Adab Berdamai Setelah Berselisih: Langkah Mulia Menyambung Kembali Tali Silaturahmi

Perselisihan dan perbedaan pendapat di antara sesama manusia adalah hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Namun, Islam melarang keras umatnya untuk membiarkan permusuhan tersebut berlarut-larut, apalagi hingga memutus tali silaturahmi.

Syariat Islam memberikan panduan dan anjuran yang sangat kuat untuk segera berdamai (islah). Upaya menyambung kembali persaudaraan bukanlah tanda kekalahan, melainkan wujud keluhuran akhlak dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Berikut adalah panduan adab berdamai setelah berselisih sesuai tuntunan sunnah.

Keutamaan dan Adab Berdamai dalam Islam

1. Mengutamakan Ukhuwah dan Persaudaraan

Langkah pertama untuk berdamai adalah menyadari bahwa setiap muslim adalah saudara yang diikat oleh keimanan. Allah Ta’ala menjadikan upaya mendamaikan saudara yang berselisih sebagai sebuah kewajiban demi mengundang turunnya rahmat.

📖 Al-Qur’an

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿١٠﴾

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

2. Batas Maksimal Mendiamkan Saudara Adalah Tiga Hari

Syariat memahami sifat alamiah manusia yang terkadang membutuhkan waktu untuk meredakan emosi setelah bertikai. Oleh karena itu, Islam memberikan keringanan (rukhshah) untuk mendiamkan saudara maksimal selama tiga hari. Lebih dari itu, tindakan mendiamkan sesama muslim diharamkan.

📜 Hadits

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam, (jika bertemu) yang ini berpaling dan yang ini juga berpaling, dan sebaik-baik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.”

Periwayat: Abu Ayyub Al-Anshari
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

3. Mengambil Inisiatif Memulai Salam

Berdasarkan hadits di atas, orang yang paling mulia di sisi Allah saat terjadi perselisihan bukanlah orang yang paling kuat argumennya, melainkan orang yang mampu menekan egonya untuk menyapa dan mengucapkan salam terlebih dahulu. Memulai salam adalah kunci pembuka pintu perdamaian yang akan mencairkan kebekuan hati.

4. Menyadari Bahwa Permusuhan Menunda Ampunan Allah

Menyimpan dendam dan membiarkan perselisihan berlarut-larut memiliki konsekuensi spiritual yang sangat berat. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai!'”

Ancaman tertundanya ampunan ini seharusnya menjadi pendorong utama bagi setiap muslim untuk segera membersihkan hatinya dan memaafkan saudaranya.

5. Mendamaikan Perselisihan Lebih Utama dari Puasa Sunnah

Menjadi penengah atau pihak yang menginisiasi perdamaian (islah) di antara dua orang yang bertikai memiliki kedudukan yang luar biasa tinggi dalam Islam. Upaya ini dinilai lebih mulia daripada ibadah-ibadah sunnah secara individual.

📜 Hadits

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوا بَلَى قَالَ صَلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

“Tidakkah kalian ingin aku beritahukan sesuatu yang lebih utama derajatnya daripada puasa, shalat, dan sedekah?” Para sahabat berkata, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Mendamaikan orang yang berselisih. Sesungguhnya rusaknya hubungan orang yang berselisih adalah pemangkas (agama).”

Periwayat: Abu Darda’
Sumber: HR. Tirmidzi no. 2509
Derajat: Shahih

6. Diperbolehkannya Berbohong (Tauriyah) Demi Perdamaian

Syariat Islam sangat membenci kedustaan. Namun, demi tingginya nilai sebuah perdamaian, Islam memberikan pengecualian. Seseorang diperbolehkan menyembunyikan keburukan atau merekayasa perkataan baik (menyampaikan bahwa pihak pertama memuji pihak kedua) semata-mata demi menyatukan kembali hati yang terpisah.

📜 Hadits

لَيْسَ بِالْكَاذِبِ مَنْ أَصْلَحَ بَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ خَيْرًا أَوْ نَمَى خَيْرًا

“Tidaklah (termasuk) pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berselisih), kemudian ia mengatakan (suatu perkataan yang mengandung kebaikan) atau menyampaikan (perkataan itu untuk tujuan) kebaikan.”

Periwayat: Ummu Kultsum binti ‘Uqbah
Sumber: HR. Bukhari dan Muslim
Derajat: Muttafaq ‘alaih

7. Mengesampingkan Keegoisan dan Berlapang Dada

Perdamaian tidak akan pernah terwujud jika masing-masing pihak bersikeras menuntut haknya secara penuh. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 128: “Dan perdamaian itu lebih baik…”. Para ulama menjelaskan bahwa untuk mencapai kata damai, setiap pihak harus rela melepaskan sebagian haknya dan melawan kekikiran nafsu (keegoisan) demi kemaslahatan yang lebih besar.

Kesimpulan & Hikmah

Berdamai dan menyambung kembali tali persaudaraan adalah jalan kelapangan batin yang dicintai oleh Allah Ta’ala. Dengan mengalahkan gengsi untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, saling memaafkan, dan tidak membiarkan sengketa melebihi tiga hari, seorang mukmin sejatinya sedang menyelamatkan amalannya dari penangguhan ampunan. Mendamaikan hati yang retak adalah amal saleh yang akan menjaga keutuhan umat Islam dari kehancuran.

FAQ: Pertanyaan Seputar Berdamai dan Silaturahmi

Apakah berdosa jika kita mendiamkan saudara lebih dari 3 hari karena ia berbuat maksiat?

Para ulama menjelaskan bahwa mendiamkan (memboikot/hijrah) saudara muslim lebih dari tiga hari pada dasarnya adalah haram. Namun, diberikan pengecualian jika tindakan mendiamkan tersebut membawa kemaslahatan, yaitu dapat membuatnya sadar dan bertaubat dari maksiatnya. Apabila mendiamkannya justru membuatnya semakin jauh dari agama dan tidak membawa perbaikan, maka mendiamkannya tetap diharamkan dan kita wajib menyambung hubungan seraya terus menasihatinya dengan lembut.

Bagaimana jika kita sudah meminta maaf dan memulai salam, tetapi pihak lain tetap menolak?

Seseorang yang telah mengambil inisiatif untuk meminta maaf dan mengucapkan salam terlebih dahulu, maka ia telah terbebas dari dosa memutuskan silaturahmi. Sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan hadits-hadits terkait, jika pihak kedua tetap menolak dan berpaling, maka pihak yang menolak itulah yang akan menanggung dosa permusuhan tersebut sendirian.

Mengapa mendamaikan orang yang berselisih disebut lebih utama dari ibadah sunnah?

Rasulullah ﷺ menyebut kerusakan hubungan di antara sesama muslim sebagai “pemangkas” (Al-Haliqah). Pemangkas di sini bukanlah memangkas rambut, melainkan memangkas agama. Permusuhan memicu hasad, fitnah, ghibah, dan perpecahan umat. Oleh karena itu, menyelamatkan agama seseorang dengan cara mendamaikannya bernilai jauh lebih besar di sisi Allah dibandingkan dengan ibadah puasa atau shalat sunnah yang manfaatnya hanya terbatas untuk diri sendiri.

Sumber: Al-Qur’an, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Sunan Tirmidzi, Syarah Riyadhush Shalihin, Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam.