memenuhi perjalanan dengan gema takbir, seorang muslim tidak hanya meraih pahala, tetapi juga menciptakan suasana hari raya yang penuh ketundukan dan kegembiraan spiritual.
FAQ: Pertanyaan Seputar Adab Idul Adha
Bolehkah kita sarapan terlebih dahulu sebelum shalat Idul Adha?
Menurut sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, khusus untuk Idul Adha, sangat dianjurkan untuk menahan diri dari makan dan minum sebelum berangkat shalat. Tuntunannya adalah menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Ied, agar hidangan pertama yang dimakan pada hari itu berasal dari daging hewan kurban miliknya (jika ia berkurban).
Mengapa disunnahkan membedakan jalan saat pergi dan pulang shalat Ied?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berangkat melalui satu jalan dan pulang melalui rute yang berbeda. Di antara hikmah yang disebutkan adalah untuk memperbanyak tempat-tempat ibadah, karena setiap jejak langkah yang ditempuh menuju ketaatan akan menjadi saksi kebaikan di hari kiamat, serta untuk menampakkan syiar Islam lebih luas di tengah masyarakat.
Apakah ada shalat tahiyatul masjid jika shalat Ied diadakan di lapangan?
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lainnya, Rasulullah tidak melaksanakan shalat sunnah apa pun sebelum dan sesudah shalat Ied di lapangan (mushalla). Oleh karena itu, jika shalat diadakan di tanah lapang, seseorang dianjurkan untuk langsung duduk dan memperbanyak takbir hingga shalat dimulai.
Sumber: Shahih Bukhari, Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Sunan Abu Daud, Shahih Sunan Ibnu Majah, Bulughul Maram, Minhajul Muslim.